Skip to content

Apakah Benar Badak Putih Utara Sudah Punah Seutuhnya?

Awal Mula Muncul Isu Kepunahan Badak Putih Utara

Badak Putih Utara mulai ramai menjadi perbincangan publik karena satwa yang diperkirakan tinggal 2 ekor tersebut dikatakan mengalami kepunahan. Berawal dari unggahan akun twitter @SlemanYouthCrew yang menyatakan bahwa Badak Putih Utara resmi mengalami kepunahan. Unggahan tersebut disertai dengan foto dari National Geographic memperlihatkan seorang pria yang menyandarkan kepala pada seekor badak yang sedang tergeletak (Saptoyo, 2021). Badak Putih Utara yang memiliki nama ilmiah Ceratotherium simum cottoni merupakan hewan yang dikabarkan hampir mengalami punah karena pada tahun 2018, satwa ini hanya tersisa dua betina dan satu jantan. Namun, Badak jantan terakhir yang diberi nama Sudan dinyatakan mati pada tahun 2018, sehingga kini Badak Putih Utara hanya tersisa dua ekor betina yang Bernama Najin dan Fatu (CNN Indonesia, 2021). Setelah ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwa klaim mengenai kepunahan Badak Putih Utara tersebut tidak benar. Unggahan kematian Badak Putih Utara yang kemudian ramai diperbincangkan merupakan kematian Badak Putih Utara jantan tahun 2018 yang lalu di pusat konservasi OI Pejeta, Kenya (Novianty & Utami, 2021).

Badak Putih Utara merupakan subspecies dari Badak Putih endemic asli Afrika yang berkerabat dekat dengan Badak Putih Selatan dan termasuk golongan mamalia terbesar ketiga di dunia. Berdasarkan hasil penelitian, berat spesies ini bisa mencapai 1,6-4 ton. Selain itu, Badak Putih Utara berbeda dengan jenis badak pada umumnya, yaitu terletak pada culanya. Pada spesies ini memiliki dua cula yang dapat berkembang sebanyak 3 inci setiap tahun. Kulit satwa langkah ini bukan berwarna putih, melainkan berwarna abu-abu. Terdapat kesalahan dalam interpretasi kata ‘weit’ dalam aksen afrika bermakna lebar menjadi ‘white’ dalam bahasa Inggris berarti putih (Greeners.co, 2021). Dalam sejarahnya, Badak Putih Utara sempat diperkirakan punah pada akhir abad ke-19. Namun, pada tahun 1895 berhasil ditemukan sebagian populasi kecil di Afrika Selatan. Terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa populasi Badak Putih Utara berjumlah 50 ekor pada tahun 1979 dan 1986 (Khairally, 2021). Pada tahun 2021, jumlah populasi satwa ini berkurang drastis menjadi dua ekor. Kematian “Sudan” menjadikan populasi pejantan Badak Putih Utara resmi punah (Putri, 2020). Oleh karena itu, klaim yang mengatakan Badak Putih Utara punah seutuhnya sangat tidak benar. Badak Putih Utara punah secara fungsional, bukan punah secara seluruhnya karena masih ada dua ekor betina yang masih hidup di Kenya.

Penyebab Kepunahan Badak Putih Utara

Kepunahan Badak Putih Utara menjadi permasalahan sangat serius yang harus ditelusuri penyebabnya. Perburuan dan perdagangan ilegal menjadi faktor utama yang memicu kepunahan satwa ini. Para oknum tersebut memanfaatkan cula badak untuk dijual dan dimanfaatkan sebagai obat-obatan maupun pegangan belati (Greeners.co, 2021). Satwa yang hidup di kawasan Afrika Timur dan Afrika Tengah ini juga kerap mengalami perburuan liar sehingga terakhir kali terlihat di alam bebas sekitar tahun 2006 (Fajri, 2021). Menurut Dulal (2017), penyebab kepunahan spesies endemik Badak Putih Utara, diantaranya:  

1.    Sebaran terbatas.

Badak putih utara hanya tersebar terbatas di 5 negara sedangkan badak putih selatan tersebar di 7 negara.

