Skip to content

Infrastruktur Berkelanjutan untuk Transisi Ekonomi Hijau Arah Gerak Pembangunan Infrastruktur Ramah Lingkungan

Penulis: Erisa Zahra 2021

Kata “pembangunan” seringkali dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas fisik umum lainnya. Infrastruktur ini memegang peranan yang penting terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di suatu daerah. Infrastruktur dapat berupa fasilitas umum seperti sarana transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi.  

Mengacu pada Long-term economic growth theory, ketersediaan infrastruktur dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, dimana “Hasil (Y/Yield/Gross Domestic Product) = Total produktivitas (A) x Kapital (K) x Tenaga kerja (L)”. Infrastruktur meningkatkan produksi (K) dan produktivitas (A) sehingga terbentuk market access yang menjadi penghubung rantai pasok barang dan jasa. Dengan kata lain, infrastruktur dapat mengurangi inefisiensi sehingga dapat meningkatkan produktivitas kapital, tenaga kerja, dan leading to higher output/Return to Investment. Infrastruktur juga menyediakan lapangan pekerjaan (L) sehingga hal tersebut dapat menjadi trickle-down economy ke lingkungan sekitar. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil dari hal tersebut adalah bahwa infrastruktur yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan meningkatnya produktivitas tenaga kerja.

—————————–

Akan tetapi, meski infrastruktur menjadi penggerak dalam ekonomi, namun di sisi lain infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi ini dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Beberapa external cost dari pembangunan ekonomi ini, antara lain adalah semakin menipisnya sumber daya alam karena bahan bakar fosil dibutuhkan dalam jumlah yang besar dan kegiatan seperti overfishing dilakukan untuk memperbanyak dan memenuhi produksi serta kebutuhan energi dan sanitasi yang meningkat; adanya polusi sebagai efek samping dari konsumsi bahan bakar fosil; adanya akumulasi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim; adanya kerusakan alam; pemanasan global meningkatkan risiko bencana alam; erosi tanah akibat dari deforestasi; biodiversity loss; dan efek toksin dalam jangka panjang yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan. 

“Infrastructure is responsible for 79 per cent of all greenhouse gas emissions, as well as 88 per cent of all adaptation costs and therefore the sector is centrally important to achieving the Paris Agreement and the Sustainable Development Goals” (UNEP, 2012). 

Pernyataan tersebut juga sejalan dengan World Bank (2018), bahwa lebih dari 60% dari total gas rumah kaca (GRK) di dunia berasal dari konstruksi infrastruktur dan sarana operasionalnya, seperti power plants, gedung-gedung, dan transportasi. 

Dengan meningkatnya emisi karbon dan pemakaian sumber daya alam yang berlebihan, maka akan memberikan dampak buruk bagi keanekaragaman hayati serta merusak fungsi dan jasa ekosistem dalam rentang waktu yang lebih lama (less apparent). Berkurangnya keanekaragaman hayati dapat mengurangi kemampuan jasa ekosistem untuk memenuhi kebutuhan sosial (berkurangnya carrying capacity) sehingga hal tersebut berdampak langsung pada kesehatan, iklim, berkurangnya SDA, dan meningkatkan kemiskinan. 

——————————

Urgensi strategi ekonomi hijau dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan

Solusi dari permasalahan di atas adalah dengan menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Infrastruktur berkelanjutan ini berarti pembangunan jalan, bangunan, energi dan (fasilitas) air dengan mempertimbangkan implikasi ekonomi, sosial, dan lingkungan (IISD). Dioperasionalkan dengan mempertimbangkan ketiga pilar keberlanjutan 3P (people, planet, profit).

“Green Infrastructure reduce energy consumption, improve air quality, provide carbon sequestration, and increase property values. It refers to ecological systems, both natural and engineered, that act as living infrastructure, that exhibit social, economic and environmental benefits” (KPMG, 2020)

Sesuai dengan prinsip resource efficiency, infrastruktur berkelanjutan tidak hanya mendorong pembangunan ekonomi, penyediaan lapangan pekerjaan, dan akses pasar, namun juga meningkatkan kualitas hidup penduduk, membantu melindungi SDA vital dan lingkungan.

Multiple benefit dari infrastruktur berkelanjutan ini antara lain: (1) protection & promotion of biodiversity, (2) adaptation to climate change, (3) health, (4) recreation, (5) community cohesion and (6) economic benefits.

Terkhusus untuk sektor energi, yang merupakan sumber pemanasan global terbesar, infrastruktur berkelanjutan dapat berperan untuk: (1) Mengurangi konsumsi energi; (2) Menyediakan bioenergi; (3) Carbon uptake & storage (CC mitigation).

Melakukan peningkatan kualitas atau membangun infrastruktur berkelanjutan/hijau/rendah karbon di perkotaan merupakan tindakan efektif dalam mengurangi efek negatif perubahan iklim. Hal tersebut juga berkontribusi pada peningkatan ‘kualitas hidup’ masyarakat. 

Contoh sustainable/green/low carbon infrastructure di perkotaan: 

  • Smart & sustainable/green cities 
  • Taman/hutan kota 
  • Bangunan hijau, seperti green roofs, pemasangan solar PV rooftop/PLTS atap, desain yang mengurangi penggunaan energi 
  • Sistem perembesan air hujan/bioswale 
  • Sistem penampungan air hujan/rain harvesting & rain garden 
  • Dry pond 
  • Constructed wetland 
  • Green wall 
  • Transportasi perkotaan ramah lingkungan dan terintegrasi (mengurangi volume kendaraan pribadi) 
  • Jalan dengan pohon peneduh 
  • Pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan (renewable energy), termasuk EV
  • Sistem pengelolaan sampah terpadu

———————————–

Peluang dan tantangan dalam penerapan pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia 

Penerapan konsep ini menjadi peluang yang bagus untuk Indonesia, karena pembangunan infrastruktur berkelanjutan ini sejalan dengan arah pembangunan pemerintah Indonesia menuju ekonomi hijau, selaras dengan agenda transformasi ekonomi Indonesia, mendukung komitmen Net Zero Emission Indonesia dan transisi energi nasional, mendukung kebijakan ekonomi sirkular (aspek resource efficiency), dan mendukung aspirasi Indonesia (dan global) untuk membangun kembali lebih baik “build back better” post-COVID19, sehingga beberapa pernyataan dan urgensi hal ini menjadi peluang yang besar untuk dikembangkan dan berpeluang untuk pendanaan. 

Adapun beberapa tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan hal tersebut adalah:

  • Awareness & Capacity  
  • Financing 
  • Enabling environment 
    • Penyelarasan kebijakan dan program-program pembangunan infrastruktur berkelanjutan 
    • Insentif & disinsentif (termasuk fiskal & non-fiskal) 
  • Leadership & political will 
    • Perlunya whole-of-government approach 
  • Partnership & Collaboration