Skip to content

Bersama Masyarakat Dukung Pride Campaign

Sumber foto: Google Maps/Misda Bakol

Tahani Vidra Putri – 2019

Masyarakat merupakan salah satu penyeimbang kehidupan karena masyarakat memiliki andil dalam mengubah serta mempertahankan alam yang ada. Hal – hal ini pun hanya dapat berjalan secara positif dengan adanya dukungan rasa empati dan simpati dari masyarakat. Rasa empati serta simpati tersebut pun mampu dibangkitkan dengan adanya komunikasi yang baik dari para pengurus kepada masyarakat itu sendiri. Komunikasi ini dapat terjalin dengan baik jikalau para pengurus pun turut bekerja sama dalam membangun alam agar lebih baik. Salah satu aksi nyata dari beberapa pernyataan diatas terdapat pada Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Dimana Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) bekerja sama dengan UNESCO (The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation) dan RARE dalam menyelenggarakan program Pride Campaign. Program ini termasuk ke dalam pendidikan konservasi yang bertujuan untuk memberi pengetahuan tentang pentingnya melestarikan taman nasional yang kemudian diharapkan mampu membangkitkan pola pikir serta kepekaan terhadap taman nasional juga mendorong adanya aksi nyata dari masyarakat. Kegiatan Pride Campaign ini mengusung slogan “Ujung Kulon Lestari, Masyarakat Sejahtera” dimana kegiatan ini terfokus pada kampanye yang memperlihatkan spesies lokal tunggal yang karismatik serta bagaimana cara masyarakat untuk dapat turut serta melindungi habitat dan satwa itu sendiri. Kampanye daripada kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan metode pemasaran sosial atau social marketing. Dalam artian, kegiatan ini dapat dilakukan dalam bentuk buku peraturan, school visit, leaflet, poster, lagu, papan reklame, environmental sheet, art competition, pin, lembar dakwah, pertunjukan boneka, conservation camp, dan ­A-Z Booklet (Abdurrachman dan Annisa, 2017).

Pada program Pride Campaign pun terdapat beberapa program pengelolaan serta pengembangan di dalamnya, antara lain ialah program pengelolaan badak jawa, program pengelolaan primata terpadu, program pengelolaan marine terpadu, program pengelolaan daerah penyangga terpadu, dan program pengembangan ekowisata terpadu. Pada program pengelolaan badak jawa, pemerintah Indonesia mengacu pada Permenhut Nomor 43 Tahun 2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia Tahun 2007 – 2017. Ada pun strategi dan rencana aksi dimaksudkan untuk pengelolaan dalam jangka pendek, dimana hal tersebut dilakukan dengan membangun sanctuary (suaka khusus) untuk badak jawa. Sehingga pada tahun 2009 pada pertemuan AsRSG (Asian Rhino Specialis Group) disepakatilah pembangunan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di bagian selatan Gunung Honje TNUK seluas 5.100 Ha. Dalam kesepakatan tersebut pembangunan JRSCA melalui beberapa tahapan yakni penyusunan beberapa dokumen perencaan seperti master plan, Detail Enginering Design (DED), dan Strandar Operasional Prosedur (SOP). Kemudian dilakukan pula sosialisasi melalui seminar, workshopFocus Group Discussion (FGD), dan penyebaran informasi melalui leaflet, poster, media elektronik, dan media cetak. Lalu diadakan pembinaan habitat berupa rehabilitasi areal hutan bekas perambahan, pengkayaan tumbuhan pakan bagi badak jawa, dan eradikasi tumbuhan langkap. Pada tahapan keempat, dilakukan adanya pembangun sarana-prasarana (Taman Nasional Ujung Kulon, 2009).

