Skip to content

Ada Burung Apa Saja Selama Pandemi di Kampus Universitas Padjadjaran?

Pendahuluan
Efek pandemi tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan melainkan juga memiliki
dampak dan pengaruh terhadap kondisi lingkungan. Efek pandemi dianggap dapat
berdampak positif terhadap kondisi lingkungan karena semakin terbatasnya aktivitas
manusia yang berpotensi merusak lingkungan. Menurut Suryani (2020), beberapa perubahan
yang berdampak positif pada lingkungan diantaranya penurunan emisi CO2 dan NO2,
peningkatan kualitas udara dan air di perkotaan, serta terjaganya keanekaragaman hayati.
Kualitas lingkungan yang baik akan berdampak positif terhadap keanekaragaman jenis
burung. Peran habitat bagi burung bukan hanya sebagai tempat tinggal saja, tetapi habitat
juga harus berperan sebagai penyedia sumber makanan, air, dan keamanan untuk
berkembang biak. Terlepas dari kondisi habitat, aktivitas manusia juga memberikan
ancaman yang signifikan terhadap kelestarian burung di Indonesia (Prawiradilaga, 2019).
Burung hidup di lingkungan yang mengalami fluktuasi teratur dan tidak teratur, dan
populasi burung merespons perubahan dengan cara yang dapat diprediksi. Hubungan
sebab-akibat antara perubahan lingkungan dan burung bersifat langsung dan sederhana. Efek
perubahan lingkungan pada populasi burung lebih sering dipengaruhi oleh satu atau lebih
faktor perantara atau oleh banyak efek yang saling berinteraksi. Respon burung yang paling
cepat dan langsung terhadap perubahan lingkungan adalah perilaku dan fisiologis yang
melibatkan perubahan karakteristik individu.

Isi
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan teknik observasi lapangan. Adapun pengambilan
data burung menggunakan metode Line transect, yaitu pengamatan dilakukan pada jalur yang
telah ditentukan di kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor.
Berdasarkan hasil pengamatan, burung – burung yang ditemukan di kampus Universitas
Padjadjaran diantaranya: Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Cekakak Sungai
(Todiramphus chloris), Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Takur Ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala), Bondol Jawa (Lonchura
leucogastroides
), Cabe Jawa (Dicaeum trochileum), Bondol Peking (Lonchura punctulata),
Cabe Gunung (Dicaeum sanguinolentum), Madu Sriganti (Nectarinia jugularis), Cinenen
Jawa (Orthotomus sepium), Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus), Kekep Babi (Artamus
leucorynchus
), Merbah (Pycnonotus goiavier), Wiwik Uncuing (Cacomantis sepulcralis),
Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus), Caladi Ulam (Dendrocopos macei) dan Perenjak
Jawa (Prinia familiaris).
Burung yang paling sering dijumpai di Kampus Universitas Padjadjaran adalah Bondol
jawa (Lonchura leucogastroides). Bondol Jawa dapat bertahan hidup karena tipe habitat
Kampus Universitas Pdjadjaran cocok untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Cucak
kutilang (Pycnonotus aurigaster) merupakan jenis burung yang paling banyak ditemukan
setelah Bondol Jawa. Burung ini mampu berasosiasi dekat dengan manusia dan hidup
berkelompok. Sedangkan, burung yang paling sedikit ditemukan adalah Perenjak jawa
(Prinia familiaris), Cinenen jawa (Orthotomus sepium), Cabai jawa (Dicaeum trochileum),
dan Caladi ulam (Dendrocopos mace), dan Cabai gunung (Dicaeum sanguinolentum).
Burung-burung tersebut hanya ditemukan di beberapa habitat selama pengamatan hal ini
dikarenakan kebiasaan burung tersebut yang hanya singgah datang untuk beristirahat dan
mencari makan kemudian terbang kembali.
Hasil dari feeding guild menunjukkan bahwa kelompok insektivora merupakan kelompok
feeding guild tertinggi di lokasi penelitian dengan 7 spesies diantaranya Cinenen Jawa
(Orthotomus sepium), Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus), Kekep Babi (Artamus
leucorynchus
), Wiwik Uncuing (Cacomantis sepulcralis), Sepah Kecil (Pericrocotus
cinnamomeus
), Caladi Ulam (Dendrocopos macei) dan Perenjak Jawa (Prinia familiaris).
Insektivora merupakan jenis hewan yang umumnya memakan serangga (Gullan &
Cranston, 2014).
Berdasarkan data pada IUCN Red List, menunjukkan bahwa terdapat 17 spesies burung
yang termasuk dalam kategori Least Concern (LC) atau yang tergolong berisiko rendah untuk
mengalami kepunahan, diantaranya yaitu Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Cekakak
Sungai (Todiramphus chloris), Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis), Cucak Kutilang
(Pycnonotus aurigaster), Takur Ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala), Bondol Jawa
(Lonchura leucogastroides), Cabe Jawa (Dicaeum trochileum), Bondol Peking (Lonchura punctulata), Cabe Gunung (Dicaeum sanguinolentum), Madu Sriganti (Nectarinia jugularis),
Cinenen Jawa (Orthotomus sepium), Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus), Kekep Babi
(Artamus leucorynchus), Merbah (Pycnonotus goiavier), Wiwik Uncuing (Cacomantis
sepulcralis
), Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus), Caladi Ulam (Dendrocopos macei)
dan 1 spesies burung yang termasuk dalam kategori Near Threatened (NT) atau mendekati
terancam punah yaitu Perenjak Jawa (Prinia familiaris).

Kesimpulan

Dari hasil penelitian mengenai inventarisasi jenis burung pada masa pandemi yang
dilakukan di kampus Universitas Padjadjaran Sumedang, ditemukan 18 jenis burung dari 13
famili dengan total perjumpaan 116 individu. Hasil dari indeks keanekaragaman yaitu 1,861
yang termasuk kedalam kategori sedang melimpah dimana kelimpahan jenis tertinggi yaitu
Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) sebanyak 29,3%. Sedangkan, kategori feeding
guild tertinggi adalah kategori insektivora dengan jumlah 7 jenis burung. Status
perlindungan berdasarkan IUCN terdapat 115 jenis (94%) termasuk dalam kategori LC
(Least Concern) dan 1 jenis (6%) termasuk dalam kategori NT (Near Threatened).

Daftar Pustaka
Suryani, A. S. 2020. Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Lingkungan Global. Kajian
Singkat Terhadap Isu Aktual & Strategis Puslit DPR RI. 13(8): 13-18.
Prawiradilaga, D. M. 2019. Keanekaragaman dan Strategi Konservasi Burung Endemik
Indonesia. Jakarta: LIPI Press.