Skip to content

Fosil badak lebih tinggi dari jerapah ditemukan di Cina

Ilustrasi spesies badak raksasa yang baru saja ditemukan di China oleh Yu Chen (nationalgeographic.com, 2021)

Original artickel : Greshko, M. 2021. Fossils of rhino taller than a giraffe found in China. Diakses pada 13 September 2021 pukul 23.35 WIB. {Online}: https://www.nationalgeographic.com/science/article/fossils-of-rhino-taller-than-a-giraffe-found-in-china

Dalam jurnal ilmiah Communications Biology dipublikasikan mengenai salah satu mamalia terbesar yang pernah berjalan di darat. Mamalia tersebut adalah Paraceratherium linxiaense yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Badak. Hewan tersebut memiliki bobot hingga 24 ton, empat kali lebih berat dari gajah Afrika saat ini, dan tengkoraknya saja memiliki panjang lebih dari satu yard. Sedangkan, tingginya diperkirakan lebih dari 16 kaki jika diukur pada bagian bahu.

P. linxiaense adalah salah satu dari raksasa terakhir, yang disebut paraceratheres, yang hidup sekitar 26,5 juta tahun yang lalu. Berkat usia dan lokasi mereka, fosil-fosil baru, termasuk tengkorak lengkap, rahang bawah, dan tiga tulang belakang, membantu mengisi silsilah paracerathere, juga hal yang masih menjadi misteri sebelumnya.

Prasejarah Badak Raksasa

Umumnya fosil Paraceratherium ditemukan dalam keadaan yang terpisah sehingga sulit diketahui evolusi dan penyebaran genusnya. Diperkirakan habitat awal dari hewan tersebut adalah pada daerah Asia Tengah, namun P. bugtiense tinggal di tempat yang sekarang disebut Pakistan barat.

Menurut peneliti ahli paleontologi mamalia di China menyebut bahwa P. linxiaense memiliki hubungan kerabat dekat dengan P. bugtiense Pakistan. Sebelum dinyatakan sebagai fosil dari Paraceratherium, para petani menyebut telah menemukan “tulang naga” dan menjual sisa-sisanya untuk dijadikan obat-obatan tradisional Tiongkok. Pada tahun 1980-an, ahli paleontologi mengakui bahwa wilayah tersebut melestarikan fosil yang bernilai ilmiah dari zaman Oligosen akhir, periode waktu 23 hingga 28 juta tahun yang lalu. Pada tahun 2015, ahli paleontologi menemukan tengkorak lengkap dan rahang bawah badak raksasa, serta tiga tulang belakang dari individu lain.

Berdasarkan kemiripannya dengan badak raksasa dari Pakistan, temuan baru menunjukkan bahwa badak raksasa bergerak bebas melintasi ribuan mil antara Asia Tengah dan anak benua India antara 30 dan 35 juta tahun yang lalu. Kondisi tropis di saat itu memungkinkan badak raksasa kembali ke utara menuju Asia Tengah karena saat itu wilayah Tibet belum berupa dataran tinggi, hal ini didukung oleh bukti geologis bahwa sampai sekitar 25 juta yang lalu beberapa wilayah Tibet masih berupa dataran rendah.

Misteri badak raksasa

Misteri pola geografis diungkapkan dalam studi baru oleh Antoine yakni ahli paleontologi Prancis yang menjelaskan pergerakan badak raksasa melintasi Bumi pada zaman purba. Badak raksasa tidak pernah menyeberang dari Asia ke Eropa melalui Pegunungan Ural, sehingga terdapat indikasi bahwa pegunungan mungkin telah bertindak sebagai penghalang.

Fosil-fosil dari P. linxiaense disimpan di Museum Paleozoologi Hezheng di provinsi Gansu utara-tengah China. Deng memiliki harapan besar untuk studi masa depan dari sisa-sisa, termasuk rekonstruksi otot makhluk itu dan perkiraan massa tubuhnya yang lebih halus. Para ahli juga menyebutkan bahwa pada saat ini banyak fosil yang belum ditemukan dan mungkin saja di masa depan akan ditemukan fosil-fosil badak raksasa lainnya di wilayah tersebut.