Skip to content

DEPOPULASI SERANGGA YANG TIDAK TERASA

Azhar Fauzan F, Shofi Afiya Syahbani, Tresna Puspitasari U., & Alysa Yasyfa N.

Peri mungil sahabat alam merupakan sebuah julukan hewan dari kelas insekta, atau biasa kita kenal dengan serangga. Serangga tersebar di seluruh penjuru dunia, sekitar 80% spesies di bumi merupakan serangga. Selain ditemukan di hutan atau perkotaan mereka juga dapat ditemukan di antartika, air panas, ladang minyak, padang pasir, kecuali di dalam laut.

Julukan ini tidak diberikan secara sembarangan, serangga memiliki peran yang sangat berguna bagi keberlangsungan manusia. Menurut Prof Intan Ahmad, pakar Entomologi, narasumber dari webinar “Entomology Talkshow 2.0 : Insect Declining Issues” bahwa serangga berperan besar dalam menjaga ekosistem alam dan kesehatan manusia. Namun perspektif mayoritas berpandangan pada 2% serangga yang merugikan bagi manusia seperti menjadi hama, inang penyakit dan perusak estetika, sehingga serangga tidak diberikan perhatian lebih mengenai keberadaannya serta keadaan bumi yang kian memburuk diakibatkan polusi, membuat eksistensi serangga semakin berturun. Terjadilah fenomena Insect declining atau depopulasi serangga.

Fenomena depopulasi serangga ini diperkirakan akan memicu efek berkala pada jaring-jaring makanan dan membahayakan jasa ekosistem (Hallmann et al., 2017). Salah satu ekosistem yangdisorot di acara Entomology Talkshow 2.0 adalah agroekosistem yang dibahas oleh Dr. Ir. H. Sudarjat, M.P., dosen Fakultas Pertanian Unpad. Beliau menjelaskan bahwa serangga terbagi dalam beberapa peran, di antaranya sebagai hama, predator (pemangsa), parasitoid, polinator (penyerbuk), dekomposer (pengurai), dan vektor penyakit (pembawa).

Hama merupakan kategori serangga yang menyebabkan kerugian dan rusaknya tanaman (Mokodompit, Pollo, & Lasut, 2018). Untuk mencegah kerugian tersebut, serangga dan pertanian berkaitan erat dengan penggunaan pestisida. H. Sudarjat menambahkan bahwa pestisida sering digunakan karena mudah didapat, relatif murah, mudah aplikasinya, ampuh dan terlihat langsung hasilnya, serta produk panen pun masih laku dijual. Namun, dampak negatif penggunaan pestisida di antaranya dapat menyebabkan terbunuhnya organisme non target, resistensi hama, resurjensi hama, residu pada produk pertanian, serta pencemaran lingkungan.

Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, M.Sc., dosen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor yang juga hadir dalam “Entomology Talkshow 2.0 : Insect Declining Issues” memaparkan bahwa untuk meminimalisir dampak negatif dari penggunaan pestisida diperlukan solusi jangka panjang untuk mengatasi hama, yaitu hanya dapat dicapai dengan mengoptimalkan layanan agroekologi melalui rekayasa ekologi. Rekayasa ekologi akan memberikan keuntungan bersama bagi manusia dan bagi alam, yaitu dengan membangun, memperkuat dan memulihkan layanan ekosistem untuk pengelolaan alam berkelanjutan (Baehaki, Irianto, & Widodo, 2016).

Terjadinya ledakan populasi wereng coklat merupakan salah satu bukti bahwa layanan agroekologi merupakan hal yang sangat penting. Resurgensi yang terjadi karena penggunaan insektisida berlebihan telah membunuh musuh alami hama dan merusak kesehatan lingkungan. Beliau juga menambahkan bahwa untuk memaksimalkan layanan ekologis terdapat 3 pilar yang harus ditegakkan, yaitu:

  1. Meminimalkan penggunaan insektisida
  2. Meningkatkan predator dengan penyediaan detritivor
  3. Meningkatkan parasitoid

Tanpa kita sadari kini keberadaan serangga semakin berkurang, contohnya kunang-kunang yang berada di teras rumah kini sudah jarang terlihat. Dari data riset Pedro Cardoso, 2020; 0,5-1 juta spesies serangga kini terancam punah. Peristiwa depopulasi serangga ini sangatlah berperan besar bagi kehidupan manusia kedepannya. Kinilah saatnya kita lebih memperdulikan keberadaan mereka dengan lebih memahami pentingnya keberadaan mereka dan melakukan konservasi agar mereka terjaga

Daftar pustaka [Jurnal]
Baehaki, S. E., Irianto, N. B. E., & Widodo, S. W. (2016). Rekayasa ekologi dalam
perspektif pengelolaan tanaman padi terpadu. Iptek Tanaman Pangan, 11(1).
Berenbaum, M. (1995). Phototoxicity of Plant Secondary Metabolites: Insect and
Mammalian Perspectives. Archives of insect biochemistry and physiology, 29(2):
119-134.
Cardoso, P., Barton, P. S., Birkhofer, K., Chichorro, F., Deacon, C., Fartmann, T., … &
Samways, M. J. (2020). Scientists’ Warning to Humanity on Insect Extinctions.
Biological Conservation, 242: 108426.
Hallmann, C. A., Sorg, M., Jongejans, E., Siepel, H., Hofland, N., Schwan, H., … De
Kroon, H. (2017). More Than 75 Percent Decline Over 27 Years in Total Flying Insect
Biomass in Protected Areas. PLoS ONE, 12(10).
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0185809
Mokodompit, H. S., Pollo, H. N., & Lasut, M. T. (2018). Identifikasi Jenis Serangga Hama
dan Tingkat Kerusakan pada Diospyros Celebica Bakh. Eugenia, 24(1): 64–75.
https://doi.org/10.35791/eug.24.2.2018.22794