Skip to content

GAYA BARU EKSPLOITASI SATWA: UNBOXING MONYET

Polemik Unboxing Spesies Monyet Ekor Panjang 

Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan kemunculan sebuah video “unboxing monyet” yang menjadi viral dan ditonton hingga 8 juta kali. Video yang diunggah di media sosial tersebut membuat gempar dan menimbulkan berbagai macam reaksi dari berbagai pihak. Aktivis perlindungan dan pelestarian satwa menyebutkan, maraknya video unboxing seperti itu menandakan masifnya perburuan dan perdagangan satwa secara ilegal. Jika hal ini tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah maka ancaman kepunahan tak bisa dihindari (BBC, 2021).

Mengapa Video Unboxing Monyet Menuai Pro Kontra?

Kemunculan video tersebut menuai pro dan kontra di kalangan warganet. Tim kontra menyebutkan bahwa memelihara satwa liar itu tidak diperbolehkan dan pasti banyak cerita sedih yang terjadi di belakangnya, termasuk membunuh induk dari bayi monyet yang diperdagangkan. Pemilik video tersebut sempat membela diri dan mengatakan bahwa niatnya murni hanya untuk merawat dan memberi kehidupan yang layak bagi bayi monyet tersebut. Pemilik juga mengklarifikasi bahwa bayi monyetnya dibeli dalam keadaan tanpa ibu dan keadaan tak terawat (Fundrika dan Rachmawati, 2021).

Hal tersebut mendapat tanggapan dari organisasi perlindungan dan pelestarian, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) setelah akunnya disebut beberapa kali dalam komentar video tersebut. Ketua JAAN, Benvika, menyebutkan bahwa banyak dari masyarakat yang menjadikan kata “kasihan” dan “lucu” sebagai alasan untuk membeli dan memelihara monyet. Karena itulah Benvika meluruskan dan memberikan edukasi bahwa monyet atau satwa liar tidak boleh dipelihara. Ia menyebutkan monyet yang ada di dalam video itu merupakan spesies monyet ekor panjang yang memiliki sifat oportunistik dengan kata lain jika sudah memasuki masa birahi akan menimbulkan konflik, seperti penyerangan ketika sedang terancam. Akhirnya, pemilik video tersebut bersedia menyerahkan anak monyet itu pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta (BBC, 2021).

Mengenal Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan primata ‘Quadrupedalism’ atau berjalan dengan empat kaki yang akan kita sering temui di lingkungan sekitar. Sesuai dengan namanya, monyet ini memiliki ekor yang lebih panjang dibandingkan dengan panjang kepala dan badannya. Monyet ini juga merupakan spesies yang terpopuler di kalangan primata karena memiliki populasi yang cenderung masih berlimpah (Megumi, 2017).

Monyet ekor panjang merupakan satwa primata diurnal atau yang aktif pada siang hari dan keberadaannya dapat ditemukan di berbagai tempat, seperti hutan, hutan rimba, bahkan pantai.  

Monyet ini memiliki kedekatan genetik dengan manusia yang menyebabkan ia sering digunakan sebagai hewan uji coba pada pemberian obat-obatan. Selain itu, monyet ini sering dijadikan satwa hiburan seperti “Topeng Monyet” atau ditempatkan di suatu atau kawasan wisata (Anggraeni dkk., 2013).

Sumber: https://primata.ipb.ac.id/

Animal Welfare sebagai Perlindungan terhadap Monyet Ekor Panjang

Kejadian terhadap monyet ekor panjang yang diperdagangkan dan dimanfaatkan sebagai satwa wisata bertolak belakang dengan UU No.18 tahun 2009 tentang kesejahteraan hewan. Berdasarkan UU tersebut, kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia (PC Imakahi UGM, 2018). Berkaitan dengan UU tersebut, terdapat prinsip kesejahteraan hewan atau Animal welfare yang perlu diterapkan pada spesies monyet ekor panjang meskipun belum ada undang-undang yang melindungi monyet ini dari eksploitasi dan penyalahgunaan (IAR Indonesia, 2015). Kesejahteraan hewan ini dapat dicapai dengan memenuhi “Five of Freedom” atau lima prinsip kebebasan hewan, yaitu:

  1. Bebas dari rasa lapar dan haus;
  2. Bebas dari rasa tidak nyaman;
  3. Bebas dari rasa sakit (luka dan penyakit);
  4. Bebas mengekspresikan perilaku normal;
  5. Bebas dari stress dan tertekan.

