Skip to content

Apakah Iklim yang Makin Hangat Membuat Katak Tidak Bisa Melompat

Pengenalan Isu

Beberapa penelitian terbaru berhasil mengungkap dampak dari perubahan iklim terhadap spesies berdarah dingin, yaitu katak. Menurut hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B, menunjukkan bahwa dampak buruk dari adanya perubahan iklim yang membuat cuaca panas dan kering berpengaruh besar terhadap perubahan baik fisiologis, reproduksi, dan perilaku dari spesies katak. Studi ini dilakukan pada tiga spesies, yaitu katak ekor pantai (Ascaphus truei), katak kaki sekop (Spea intermontana), dan katak pohon pasifik (Pseudacris regilla) (Sumartiningtyas, 2021). Ketiga spesies tersebut termasuk ke dalam ordo Anura yang memiliki ciri-ciri, diantaranya pada tubuhnya memiliki empat kaki. Kaki depan memiliki empat jari dan kaki belakang memiliki lima jari dengan selaput renang yang bervariasi di setiap spesiesnya. Ordo anura termasuk hewan poikilotermik atau ektodermik yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi lingkungan (Mistar, 2003). Penelitian ini menjadi perhatian masyarakat global mengenai kondisi planet bumi yang kini semakin memanas akibat perubahan iklim.

Pengaruh perubahan iklim terhadap kemampuan meloncat katak dipengaruhi oleh terjadinya peristiwa dehidrasi berat yang mengakibatkan gangguan dalam pertukaran ion dalam sel. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan kemampuan melompat juga dapat terjadi disebabkan akibat darah katak yang mengental ketika dehidrasi, sehingga membuat jantung dan aliran darah mengalami gangguan. Penemuan mengenai katak ini tentunya sangat berpengaruh dalam menghadapi perubahan iklim di bumi. Hal ini tidak hanya bagi spesies katak, tetapi juga pada hewan “poikilotermik” lainnya yang mengandalkan kondisi lingkungan yang stabil untuk dapat mempertahankan kondisi fisik yang mendukung fungsi tubuh yang dikenal sebagai homeostasis. Beberapa hewan mampu mengubah perilaku mereka saat lingkungan berubah. Namun, hanya sedikit yang dapat mengikuti perubahan iklim (Setyowibowo, 2021)

  1. Peran Anura dalam Ekosistem
Gambar 1. Bufo sp. merupakan salah satu bagian dari ordo Anura. Foto: nhm.ac.uk

Klasifikasi

Kingdom         Animalia

Phylum            Chordata

Subphylum      Vertebrata

Class               Amphibia

Ordo                Anura

Ordo Anura merupakan salah satu ordo dalam herpetofauna yang terdiri dari kelompok katak atau kodok yang sangat mudah dikenali dengan ciri tubuh memiliki empat kaki. Kaki depan memiliki empat jari dan kaki belakang memiliki lima jari dengan selaput renang yang bervariasi di setiap spesiesnya (Mistar, 2003). Katak atau kodok merupakan hewan yang bersifat poikilotermik atau ektotermik yang suhu tubuhnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan (Juniarmi et al., 2014). Oleh karena itu, mereka memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi lingkungan.

Secara ekologis, semua kelompok amphibi termasuk anura berperan sebagai pemangsa konsumen primer dalam jaring-jaring makanan, mereka memakan jenis serangga atau hewan invertebrata lainnya (Iskandar, 1998). Selain sebagai penyusun jaring-jaring makanan, anura dijadikan sebagai bioindikator karena memiliki sifat yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, misalnya Huia masonii yang berkembang di lingkungan yang memiliki air bersih. Keberadaan katak inI memberikan tanda bahwa lingkungan tersebut berada dalam kondisi baik.

  1. Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Perilaku dan Fisiologis Anura

Apa itu perubahan iklim?