2.    Regulasi lemah.

Regulasi peraturan yang lemah dari pemerintah dan kegagalan CITES dalam membatasi perdagangan.

3.    Perkembangbiakan

Badak betina hanya berkembang biak 2,5 – 3 tahun sekali dengan hasil 1 anakan.

4.    Kecelakaan

Hal-hal yang dapat membuat badak tersebut mati, di antaranya karena tenggelam, terjebak di lumpur, jatuh dari tebing, dan infeksi parasitik protozoa.

5.    Predasi manusia

Ada 3 aktivitas manusia yang dapat membuat badak punah, yaitu melakukan perburuan liar terhadap badak, kebakaran hutan, dan perang saudara di beberapa daerah sebaran terbatas sehingga badak putih menjadi terancam. 

Peran Badak Putih Utara dalam Ekosistem

Peran badak putih utara dalam ekosistem adalah sebagai spesies kunci (keystone species). Alasan mengapa badak putih menjadi spesies kunci adalah :

1.  Meningkatkan biodiversitas rerumputan

2.  Mencegah kebakaran hutan

3.  Simbiosis mutualisme dengan hewan lain, yaitu Cattle egret Bird (Bubulcus ibis) dan Cape starling (Lamprotornis nitens)

Status Kepunahan Badak putih Utara Berdasarkan Data

Beberapa waktu lalu beredar klaim mengenai badak putih utara yang sudah resmi punah setelah meninggalnya dua badak betina pada 6 Juni 2021. Namun, apakah beredarnya klaim tersebut benar adanya?

Faktanya badak putih utara tidak resmi punah, tetapi punah secara ‘fungsional’. Apa yang dimaksud dengan punah secara fungsional?

Punah fungsional diartikan sebagai suatu spesies yang beberapa anggotanya masih hidup, tetapi tidak dapat berkembang biak. Hal tersebut dapat disebabkan karena sudah tua atau keberadaan spesies tersebut hanya tersisa satu macam kelamin. Kepunahan secara fungsional terjadi pada badak putih utara dikarenakan masih terdapat 2 ekor badak putih utara yang hidup di dunia ini. Akan tetapi, kedua badak tersebut berjenis kelamin perempuan sehingga tidak bisa melakukan perkembangbiakan. Mereka tinggal di Konservasi Ol Pejeta di Kenya dan dilindungi oleh penjaga bersenjata (WWF, 2018). Meski hanya tersisa dua ekor badak putih utara betina, ilmuwan dan konservasi masih berusaha untuk menghidupkan spesies badak ini. 

Upaya-Upaya Konservasi yang Telah Dilakukan untuk Mencegah Kepunahan Badak Putih Utara

Badak putih utara tidak pernah pulih dari perburuan oleh manusia. Badak putih utara mendiami negara-negara Afrika Utara yang miskin dan belum berkembang, seperti Sudan, Chad, dan Uganda. Akibat lemahnya regulasi dan lemahnya pemerintahan terpusat, perburuan badak putih utara semakin intensif (Dulal, 2017).

Penurunan populasi badak putih utara dalam rentang tahun 1960 – 1980-an sangat intensif. Pada tahun 1960-an jumlah individu dari badak putih utara sebanyak 2360 individu, menurun secara drastis pada tahun 1970-an sehingga hanya tersisa 700 individu. Pada tahun 1980-an jumlah individu dari badak putih utara hanya tersisa <350 individu (Ol Pejeta Conservancy, 2021).