Dari kelima prinsip tersebut, jelas bahwa terdapat prinsip yang dilanggar terhadap spesies monyet tersebut khususnya prinsip bebas mengekspresikan perilaku normal karena ketika terjadi perdagangan bebas dan menjadikannya sebagai satwa hiburan akan berdampak pada perubahan perilaku normalnya sebagai satwa liar.

Apa saja jenis primata yang dilindungi?

Primata di Indonesia memiliki jumlah 62 spesies dengan sekitar 77 taksa. Jumlah tersebut termasuk jenis primata yang dilindungi dan juga primata endemik (Tamam, 2020). Dari jumlah tersebut, terdapat 2 jenis primata dikategorikan sangat kritis, 4 jenis genting/endangered, 7 jenis rentan, 10 jenis hampir terancam, 1 jenis bergantung pada upaya konservasi, dan 8 jenis tidak memiliki data yang cukup (Supriatna & Wahyono, 2000 dalam Fauzi et al. 2018 ). Menurut UU nomor tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan termasuk yang memelihara primata yang dilindungi itu bisa dikenakan hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta (ProFauna Indonesia, 2021).

Dikutip dari artikel Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY (2019), pada tanggal 15 Desember 1978, Pemerintah Indonesia mengesahkan Keppres Nomor 43 tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trades on Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES). Pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 dan 8 Tahun 1999 menunjuk Departemen Kehutanan (sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) sebagai otoritas pengelola dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai otoritas keilmuan CITES. CITES terdiri dari 3 apendiks, yaitu apendiks I, apendiks II, apendiks III. Apendiks I berisi daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Apendiks II bersi daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, namun mungkin terancam jika perdagangan terus berlanjut tanpa ada pengaturan. Apendiks III berisi daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di negara tertentu beserta batas-batas kawasan habitatnya dan suatu saat peringkatnya bisa dinaikkan menjadi Apendiks I atau Apendiks II. Dalam hal ini, spesies monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) termasuk dalam apendiks II. Monyet ekor panjang memang tidak termasuk jenis satwa yang dilindungi. Namun, jika perburuan liar masih terus berlanjut, maka populasi monyet ekor panjang akan terancam punah.

Bagaimana Sebaiknya Mahasiswa Biologi Menanggapi Isu Tersebut?

Tren video unboxing monyet dan memelihara spesies bayi monyet yang memiliki nama latin Macaca fascicularis ini sedang booming di kalangan para content creator. Hal ini tentu mengundang kecaman atas perilaku tersebut karena dibalik video unboxing tersebut terdapat praktik perdagangan dan perburuan liar. Hal ini terjadi karena induk dari monyet ekor panjang tidak akan meninggalkan bayinya dalam keadaan apapun. Oleh karena itu, salah satu cara yang dilakukan oleh oknum perburuan satwa liar adalah dengan membunuh induknya. Lalu, bagaimana sebaiknya seorang mahasiswa Biologi menanggapi isu ini?

Menurut Zamzam, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2019, sebagai mahasiswa seharusnya kita bisa menyebar edukasi kepada sekitar karena menurutnya percuma saja jika mengetahui sesuatu yang salah, tetapi tidak berbuat apa-apa. Menurutnya, video unboxing monyet merupakan bentuk versi modern dari topeng monyet yang sebenarnya tetap masuk dalam kategori eksploitasi satwa liar. Pada kenyataannya mereka sama-sama bertujuan untuk mencari uang, tetapi pada pelaksanaannya menyengsarakan satwa. Menurut Ridzqi, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2019, kalau ada topeng monyet lebih baik tidak perlu ditonton. Hal lainnya diungkapkan oleh Daud mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2018 bahwa menyaksikan atraksi satwa sama saja dengan mempertontonkan penyiksaan dan penistaan karakter alamiah satwa. Dengan demikian, hal yang dapat dilakukan adalah dengan tidak menonton konten-konten atau atraksi seperti itu karena semua yang mereka lakukan itu hanya demi uang, sama seperti ilmu ekonomi dasar “apapun yang ada di pasar karena ada permintaan”. 