Perubahan iklim dapat diartikan sebagai perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim adalah pemanasan global. Pemanasan global bukan hanya mengakibatkan terjadinya perubahan iklim, tetapi berbagai dampak lainnya, seperti kenaikan permukaan laut, terganggunya hutan, serta ekosistem lainnya (Kusumawardhani dan Gernowo, 2015). Selain itu, perubahan iklim juga dapat berpengaruh terhadap perilaku dan fisiologis ordo Anura (katak dan atau kodok).

Katak atau kodok memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap kondisi lingkungan. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Jurnal Proceedings of the Royal Society B, perubahan iklim ternyata dapat mengakibatkan katak dehidrasi karena kehilangan sekitar 20% air dalam tubuhnya. Dehidrasi dapat menyebabkan gangguan dalam pertukaran ion yang menghambat pengangkutan nutrisi dan pembuangan limbah di jaringan. Selain itu, darah dalam tubuh katak juga akan mengental dan membuat jantung menjadi tegang sehingga aktivitas fisik menjadi melelahkan.

4. Nasib katak akibat perubahan iklim

Lalu, bagaimana nasib katak menghadapi perubahan iklim? Pemanasan yang terus terjadi akan berdampak pada perubahan iklim yang ekstrem. Hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada katak.

1)      Populasi dan keanekaragaman katak berkurang

2)      Adaptasi terhadap perubahan iklim

3)      Migrasi untuk mendapatkan habitat yang sesuai

4)      Punahnya hewan endemik

Setiap memang memiliki mekanisme bertahap hidup terhadap perubahan, seperti adaptasi dan migrasi. Hewan yang tak bermigrasi akan memilih untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Akan tetapi, tidak sedikit juga hewan yang kesulitan untuk beradaptasi akibat laju perubahan iklim yang begitu cepat. Selain itu, migrasi akibat perubahan iklim justru dapat mengurangi populasi dari hewan tersebut, contohnya seperti yang terjadi pada burung. Berdasarkan studi Horto dkk., 2019, suhu yang menghangat membuat burung bermigrasi lebih awal dan sebagian akan menempuh rute yang lebih pendek, hal ini akan berakibat pada kedatangan yang tidak sinkron dengan ketersediaan sumber pangan dan dalam jangka panjang dapat berpengaruh terhadap perubahan pertumbuhan populasi (Andriyana, 2021).

REFERENSI

Iskandar, D.T. 1998. Amfibi Jawa dan Bali (1st ed; S.N. Kartikasari, Ed). Bogor: Puslitbang Biologi-LIPI.

Juniarmi et al., 2014. Kepadatan Populasi dan Distribusi Kadal (Mabuya multifasciata. Kuhl) di Pulau-Pulau Kecil Kota Padang. Jurnal Biologi Universitas Andalas. 3(1): 51-56.

Kusumawardhani, I. D., & Gernowo, R. 2015. Analisis Perubahan Iklim Berbagai Variabilitas Curah Hujan dan Emisi Gas Metana (CH4) dengan Metode Grid Analysis and Display System (GrADS) di Kabupaten Semarang. Youngster Physics Journal , 49-54.

Mistar. 2003. Panduan Lapangan Amfibi Kawasan Ekosistem Leuser. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

Mistar. 2003. Panduan Lapangan Amfibi Kawasan Ekosistem Leuser. Perpustakaan Nasional. Jakarta.

Setyowibowo, Y. 2021. Dampak Pemanasan Global, Katak Tak Bisa Melompat Saat Tubuhnya Dehidrasi. URL: https://sains.sindonews.com/read/338974/766/dampak-pemanasan-global-katak-tak-bisa-melompat-saat-tubuhnya-dehidrasi-1613620951 (Diakses 26-11-2021, pukul 22:58 WIB)

Sumartiningtyas, H. K. N. 2021. Iklim Makin Hangat Bikin Katak Tak Mampu Melompat, Kok Bisa? URL: https://www.msn.com/id-id/berita/other/iklim-makin-hangat-bikin-katak-tak-mampu-melompat-kok-bisa/ar-BB1dTeSW (Diakses 26-11-2021, pukul 21:58 WIB)