Adapun jenis sarana-prasarana yang dibangun ialah pagar kawat beraliran listrik kejut. Pagar kawat ini dibangun sepanjang 8,2 km dengan satu ruas pada bagian utara antara blok Cimahi sampai blok Cilintang sepanjang 5,4 km dan satu ruas lainnya pada bagian selatan antara blok Bangkonol sampai blok Tanjung Sodong sepanjang 2,8 km. Meskipun pagar kawat ini beraliran listrik kejut, pagar kawat ini hanya menimbulkan efek kejut bagi manusia dan satwa yang menyentuhnya tanpa memiliki sifat mematikan. Sehingga dengan pagar kawat beraliran listrik ini, badak jawa tidak dapat melintasi JRSCA. Selanjutnya terdapat pula jalan patroli. Jalan patroli ialah jalan yang dibangun di sepanjang pagar dengan tujuan untuk memantau, penelitian, dan hal lainnya yang dapat mendukung keberlangsungan JRSCA. Jalan patroli ini memiliki lebar 5 meter dan dibangun pada lahan kosong sehingga meminimalkan dampak ekologi. Jika penebangan pohon perlu dilakukan, maka diizinkan untuk dibawa keluar kawasan TNUK. Sarana-prasarana lain yang dibangun ialah pondok kerja dan pos jaga. Dimana pondok kerja berfungsi sebagai pusat aktifitas pengelolaan JRSCA. Sedangkan pos jaga yang dibangun pada beberapa titik di jalan patroli digunakan untuk memantau jalan patroli itu sendiri. Tahapan terakhir untuk pembangunan JRSCA adalah pengelolaan. Tahapan ini merupakan tahapan untuk mempersiapkan JRSCA dalam jangka panjang yakni dengan membentuk lembaga pengelolaan, penyediaan SDM, sarana-prasarana, dan dana operasional. Dalam pengelolaan JRSCA sendiri, BTNUK dibantu oleh Yayasan Badak Indonesia (YABI) yang merupakan organisasi penyelamat serta pelestari badak Indonesia (Abdurrachman dan Annisa, 2017).

Dalam program pengelolaan badak jawa, terdapat beberapa kegiatan berupa sensus badak tahunan, kamera perangkap (photo trap), analisis genetik badak jawa, dan RMPU (Rhino Monitoring and Protection Unit). Sensus badak tahunan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghitung serta mencatat arah jejak yang ditemukan pada 15 transek pengamatan permanen dimana kegiatan ini dilakukan setahun sekali. Kegiatan selanjutnya ialah kamera trap (photo trap) yang dilakukan untuk memantau perkembangan populasi badak jawa secara visual. Sehingga akan lebih mudah untuk menentukan jenis kelamin serta umur dari badak jawa itu sendiri. Kemudian terdapat analisis genetik badak jawa. Analisis genetik badak jawa merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui informasi genetik badak jawa seperti kekerabatan antara satu individu dengan individu yang lainnya, sistem perkawinan, dan lain sebagainya. Informasi genetik pada badak jawa ditemukan melalui sel – sel epitel usus yang keluar bersama dengan kotoran. Sehingga BTNUK membentuk tim khusus yang bertugas untuk mengumpulkan kotoran badak jawa. Kegiatan terakhir yang dilakukan pada pengelolaan badak jawa ialah RMPU. Kegiatan ini dilakukan untuk melindungi serta memantau badak jawa dan habitatnya (Taman Nasional Ujung Kulon, 2009).

Kemudian terdapat program pengelolaan primata terpadu dimana salah satu kegiatan yang telah dilakukan ialah berupa Unit Konservasi Darat (UKD). Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan perlindungan serta pemantauan di wilayah Gunung Honje, baik itu bekas gangguan kawasan, tindak ilegal, dan mencatat segala temuan baru, seperti badak jawa, surili, dan/atau satwa lainnya. Hal ini pun perlu dilakukan karena di TNUK sendiri terdapat beberapa jenis primata yaitu lutung hitam, surili, owa jawa, kera ekor panjang, dan kukang (Taman Nasional Ujung Kulon, 2009).

