Skip to content

EARTH DAY SECARA BIOLOGIS, BENARKAH BISA SELAMATKAN DUNIA?

Bagaimana Awal Mula Hari Bumi?

Hari Bumi merupakan sebuah acara dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai masalah lingkungan yang terjadi di dunia. Hari Bumi pertama kali dirayakan di Amerika Serikat pada tanggal 22 April 1970.

Hari Bumi merupakan gagasan seorang senator bersama Gaylord Nelson, seorang pecinta lingkungan yang gigih memperjuangkan kesadaran publik terhadap masalah lingkungan dengan menciptakan gerakan dan memasukkan permasalahan lingkungan secara permanen ke dalam agenda politik nasional (History.com Editors, 2009).

Bagaimana Sejarah dan Perkembangan Hari Bumi?

1970

Hari Bumi Pertama pada tahun 1970 memobilisasi 20 juta orang Amerika untuk menyerukan peningkatan perlindungan bagi planet bumi.

1990

Hari Bumi mendunia dan memobilisasi 200 juta orang di 141 negara.

2000

Hari Bumi mulai memanfaatkan media digital untuk membangun relasi dengan lebih dari 180 negara.

2010

Hari Bumi menciptakan suatu pergerakan dengan nama “A billion Acts of Green” dan “The Canopy Project”.

2020

Memperingati 50 tahun Hari Bumi dan menggerakkan satu miliar orang di seluruh dunia untuk melakukan tindakan transformatif bagi planet bumi (Earth Day, 2020)

Apa Hasil dari Hari Bumi Pertama pada Tahun 1970? 

Terlaksananya Hari Bumi telah memberikan dampak baik, khususnya peningkatan kesadaran publik mengenai masalah lingkungan. Hari Bumi menyebabkan disahkannya undang-undang tentang lingkungan di Amerika Serikat, seperti undang-undang udara bersih, air bersih, dan spesies yang terancam punah. Setelah itu, banyak negara mulai mengadopsi undang-undang serupa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadikan hari Bumi sebagai hari ditandatanganinya Paris Climate Agreement pada tahun 2016 (Earth day, 2020).

Selain itu, Hari Bumi menyebabkan literasi publik meningkat, khususnya mengenai lingkungan. Peningkatan literasi publik menunjang banyak penelitian tentang lingkungan yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa Hari Bumi berdampak terhadap kehidupan manusia, khususnya peningkatan kesadaran publik terhadap lingkungan. 

Bagaimana kondisi lingkungan setelah munculnya pandemi Covid-19?

Munculnya pandemi Covid-19 di Indonesia pada awal Maret 2020 mengakibatkan perubahan gaya hidup masyarakat. Pembatasan aktivitas manusia selama masa pandemi Covid-19 menimbulkan dampak positif dan negatif bagi lingkungan. Pemberhentian berbagai kegiatan ekonomi, termasuk sektor industri, serta pemberlakuan kebijakan “lockdown” di berbagai negara telah berkontribusi dalam penurunan emisi global. 

Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) merilis bahwa emisi gas CO2 di dunia mengalami penurunan yang signifikan selama masa karantina Covid-19 (Suryani, 2020). Bukti konkret pengurangan polusi udara dan emisi karbon di Indonesia tercatat semenjak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyetujui permintaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tercatat kualitas udara di Jakarta berada pada kategori terbaik dengan nilai polutan PM2,5 rata-rata sebesar 18,6 µg/m3 (Fajar dan Wisuda, 2020). Menurut Carbon Brief, penurunan gas emisi CO2 hanya bersifat sementara, kualitas udara berbahaya baik tingkat lokal maupun global kemungkinan akan kembali (Suryani, 2020).

Selain itu, sejak pandemi Covid-19 muncul, kegiatan pariwisata bahari terhenti. Hal tersebut berdampak pada penurunan polusi suara dan air di lautan, akibatnya tingkat stress makhluk laut menurun serta biota laut dapat bermigrasi dengan lebih tenang (Suryani, 2020).

Sayangnya, pandemi Covid-19 juga memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan seperti meningkatnya sampah plastik terutama sampah medis. LIPI menyebutkan bahwa sampah plastik yang timbul sejak pandemi Covid-19 meningkat dari 1-5 menjadi 5-10 gram per hari per individu. Sampah-sampah tersebut berasal dari peralatan medis dan Alat Pelindung Diri (APD) termasuk sarung tangan dan masker (Suryani, 2020).

Strategi Apa yang Dapat Dilakukan Untuk Menjaga Lingkungan?

Kesadaran tentang pentingnya upaya untuk menjaga lingkungan merupakan langkah awal yang harus dilakukan demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Hari bumi atau sering disebut Earth Day merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga lingkungan. Usaha untuk menjaga lingkungan perlu dilakukan bukan hanya untuk kepentingan kelangsungan bumi, melainkan juga untuk kelangsungan hidup manusia (Nur, 2020). 

Menurut Alue Dohong, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), masyarakat indonesia bisa memulai dengan mencegah deforestasi dan degradasi hutan, memulihkan gambut dan mangrove, serta mendorong transisi dari energi konvensional ke energi terbarukan (Ramadhani, 2021). Terdapat lima strategi potensial sebagai upaya dalam menjaga lingkungan, sebagai berikut.