Dalam upaya melestarikan badak, CITES, pada tahun 1977, melarang perdagangan internasional semua jenis badak. Terlepas dari upaya CITES, pembunuhan ilegal dan perdagangan badak terus berlanjut.  Kegagalan CITES untuk membatasi perdagangan memunculkan peraturan perdagangan baru, seperti Resolution Conf 6.10, yang dibuat oleh PBB. Resolusi ini dibuat pada tahun 1981 yang berisi larangan penjualan atau perdagangan cula dan kulit badak secara internasional/nasional. Resolusi tersebut juga mendorong agar pemerintah memusnahkan stok cula badak. Namun, negara-negara seperti Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Namibia menentang larangan internasional atas perdagangan produk badak karena negara-negara tersebut memiliki cula badak yang dikumpulkan dengan menangkap para pemburu liar (Dulal, 2017).

Pada tahun 1984, tersisa 15 individu badak putih utara di Taman Nasional Garamba, terjadi intervensi yang menyebabkan jumlah individu badak putih utara meningkat menjadi 31 individu. Namun, situasi memburuk setelah terjadinya konflik internal dan perang saudara yang muncul di beberapa negara Afrika, populasi badak putih utara menurun secara drastis (Ol Pejeta, 2021).

Pada tahun 1996, status konservasi dari badak putih utara dinyatakan Critically Endangered. Sampai tahun 2009, dinyatakan hanya tersisa 7 individu. Jumlah individu yang tersisa dipindahkan ke Konservasi Ol Pejeta di Kenya dan dilindungi oleh penjaga bersenjata. Berbagai upaya konservasi telah dilakukan sampai akhirnya satwa dengan nama ilmiah Ceratotherium simum cottoni ini dinyatakan punah secara ‘fungsional’ sejak berita kematian Sudan sebagai “pejantan” terakhir pada tahun 2018.  Saat ini, hanya tersisa 2 individu badak putih utara betina.

Tim peneliti internasional telah bekerja selama bertahun-tahun menggunakan fertilisasi in-vitro untuk menyelamatkan eksistensi badak putih utara di alam. Teknologi fertilisasi in-vitro merupakan teknologi produksi embrio pada lingkungan buatan di luar tubuh dalam suatu sistem biakan sel (Syaiful dkk,. 2011).

Pada tahun 2019, para peneliti berhasil membuahi dua dari telur-telur badak putih utara, mereka akan menanamkan embrio yang dibuat di laboratorium ke dalam rahim anggota subspecies yang berkaitan erat dengan badak putih utara yaitu badak putih selatan. Awalnya, terdapat permasalahan yang dialami peneliti di mana para peneliti sulit membawa embrio dari kedua badak putih utara yang tersisa karena salah satu dari badak putih utara tersebut terlalu tua dan sisanya memiliki masalah Rahim yang membuatnya tidak mungkin hamil. Namun, pada akhir Agustus di tahun 2019, para peneliti berhasil memanen telur dari kedua badak betina tersebut. Pada akhirnya terbentuk dua embrio hidup yang kini telah dibekukan untuk diawetkan agar dapat dipindahkan di masa mendatang (Kompas, 2019).

Peran Mahasiswa Biologi dalam Mencegah Penurunan Populasi Satwa Liar

Menurut Direktur Jenderal WWF Internasional, penurunan populasi satwa liar menjadi indikator bahwa alam sedang terganggu dan memberikan peringatan mengenai kegagalan sistem di alam. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah penurunan populasi tersebut?

Menurut Bilhaq, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2020, mahasiswa bisa terjun untuk menyuarakan gerakan-gerakan konservasi dalam bentuk edukasi. Pandangan tersebut didukung oleh Ganis, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2019, dengan menambahkan bentuk edukasi dapat berupa konselor sebaya yang diharapkan akan menjadi role model bagi teman sebaya untuk melakukan hal serupa. Wanda, mahasiswa Biologi angkatan 2017 menambahkan bahwa dalam proses mengedukasi orang lain kita harus “memintarkan” diri sendiri terlebih dahulu dengan mencari tahu kebenaran informasi melalui bacaan-bacaan terpercaya.

