Skip to content

ARTIKEL POPULER EXORTUS

Indonesia mempunyai tingkat keberagaman kehidupan yang sangat tinggi, walaupun luas wilayahnya hanya sekitar 1,3% dari luas bumi (Kusmana & Hikmat, 2015). Pada Seminar Nasional Exortus 4.0: Resilience, Prof. Parikesit, M.Sc., PhD, yang merupakan Guru Besar Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan Unpad, mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara ‘megadiversity’ yang tidak hanya mencakup tingkat spesies (jenis), tetapi juga pada tingkat gen dan ekosistem serta endemisitas yang tinggi. Beliau juga menambahkan bahwa pandemi COVID-19 yang sedang terjadi dapat mengancam keanekaragaman hayati akibat tekanan ekonomi, mispersepsi terhadap penyebab pandemi, eksploitasi kehati secara berlebihan, dan terabaikannya perlindungan kehati.

Analisis filogenetik mengungkapkan SARS-CoV-2 sebagai strain β-coronavirus yang baru muncul serta memiliki identitas urutan masing-masing 79,6 dan 96,2% dengan SARS-CoV-1 dan kelelawar Co-RaTG13, yang menunjukkan asal zoonosis dari kemungkinan reservoir kelelawar. Jika mengamati hal yang serupa dengan SARS dan MERS, kemungkinan keterlibatan inang perantara sebagai sumber penularan yang masuk akal terhadap manusia telah dipertimbangkan. Secara khusus, genom Pangolin-CoV (trenggiling) Guangdong sangat terkait erat dengan SARS-CoV-2, berbagi kesamaan urutan 92,4%; dengan demikian, trenggiling bisa bertanggung jawab atas kejadian zoonosis (Parolin, et al., 2021). Menurut Prof. Parikesit, M.Sc., PhD, walaupun riset genetik menunjukkan adanya kesamaan material genetik sebesar 85,5 – 92,4% yang ditemukan pada SARS-CoV-2 dengan virus yang ditemukan dalam tubuh trenggiling, temuan tentang hubungan penyebaran COVID-19 dengan krisis keanekaragaman hayati sampai saat ini masih dianggap spekulatif dan belum konklusif. Namun, para ahli sepakat bahwa sampai saat ini trenggiling masih diduga kuat sebagai inang perantara dari pandemi COVID-19.

Zoonosis adalah penyakit menular yang berpindah dari hewan bukan manusia ke manusia. Patogen zoonosis mungkin bakteri, virus atau parasit, atau mungkin melibatkan agen yang tidak konvensional dan dapat menyebar ke manusia melalui kontak langsung atau melalui makanan, air atau lingkungan (WHO, 2020). Pada Seminar Nasional, Dr. Mia Miranti Rustama, S.Si., MP, Kepala Laboratorium Mikrobiologi Terapan FMIPA Unpad, menunjukkan sebuah data dari Wageningen University & Research yang menjelaskan bahwa sekitar 75% penyakit baru yang menginfeksi manusia selama lebih dari 10 tahun terakhir berasal dari hewan. Lebih dari 150 penyakit zoonosis yang ada di dunia dan 13 penyakit zoonosis bertanggung jawab terhadap 2,2 juta kematian per tahun, termasuk influenza, tuberculosis, rabies, dll. Melalui poster riset dari Wageningen University, Dr. Mia Miranti Rustama, S.Si., MP memaparkan bahwa penyakit zoonosis pada hewan lebih efektif untuk dikontrol dan dibasmi dibandingkan penyakit zoonosis pada manusia.

Tantangan baru akibat kenormalan baru juga dialami oleh bidang konservasi satwa. Menurut drh. Wendi Prameswari dari Animal Management Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), kenormalan baru dalam kegiatan rehabilitasi satwa menyebabkan beberapa hal harus diperhatikan, yaitu: 1) Potensi Zoonosis; 2) Biosecurity & Biosafety; 3) Panduan Kerja dan Edukasi Staff; dan 4) Kehati-hatian dan Kewaspadaan dalam Bekerja. Selain itu, kendala yang harus dihadapi adalah kesehatan satwa, adaptasi dengan prosedur kerja baru, finansial, sarana dan prasaran kerja, serta pemeriksaan dan peneguhan diagnosa Covid-19 di primata. YIARI bergerak dan berfokus pada konservasi primata yang dikatakan bahwa kemungkinan besar sangat rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2, dan rentan terhadap dampaknya (Melin, et al., 2020). Hal tersebut menyebabkan YIARI mengalami beberapa tantangan dalam masa pandemi ini. Tantangan yang dialami adalah peningkatan kompetisi untuk mendapatkan sumber daya, peningkatan perburuan, dan hilangnya kesempatan untuk penelitian primata. Di sisi lain, peluang yang dimiliki adalah berkurangnya interaksi manusia dan primata, berkurangnya risiko zoonosis karena perubahan persepsi masyarakat, turunnya perdagangan satwa liar, penelitian dan konservasi, serta edukasi.

Prof. Parikesit, M.Sc., PhD memaparkan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia dihadapkan pada ketidakpastian di era new normal hingga ke masa depan, yaitu sebagai berikut:

  1. Perubahan iklim
  2. Deforestasi dan degradasi lahan
  3. Ekonomi makro dan mikro
  4. Situasi politik
  5. Konflik sosial
  6. Perubahan gaya hidup, dll.

Oleh karena itu, tindakan konservasi biodiversitas perlu untuk dilakukan segera. Prof. Parikesit M.Sc., PhD mengatakan bahwa hal yang harus dipenuhi adalah kebutuhan bukan keinginan dengan prinsip “human works with nature” bukan “human against nature”. Kunci dalam menjaga keanekaragaman hayati adalah kolaborasi dari berbagai kalangan. Sementara itu, Dr. Mia Miranti Rustama menekankan bahwa kita harus terus menerapkan protokol kesehatan, walaupun kita sudah melewati tahap vaksinasi karena jika kita tertular dapat berakibat juga pada hewan-hewan sekitar. Dokter hewan YIARI, drh. Wendi Prameswari juga mengungkapkan bahwa kita harus menerapkan hidup yang sehat bagi manusia maupun satwa. Dengan hal yang telah dikemukakan tersebut, sudah seharusnya bagi kita untuk mencegah terjadinya pandemi baru dan menyumbang kontribusi dalam ilmu pengetahuan.

REFERENSI

Kusmana, C., & Hikmat, A. (2015). Keanekaragaman hayati flora di Indonesia. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 5(2), 187.

Melin, A. D., Janiak, M. C., Marrone, F. 3., Arora, P. S., & Higham, J. P. (2020). Comparative ACE2 variation and primate COVID-19 risk. bioRxiv : the preprint server for biology, 3(1), 641. doi:10.1101/2020.04.09.034967

Parolin, C., Virtuoso, S., Giovanetti, M., Angeletti, S., Ciccozzi, M., & Borsetti, A. (2021). Animal Hosts and Experimental Models of SARS-CoV-2 Infection. Chemotherapy, 66, 8-12. doi:10.1159/000515341

World Health International. (2020, July 29). Zoonoses. Retrieved November 23, 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/zoonoses