Menurut Anita, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2016, beberapa pihak yang berwenang masih kurang responsif karena prosedur yang tergolong rumit, seperti pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) harus melakukan analisis dan verifikasi terlebih dahulu kemudian melakukan penyelidikan terkait hewan yang dieksploitasi melalui proses tangkap tangan. Setelah itu, melimpahkan kasus tersebut ke kejaksaan. Dari mekanisme yang terkesan berbelit-belit ini yang membuat beberapa pihak kurang tegas atau terkesan malas dalam menangani kasus ini. Selain itu, menurut Anita, kejadian seperti ini tentu akan berpengaruh terhadap sifat liar spesies monyet tersebut. Hal ini yang dinamakan “mental breakdown” bagi satwa liar yang dipelihara dari hasil korban perdagangan dan eksploitasi yang dapat menyebabkan kondisi stress dan trauma. Terlebih, monyet ekor panjang tidak bisa langsung dilepasliarkan begitu saja ke habitat aslinya setelah dipelihara. Hal seperti ini jelas akan membahayakan hewan tersebut karena mereka sudah didomestikasi (hilangnya sifat liar). Sebagai solusinya, hal yang sama diungkapkan oleh Anita bahwa peran kita sebagai seorang akademika adalah dari segi edukasi. Kita dapat mengunggah hal-hal yang menyinggung terkait animal welfare di media sosial agar dapat mengedukasi secara tidak langsung. 

Selain itu, menurut Sami, mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2018, bentuk edukasi lain yang dapat kita lakukan adalah dengan memberi komentar pada video tersebut atau membuat video reaction sebagai bentuk edukasi dan penentangan terhadap video unboxing monyet tersebut. 

Mencintai (Macaca fascicularis) tidak harus memiliki (Anita, 2021)

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, I. W., Rinaldi, D., & Mardiastuti, A. 2013. Populasi dan habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Bonorowo Wetlands, Hal. 101-113.

BBC. 2021. Video Unboxing Bayi Monyet:’Menonton Sama Saja Mendukung Perburuan dan Perdagangan Satwa Ilegal’. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-55806830. Diakses pada 18 Maret 2021.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY. 2019. Perlindungan Satwa dan Tumbuhan Liar dengan CITES. https://dlhk.jogjaprov.go.id/perlindungan-satwa-dan- tumbuhan-liar-dengan-cites. Diakses pada 17 Maret 2021.

Fauzi, F., Rahmawati, R., & Sandan, P. 2018. Estimation of Population Density and Food Sort of KELASI (Presbytis Rubicunda Muller 1838) in Nyaru Menteng Arboretum of Palangka Raya. Jurnal Ilmiah Pertanian Dan Kehutanan. Vol. 4[1], Hal. 7–16.

Fundrika, B.A. dan Dinda, R. 2021. Pro Kontra Video Viral Unboxing Monyet, Begini Endingnya. https://www.suara.com/lifestyle/2021/01/07/145503/pro-kontra-video-viral-unboxing-monyet-begini-endingnya?page=2. Diakses pada 18 Maret 2021.

IAR Indonesia. 2015. Macaca Rescue. Dari International Animal Rescue: https://www.internationalanimalrescue.or.id/. Diakses pada 19 Maret 2021.

Megumi, S. R. 2017. Monyet Ekor Panjang, Si “Usil” yang Dekat dengan Manusia. https://www.greeners.co/. Diakses pada 17 Maret 2021.

PC Imakahi UGM. 2018. Kajian : Seberapa Pentingkah Animal Welfare? https://imakahi.fkh.ugm.ac.id/. Diakses 19 Maret 2021.

ProFauna Indonesia. 2021. Tentang Primata Indonesia dan Aksi PROFAUNA untuk Menyelamatkannya. http://www.profauna.net/id/kampanye-primata/tentang-primata-indonesia#.YFRAop37TIU. Diakses pada 17 Maret 2021.

Tamam, M. B. 2020. Daftar Primata Indonesia Terbaru – Generasi Biologi. https://generasibiologi.com/2017/08/daftar-nama-primata-di-indonesia.html. Diakses pada 17 Maret 2021.