Berbicara mengenai edukasi konservasi, Resty, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2020, menambahkan bahwa tidak semua orang merasakan yang namanya pendidikan sehingga ada kesulitan dalam penyampaian informasi, maka dari itu mahasiswa dapat berperan dalam penguatan penyebaran informasi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

CNN Indonesia. 2021. Fakta Badak Putih Utara, Belum Punah Hanya Tersisa Dua Ekor. URL: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210609104959-199-652045/fakta-badak-putih-utara-belum-punah-hanya-tersisa-dua-ekor (Diakses 09-07-2021, pukul 20:32 WIB)

Dulal, D. 2017. Ceratotherium simum White Rhinoceros. URL: ADW: Ceratotherium simum: INFORMATION (animaldiversity.org) (Diakses 10-07-2021, pukul 19:13 WIB)

Fajri, S. N. 2021. 5 Fakta Penting Badak Putih Utara yang Dikabarkan Punah. URL: https://akurat.co/5-fakta-penting-badak-putih-utara-yang-dikabarkan-punah (Diakses 10-07-2021, pukul 09:13 WIB)

Greeners.co. 20 Tersisa 2 Ekor di Bumi, Spesies Badak Putih Utara di Ujung Kepunahan. URL: https://www.greeners.co/flora-fauna/inilah-badak-putih-utara-satwa-langka-yang-diisukan-punah/ (Diakses 10-07-2021, pukul 11:14 WIB)

Khairally, E. T. 2021. Mengenal Badak Putih Utara yang Diisukan Punah. URL: https://travel.detik.com/travel-news/d-5600425/mengenal-badak-putih-utara-yang-diisukan-punah (Diakses 09-07-2021, pukul 21:22 WIB)

Kompas. 2019. Bayi Tabung, Upaya Peneliti Selamatkan 2 Badak Putih Utara Terakhir. https://sains.kompas.com/read/2019/09/30/070500823/bayi-tabung-upaya-peneliti-selamatkan-2-badak-putih-utara-terakhir?page=all. (Diakses 11-07-2021 pukul 17.30 WIB)

Novianty, D & Utami, L. S. 2021. Viral Soal Badak Putih Utara, Apakah Benar-Benar Punah? URL: https://www.suara.com/tekno/2021/06/08/113000/viral-soal-badak-putih-utara-apakah-benar-benar-punah?page=all (Diakses 09-07-2021, pukul 22:13 WIB)

Ol Pejeta Conservacy. 2021. Infographic Remembering Sudan.  https://olpejetaconservancy.org/uploads/assets/uploads/2018/03/NWR_Infographic.pdf. (Diakses 11-07-2021, pukul 19.00 WIB)

Putri, A. W. 2020. Krisis Spesies dan Matinya Pejantan Terakhir Badak Putih Utara. URL: https://tirto.id/krisis-spesies-dan-matinya-pejantan-terakhir-badak-putih-utara-eFKu (Diakses 09-07-2021, pukul 21:43 WIB)

Saptoyo, R. D. A. 2021. Mengenal Badak Putih Utara, Satwa yang Disebut Punah, Sisa 2 Ekor di Dunia. URL: https://www.kompas.com/tren/read/2021/06/08/203000965/mengenal-badak-putih-utara-satwa-yang-disebut-punah-sisa-2-ekor-di-dunia?page=all (Diakses 09-07-2021, pukul 20:19 WIB)

Syaiful, dkk. 2011. Pengaruh Waktu Fertilisasi dan Sistem Inkubasi yang Berbeda terhadap Tingkat Fertilisasi Sapi Lokal secara In Vitro. Jurnal Peternakan Indonesia. 13(1): 27-35.

World Wild Life. 2018. White Rhino Fact. https://www.worldwildlife.org/species/white-rhino  (Diakses pada 11-07-2021, pukul 8:15 WIB)