Skip to content

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ekosistem Terumbu Karang

           Area terumbu karang di dunia telah menyusut hingga 50 persen sejak 1950. Penangkapan ikan berlebihan, pemanasan global, polusi laut, dan perusakan habitat telah menghancurkan terumbu karang. Dari Great Barrier Reef sepanjang 2.300 kilometer di Australia hingga Saya de Malha Bank di Samudera Hindia, terumbu karang dan spesies ikan yang hidup bersamanya mengalami penurunan tajam. Penurunan ini diproyeksikan terus berlanjut seiring memanasnya Bumi pada abad 21.

            Tinjauan yang dilakukan terhadap 14.705 survei terumbu karang di 87 negara menemukan bahwa penangkapan ikan telah meningkat secara dramatis sejak pertengahan 1990-an. Penangkapan spesies karang terbesar mencapai puncaknya pada 2002 dan memburuk sejak itu. Penelitian yang diterbitkan di jurnal One Earth, menemukan bahwa keanekaragaman spesies terumbu telah turun lebih dari 60 persen dan total area pertumbuhan terumbu berkurang sekitar setengahnya. Hal ini beriringan dengan berkurangnya layanan yang disediakan ekosistem untuk populasi manusia.

Terumbu karang adalah sumber makanan penting bagi jutaan orang di seluruh dunia, khususnya bagi masyarakat pesisir yang sumber utama protein hewaninya adalah ikan. Para peneliti khawatir bahwa penurunan ini akan mempengaruhi stabilitas pangan di masa depan. Tidak hanya terumbu karang, spesies yang hidup di terumbu karang juga terkena dampak penurunan. Ikan-ikan yang sensitif dengan suhu juga mengalami penurunan sehingga spesies yang lebih tangguh menjadi dominan.

Laut terus kehilangan karang dari sebagian besar terumbu dunia sejak data untuk penelitian ini berakhir. Gelombang panas laut meningkat pesat menyebabkan peristiwa pembersihan terumbu karang makin parah, termasuk di beberapa tempat paling terisolasi dan murni di dunia. Beberapa tahun terakhir, terumbu Karibia telah dihancurkan oleh badai dan penyakit baru yang keduanya terkait dengan pemanasan laut. Lautan dunia menyerap lebih dari 90% panas yang terperangkap oleh gas rumah kaca. Suhu air rata-rata terus meningkat seiring memanasnya planet ini.

Upaya yang telah dilakukan organisasi atau pemerintah dunia dan Indonesia dalam menangani terancamnya ekosistem terumbu  karang .

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga ekosistem terumbu karang adalah membentuk Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM). DPL-BM merupakan pendekatan yang umum diterapkan pada program pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut di dunia, terutama di negara yang memiliki ekosistem terumbu karang. Daerah perlindungan laut dapat dianggap sebagai manifestasi dari keinginan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara lestari, kebutuhan untuk menikmati keindahan alam (Faiza et al., 2017). Tujuan dari DPL-BM adalah (COREMAP II, 2006):

  • Meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan di sekitar 
  • Menjaga dan memperbaiki keanekaragaman hayati terumbu karang, ikan, dan biota lainnya
  • Dapat dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata
  • Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pengguna
  • Memperkuat masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang
  • Mendidik masyarakat dalam konservasi dan pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan
  • Sebagai lokasi penelitian dan pendidikan tentang keanekaragaman hayati laut

Pada DPL terdapat zonasi, yang mudah dipahami dan dilaksanakan, serta dipatuhi oleh masyarakat. Zonasinya terbagi menjadi:

  • Zona Inti → kegiatan penangkapan ikan dan aktivitas pengambilan sumberdaya alam laut, kegiatan merusak terumbu karang, seperti pengambilan karang, pelepasan jangkar serta penggunaan galah untuk mendorong perahu tidak diperbolehkan. Kegiatan yang diperbolehkan adalah kegiatan yang tidak ekstraktif, seperti berenang, snorkeling dan menyelam untuk tujuan rekreasi.  Sehingga ekosistem terumbu karang tumbuh sehat dan biota karang termasuk ikan karang, mempunyai kesempatan untuk kembali pada keadaan terumbu karang yang baik (COREMAP II, 2006).
  • Zona Penyangga → Zona di sekeliling zona inti. Kegiatan penangkapan ikan diperbolehkan tetapi dengan menggunakan alat-alat tradisional, seperti pancing dan memanah dengan perahu tradisional. Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan lampu dan beberapa alat tangkap yang potensial merusak terumbu karang masih dilarang (COREMAP II, 2006).
  • Zona Pemanfaatan → Zona ini dibagi menjadi area untuk pariwisata, penggunaan tradisional, penggunaan pelagis, penelitian dan pelatihan. Akomodasi permanen untuk kegiatan pariwisata atau pengambilan sumber daya alam diperbolehkan melalui pelaksanaan proses penilaian dampak lingkungan terlebih dahulu (Rusdi & Khalil, 2018).

Sikap sebagai mahasiswa biologi dalam menanggapi isu ini. 

Mahasiswa bisa memiliki berbagai peran. Antara lain sebagai pemberi contoh serta mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk melestarikan terumbu karang. mahasiswa pun dapat membuat program – program terkait informasi pengelolaan terumbu karang di desa – desa pesisir.

Referensi

Faiza, R., Kusumastanto, T., Bengen, D. G., Boer, M., & Yulianda, F. (2017). Keberlanjutan daerah perlindungan laut berbasis masyarakat. Kasus DPL-BM Blongko-Minahasa Selatan, DPL-BM Pulau Sebesi, Lampung Selatan dan APL Pulau Harapan Kepulauan Seribu. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 5(1), 19-30.

Rusdi, M., & Khalil, M. (2018). Post Tsunami: Marine Protected Areas (MPA) Zonation Structure of Pulo Aceh, Indonesia. Agrium, 10(2), 77-82. COREMAP II. (2006). Daerah perlindungan laut berbasis masyarakat (Vol. 2). Jakarta: Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan