Skip to content

Fenomena Babi Ngepet dan Kaitannya dengan Konservasi

Awal Mula Munculnya Isu Babi Ngepet

Penangkapan dan pembunuhan seekor babi oleh beberapa warga RT 2 RW 4, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat menjadi awal mula booming-nya isu babi ngepet karena banyak warga sekitar yang menghubungkannya dengan jelmaan babi ngepet yang diduga menjadi alat pesugihan seorang warga di wilayah tersebut. Warga Kecamatan Sawangan, Kota Depok beramai-ramai untuk menangkap dan membunuh babi tersebut. Sebelum warga beramai-ramai menangkap babi yang diduga sebagai jelmaan babi ngepet tersebut, beberapa warga sekitar mengaku kehilangan uang dengan nominal ratusan hingga jutaan rupiah. Warga mulai meyakini bahwa hal tersebut disebabkan oleh ulah babi ngepet (Permana, 2021). Berbagai upaya yang dilakukan warga sekitar untuk menangkap babi ngepet tersebut, seperti mematikan lampu rumah dan beberapa warga tidak mengenakan pakaian karena dipercaya bisa menangkap babi ngepet (Dewi, 2021). Hal ini tentu menjadi perbincangan seluruh masyarakat Indonesia karena di zaman sekarang ini masih ada beberapa orang yang mempercayai mitos babi ngepet tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Metro Kota Depok, isu babi ngepet yang diduga sebagai pesugihan di Kecamatan Sawangan, Kota Depok adalah berita bohong atau hoaks. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kapolres Depok, Kombes Imran Siregar, bahwa ada tujuh warga sekitar yang telah diinterogasi terkait awal mula meluasnya isu babi ngepet tersebut. Ternyata isu tersebut sengaja direkayasa oleh seorang ustadz. Bermula dari beberapa warga yang mengeluh kehilangan uang kepada ustadz tersebut.  Akhirnya sang ustadz mengarang cerita bahwa hal tersebut disebabkan oleh ulah pesugihan babi ngepet (Nugrahaeni, 2021). Semua rekayasa tersebut sengaja dibuat hanya untuk mendapatkan pengakuan warga sebagai orang yang memiliki kemampuan lebih. Akhirnya pelaku dijatuhi hukuman sesuai dengan Pasal 10 Ayat 1 atau 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman 10 tahun Penjara (Mantalean, 2021).

Sejarah dan Asal Usul dibalik Isu Babi Ngepet

Babi ngepet memang bukanlah suatu hal asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan suku Betawi, Sunda, dan Jawa. Menurut Guru Besar Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret, Prof. Bani Sudardi, babi ngepet bukanlah sebuah mitos, melainkan legenda yang berkembang di masyarakat. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa babi ngepet sudah berkembang sejak zaman penjajahan Belanda. Menurut sejarawan Kuntowijoyo, kepercayaan terkait pesugihan seperti babi ngepet bermula dari kalangan masyarakat agraris (Permana, 2021). Menurut ahli yang mengkaji fenomena ini, Christopher Reinhart, mitos ini dipercaya oleh para petani pada era tanam paksa yang menaruh curiga pada orang lokal yang kaya secara tiba-tiba karena praktik tengkulak dan pinjam uang. Mereka menuding mereka menggunakan ilmu gaib dengan berubah menjadi seekor babi ngepet yang mencuri uang warga. Tudingan tersebut ditujukan untuk menurunkan citra orang kaya yang dianggap memeras rakyat biasa (Armand, 2021).

Mengenal Jenis Babi yang Digunakan untuk Ritual Babi Ngepet

Tabel 1. 9 Jenis Babi yang di terdapat di Indonesia

Keterangan: Warna hijau pada tabel menunjukkan jenis babi endemik Indonesia.

Babi yang dituding sebagai babi ngepet di Depok beberapa waktu lalu kemungkinan besar merupakan jenis babi hutan atau dikenal sebagai babi celeng dengan status konservasi least concern atau spesies dengan tingkat resiko rendah. Menurut Zulkarnain et al. (2009), babi ini merupakan satwa omnivora yang termasuk dalam keluarga Suidae dengan nama latin Sus scrofa. Babi celeng memiliki persebaran yang cukup luas di wilayah Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, dan Papua.  Babi celeng juga cukup sering ditemui di hutan karena babi ini merupakan jenis mamalia yang memiliki kemampuan berkembangbiak yang cukup cepat dengan jarak kelahiran dan masa perkawinan yang cukup pendek (Zulkarnain dkk., 2018).

Hubungan Babi Ngepet dengan Isu Konservasi

a)      Apakah populasi babi dapat menurun?

Ya, untuk jenis babi dengan kemampuan adaptasi rendah dan sebaran yang sempit. Misalnya, jenis-jenis babi endemik. Selain itu, faktor lainnya seperti babi yang dibunuh karena dianggap hama, pemanfaatan secara berlebihan, berkurangnya habitat, dan perburuan liar.

b)      Kenapa babi perlu untuk dikonservasi?

Menurut Abi Yaghsyah, mahasiswa Biologi Universitas Padjadjaran angkatan 2017, babi dapat dikonservasi secara wilayah sehingga di wilayah tersebut babi tidak boleh diburu. Alasan babi perlu dikonservasi dapat didasarkan pada 4 value (nilai), yaitu:

1.      Direct use value: dikonsumsi secara langsung

2.      Indirect uses value: menjaga keseimbangan ekosistem, menggemburkan tanah.

3.      Intrinsic value: kesadaran dari hati nurani

4.      Non-use value: nilai opsi dan nilai keberadaan (Phelps et al., 2014)

c)      Hal apa yang dapat dilakukan untuk mengkonservasi babi hutan?

1.      Memperkuat regulasi perburuan babi hutan

2.      Memperketat pengawasan area-area konservasi

3.      Melakukan upaya pengembalian habitat babi hutan

4.      Memperketat regulasi penjagaan kawasan konservasi

Hubungan Isu Babi Ngepet dengan Etnobiologi serta Bagaimana Sebaiknya Mahasiswa Biologi Menyikapi Isu Tersebut

Isu Babi Ngepet yang melegenda dan berkembang di kalangan masyarakat merupakan kepercayaan yang dianut beberapa kalangan masyarakat selama bertahun-tahun. Menurut Zamzam, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2019, kepercayaan masyarakat terhadap babi ngepet itu negatif dan lebih mudah terpengaruh. Jika, kepercayaan tersebut terus dipelihara akan menimbulkan dampak negatif, maka dari itu sosialisasi mengenai wawasan lingkungan perlu digemborkan.

Dalam biologi, terdapat cabang ilmu biologi yang mengkaji pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan masyarakat dengan melihat faktor-faktor pengetahuan lokal, pemahaman, persepsi, worldview, bahasa lokal, termasuk kepercayaan. Cabang ilmu tersebut dikenal dengan etnobiologi (Iskandar, 2017). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Abi, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2017, menyatakan bahwa dalam penelitian etnobiologi terdapat etika penelitian di mana salah satunya adalah tidak boleh menginterferensi ketika melihat suatu kepercayaan masyarakat kecuali jika masyarakatnya sendiri yang bertanya.

Pernyataan Abi dan Zamzam tersebut melahirkan sebuah pertanyaan yang disampaikan oleh Resty, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2020 mengenai cara mengimbangi pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lokal. Abi, alumni Biologi Unpad angkatan 2017 menyebutkan bahwa untuk mengimbangi pemahaman ilmiah dan masyarakat lokal mungkin akan sulit. Tetapi, kita sebisa mungkin menjelaskan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak menggunakan bahasa ilmiah. Masyarakat itu lebih mudah diedukasi dengan sesuatu yang menguntungkan atau logis bagi mereka. Sami, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2018, menambahkan bahwa edukasi dan sosialisasi pada masyarakat harus dengan pikiran yang terbuka, misalnya berbincang dengan santai, seperti sharing.

Ridzqi, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2019, menyebutkan bahwa cukup sulit untuk memberikan ilmu sains agar mudah diterima oleh mereka. Maka dari itu, yang harus disadari adalah sikap saling menghargai, misalnya ketika kita masuk ke lingkungan mereka, kita perlu menghargai pandangan, pendapat, dan kepercayaan mereka.

Sosialisasi itu memang perlu dilakukan terutama kepada masyarakat. Namun, dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap dan tidak bisa langsung merubah semuanya secara instan. Sebagai saintis kita perlu mencari kebenaran suatu kepercayaan dengan cara ilmiah.

REFERENSI

Armand, I. S. 2021. Sejarah Babi Ngepet, Mitos Pesugihan yang Masih Dipercaya Masyarakat. URL: https://yoursay.suara.com/news/2021/04/29/161456/sejarah-babi-ngepet-mitos-pesugihan-yang-masih-dipercaya-masyarakat (Diakses 05-06-2021, pukul 11:01 WIB)

Dewi, R. K. 2021. Ramai Soal Dugaan Babi Ngepet di Depok, Berikut Asal Mula Mitosnya. URL: https://www.kompas.com/tren/read/2021/04/29/082900365/ramai-soal-dugaan-babi-ngepet-di-depok-berikut-asal-mula-mitosnya?page=all (Diakses 05-06-2021, pukul 10:15 WIB)

Iskandar, J. 2017. Etnobiologi dan Keragaman Budaya di Indonesia. Umbara, 1(1). https://doi.org/10.24198/umbara.v1i1.9602

Mantalean, V. 2021. 6 Fakta di Balik Rekayasa Isu Babi Ngepet di Depok. Pelaku Tokoh Masyarakat yang Ingin Terkenal. URL:  https://megapolitan.kompas.com/read/2021/04/30/05402681/6-fakta-di-balik-rekayasa-isu-babi-ngepet-di-depok-pelaku-tokoh?page=all (Diakses 05-06-2021, pukul 12:15 WIB)

Nugrahaeni, C. K. 2021. Kronologi Hoaks Babi Ngepet di Depok, Sengaja Dikarang dengan Membeli Babi dengan Harga Rp 900.000,00. URL: https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/pr-011844873/kronologi-hoaks-babi-ngepet-di-depok-sengaja-dikarang-dengan-membeli-babi-rp900000 (Diakses 05-06-2021, pukul 11:45 WIB)

Permana, R. H. 2021. Asal-Usul Mitos Babi Ngepet: Kepercayaan Jadi Kaya Tanpa Bekerja. URL: https://news.detik.com/berita/d-5550672/asal-usul-mitos-babi-ngepet-kepercayaan-jadi-kaya-tanpa-bekerja (Diakses 05-06-2021, pukul 11:01 WIB)

Sekar, R. 2021. Asal Muasal Isu Babi Ngepet di Depok, Bermula dari Banyak Warga Kehilangan Uang. URL: https://kumparan.com/kumparannews/asal-muasal-isu-babi-ngepet-di-depok-bermula-dari-banyak-warga-kehilangan-uang-1vdh2irNeZ4/full (Diakses 05-06-2021, pukul 11:15 WIB)