  1. Industrialisasi berkelanjutan. 

Aktivitas industri disebut sebagai penyebab utama terjadinya kerusakan lingkungan hidup dan berdampak negatif bagi masyarakat sekitarnya. Perkembangan industrialisasi yang diikuti dengan pembangunan fisik yang semakin meningkat tanpa didukung oleh usaha pelestarian lingkungan, kesesuaian dan ketepatan konversi lahan, dan tata ruang akan mempercepat proses kerusakan alam dan berkurangnya fungsi lingkungan dan sumber daya. Dengan adanya industrialisasi berkelanjutan diharapkan terciptanya keseimbangan antara aspek ekonomi (pertumbuhan ekonomi), aspek ekologi (pelestarian lingkungan), dan aspek sosial budaya  (Sulaiman, 2016).

  1. Menggunakan transportasi umum. 

Jumlah kendaraan yang banyak akan meningkatkan emisi gas rumah kaca karena asap kendaraan. Oleh karena itu, menggunakan transportasi umum dapat membantu menjaga lingkungan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca kendaraan (Hidayati, 2018).

  1. Menggunakan energi terbarukan.

Menggunakan energi terbarukan lebih baik dibandingkan dengan energi fosil. Hal ini merupakan upaya dalam menjaga lingkungan karena energi terbarukan lebih lebih ramah terhadap lingkungan (Hartati, 2015).

  1. Pengelolahan air limbah

Pengolahan limbah cair dilakukan  untuk menjaga air yang keluar tetap bersih dengan menghilangkan atau menguraikan polutan yang terdapat di dalam air limbah sehingga sifat-sifat dari polutan tersebut akan hilang (Ervina, 2018).

  1. Restorasi ekologi dan ekowisata

Restorasi ekosistem merupakan upaya mengembalikan kondisi hutan atau bentang alam dengan tujuan untuk memperoleh kembali keanekaragaman hayati dan non-hayati sehingga terjadi keseimbangan hayati dengan ekosistemnya. 

Apa Langkah Nyata dan Sederhana yang Dapat Kita Lakukan?

Langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai aksi nyata dalam peringatan Hari Bumi “Earth Day” sebagai berikut:

  1. Hemat dalam penggunaan air. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan air secukupnya, menggunakan ulang sisa air untuk keperluan tertentu, dan mengontrol saat pengisian air. 
  2. Membuang sampah pada tempatnya. Hal  ini dapat dilakukan dengan memilah sampah berdasarkan kelompoknya dan menggunakan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam mengolah sampah
  3. Mengurangi polusi udara. Salah satu bentuk nyata dalam menjaga kondisi lingkungan dengan menggunakan kendaraan umum saat bepergian.
  4. Melakukan penanaman pohon. Hal ini sangat efektif untuk dilakukan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca karena pohon akan membersihkan udara dari polutan-polutan dan menghasilkan oksigen sebagai sumber kehidupan makhluk hidup. 

REFERENSI

Earth Day. 2020. The History of Earth Day. Retrieved Mei 4, 2021, from Earth Day: https://www.earthday.org/history/

Ervina. 2018. Pengelolahan Limbah Cair pada Industri dan Permasalahannya. URL: http://bbkk.kemenperin.go.id/page/bacaartikel.php?id=eU3YJpVUfHOH2TRZcW3POF5OTx-UfuvlPdN2-lEPIT0 (Diakses 04-05-2021, pukul 21:15 WIB)

Fajar, J. dan Wisuda, A. 2020. Setelah 28 Tahun, Kualitas Udara di Jakarta Membaik. https://www.mongabay.co.id/2020/04/06/setelah-28-tahun-kualitas-udara-di-jakarta-membaik/#:~:text=Udara%20Jakarta%20Membaik,kali%20terjadi%20setelah%2028%20tahun. (Diakses 04-05-2021, pukul 20:15 WIB)

Hartati. E. R 2015. Penggunaan Energi Terbarukan Dukung Kelestarian Lingkungan. URL:https://www.beritasatu.com/ekonomi/336118/penggunaan-energi-terbarukan-dukung-kelestarian-lingkungan (Diakses 04-05-2021, pukul 21:02 WIB)

Hidayati. N. 2018. 6 Alasan Kamu Harus Gunakan Transportasi Umum. URL: https://www.beritabaik.id/read?editorialSlug=gaya-hidup&slug=1553580788734-6-alasan-kamu-harus-gunakan-transportasi-umum (Diakses 04-05-2021, pukul 20:58 WIB)

History.com Editors. (2009, November 24). The first Earth Day. Retrieved Mei 4, 2021, from History: https://www.history.com/this-day-in-history/the-first-earth-day

Nur. A. 2020. Earth Day 2020: Aksi Nyata Untuk Bumi Kita. URL: https://lpmopini.online/earth-day-2020-aksi-nyata-untuk-bumi-kita/ (Diakses 04-05-2021, pukul 20:18 WIB)

Ramadhani. Y. 2021. Earth Day 22 April 2021: Tema dan Cara Merayakan Hari Bumi Sedunia. URL: https://tirto.id/earth-day-22-april-2021-tema-cara-merayakan-hari-bumi-sedunia-gddT (Diakses 04-05-2021, pukul 19:34 WIB)

Rudiyanto, A. 2020. Pengaruh Covid-19 terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian PPN/Bappenas.

Sulaiman, F. 2016. Strategi Pengelolaan Kawasan Industri Berkelanjutan (Model Penataan Kawasan Industri Cilegon – Provinsi Banten). Serang: Untirta Press

Suryani, A. S. 2020. Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Lingkungan Global. Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI. 12(3): 13-18.