Program selanjutnya ialah pengelolaan marine terpadu. Terdapat beberapa kegiatan di dalamnya ialah Unit Konservasi Laut (UKL), pemanfaatan rumput laut oleh masyarakat di dalam kawasan, mentoring terumbu karang, dan pembuatan rumpon. Kegiatan pertama ialah UKL. Dimana kegiatan ini dilaksanakan dengan mencatat dan menindak pelanggaran di perairan, mencatat temuan baru seperti lumba – lumba, penyu, dan satwa laut lainnya, serta memantau ekosistem perairan. Kegiatan kedua ialah berupa pemanfaatan rumput laut oleh masyarakat di dalam kawasan. Kegiatan ini difasilitasi oleh WWF-UK (World Wiildlife Fund-Ujung Kulon) yang bertujuan untuk menghindari dampak daripada pencurian rumput laut serta mampu mengamankan kawasan. Lalu kegiatan selanjutnya berupa mentoring terumbu karang. Kegiatan ini dilakukan dengan menganalisis penutupan karang hidup dan kelimpahan ikan hias untuk mengetahui kesehatan terumbu karang serta menganalisis karang mati (remnant) untuk mengetahui faktor – faktor kerusakan terumbu karang. Kegiatan ini dilakukan setiap 4 bulan sekali. Selanjutnya ialah kegiatan terakhir pada pengelolaan marine terpadu yakni pembuatan rumpon. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah daya tarik wisata bahari di TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon, 2009).

Lalu terdapat program pengelolaan daerah penyangga terpadu. Daerah penyangga yang dimaksudkan di dalam program tersebut ialah berupa 19 desa yang berada di TNUK, dimana keadaan sosial serta ekonomi para masyarakat juga menentukan keberlangsungan TNUK. Sehingga program ini diadakan untuk menambah daya tarik wisata bahari TNUK seperti dipindahkannya fasilitas pemukiman liar, dikembangkannya usaha kerajinan emping, patung badak, dan penangkaran kupu – kupu untuk awetan kupu – kupu, serta usaha konservasi ekonomi melalui penanaman sengon, budidaya tanaman obat, dan agroforesty (Taman Nasional Ujung Kulon, 2009).

Dan program terakhir yang terdapat pada program Pride Campaign ialah pengembangan ekowisata terpadu. Pada program ini terdapat satu kegiatan yakni Koperasi Gema Utama (KAGUM) yang berada di Tamanjaya. Kegiatan ini dikelola oleh masyarakat setempat dimana masyarakat mengusahakan paket – paket wisata untuk para pengunjung, mengelola homestay, penyedia suvenir, dan perkumpulan guide juga poster. Sehingga dengan program ini, masyarakat di sekitar kawasan TNUK pun turut memperoleh keuntungan (Taman Nasional Ujung Kulon, 2009).

Beberapa program di atas menuntut kita untuk mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik antar pengurus serta masyarakat. Program di atas pun hanya mampu terlaksana dengan baik jika kesadaran antar manusia di dalamnya juga memberi aksi nyata. Oleh karenanya, mari berkomitmen untuk terus menjaga serta melestarikan alam khususnya TNUK. Karena tanpa bantuan dari para manusia itu sendiri, siapa lagi yang akan ulur tangan?

Referensi:

Abdurrachman dan Annisa Pratiwi. 2017. PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON (TNUK). Jakarta. Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies. (2) 2.

Taman Nasional Ujung Kulon. 2009. https://www.ujungkulon.org/.

Artikel ini ditulis oleh relawan konten untuk www.idnationalparks.com dengan merujuk pada berbagai referensi online yang tersedia. Program relawan konten ditujukan sebagai wadah belajar bersama untuk semakin mengenal taman nasional di Indonesia beserta upaya yang telah dilakukan dalam mengelolanya. Isi dari artikel merupakan tanggung jawab penulis.