Skip to content

INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI TANAMAN HIAS SEBAGAI PANGAN DI KECAMATAN JATINANGOR JAWA BARAT

Tumbuhan dapat dikategorikan kedalam beberapa kategori jenis tanaman, salah satunya yaitu tanaman hias. Walaupun tanaman hias sering dicap dengan keindahannya, akan tetapi tanaman hias dapat berpotensi untuk menjadi bahan pangan. Pangan adalah kebutuhan pokok untuk manusia yang perlu dipenuhi dalam kehidupan. Memperoleh bahan pangan adalah salah satu dari hak asasi manusia yang perlu dipenuhi sesuai dengan Pasal 27 UUD 1945 maupun dalam Deklarasi Roma (1996). Pertimbangan tersebut mendasari terbitnya UU No. 7/1996 tentang Pangan. Sebagai kebutuhan dasar dan salah satu hak asasi manusia, pangan mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Di Indonesia, keragaman bahan pangan dirasa masih kurang beragam. Beras menjadi bahan pangan pokok untuk nasi. Begitupun dengan produk bahan pangan pokok lainnya seperti produk kacang, daging dan lain sebagainya (Utami & Budiningsih, 2016). Melihat dari tren pemanfaatan tanaman hias pada masa pandemi, pengkajian fungsi dari tanaman hias dapat dilakukan untuk mengeksplorasi potensi-potensi tanaman hias yang dapat dijadikan bahan pangan, terutama kandungan zatnya. Selain itu, berkembangnya kegiatan usaha tanaman hias di dalam negeri berhubungan dengan meningkatnya pendapatan konsumen, tuntutan keindahan lingkungan, pembangunan industri pariwisata, pembangunan kompleks perumahan, perhotelan, dan perkantoran (Agung dkk., 2017).

Berikut merupakan hasil observasi dan dokumentasi terhadap tanaman hias dan tanaman berpotensi hias sebagai bahan pangan di Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Jawa Barat, data yang didapatkan antara lain sebagai berikut:

Tabel 1. Identifikasi Fungsi Tanaman Hias Kecamatan Jatinangor Sumedang 

NONama Ilmiah TumbuhanNama Lokal TumbuhanPemanfaatan
1Gardenia jasminoides EllisKacapiringMinuman (Mutiah, 2018)
2Impatiens wallerianaPacar airPewarna Makanan (Pires dkk., 2021)
3Arachis hypogeaKacang TanahPakan Ternak (Kusumawati, 2019)
4Aloe veraLidah BuayaMakanan dan minuman  (Purwaningsih, 2017)
5Heliconia bihaiPisang bugisPembungkus Makanan (Dodampe dkk., 2020)
6Hibiscus rosa-sinensisKembang SepatuPewarna Makanan (Oktiarni dkk., 2013)
7Rosa sp.MawarSelai (Elfi, 2016)
8Ophiopogon japonicusRumput KucaiMakanan Obat (Yeung, 1985)
9Euphorbia miliiMahkota DuriMakanan Obat (Opferkutch & Hecker, 1982)
10Jatropha integerrimaPeregrinaMakanan Obat (Kirtikar & Basu, 2002)
11Biden pilosaKetulSayuran (Paiman, 2020)
12Oxalis barrelieriCalincing tanahSayuran (Phuong, 2003)
13Ipomea obscuraKangkung putih bintangSayuran (Amah & Opara, 2019)
14Cosmos sulphureusKenikir sulfur Sayuran (Jansen, 2005)
15Yucca gloriosaTombak rajaRoti (Tanaka, 1976)

Penjelasan Manfaat Tanaman Hias Sebagai Bahan Pangan 

  1. Gardenia jasminoides Ellis
Gambar 1. Gardenia jasminoides Ellis (Verliansyah, 2021)

Jasminoides Gardenia Ellis (Gardenia jasminoides Ellis) yang diekstraksi dengan air dapat membentuk gel. Gel digunakan sebagai sumber makanan yang mengandung klorofil dan fenol yang dapat digunakan sebagai antioksidan alami. Ekstrak daun dan gel dengan pelarut polar semi-polar dapat mengurangi senyawa radikal bebas sehingga dapat diterapkan pada obat-obatan (farmasi atau nutraceutical) (Yoga, 2008). Ini didasarkan pada studi yang lengkap menyatakan bahwa daun kacapiring dapat diproduksi menjadi jeli. Daun kacapiring yang diekstraksi dengan air dapat membentuk gel atau frost (Farida, 2018).  

Gardenia umumnya digunakan sebagai tanaman pagar. Namun, di Desa Mandepo, Simpang, masyarakat sering mengkonsumsinya untuk membuat jelly atau minuman agar-agar. Dengan memeras daunnya untuk menghasilkan gel, daun gardenia ini diubah menjadi jelly drink. Gel dari daunnya digunakan untuk mengobati sakit maag dan  sariawan (Mutiah, 2018).

  1.  Impatiens walleriana
Gambar 2. Impatiens walleriana (Verliansyah, 2021)

Tumbuhan ini berpotensi sebagai zat pewarna makanan. Percobaan oleh Pires dkk., (2019) yang menguji genus Impatiens yang memiliki warna mahkota jingga dan merah muda menunjukkan hasil aktivitas biologis  anti bakteri, anti oksidan, dan anti jamur. Mahkota bunga Impatiens berwarna merah muda menunjukkan intensitas warna yang lebih tinggi (terkait komposisi antosianin), sedangkan ekstrak bunga bermahkota oranye memiliki komponen penyusun yang lebih bervariasi.

Hasil penelitian pada beberapa tahun terakhir telah menunjukkan evaluasi zat alami sebagai zat antioksidatif tambahan dan pengembangan produk makanan baru. (Kebede & Admassu, 2019). Salah satunya dari tanaman. Bunga Impatiens walleriana memiliki antioksidan dan antifungi yang tinggi, dan berpotensi sebagai antioksidan alami di bidang pangan (Haider & Ullah, 2019).

  1.  Arachis hypogea
Gambar  3. Arachis hypogea (Verliansyah, 2021)

Arachis hypogea L. yang memiliki nama lokal kacang tanah merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan dalam bidang pangan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Pemanfaatan dari produk kacang tanah sebagai bahan pangan diantaranya adalah sebagai kacang rebus dan bumbu berbagai macam masakan, selain itu daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak (Kusumawati dkk, 2019). 

Kacang tanah ini memiliki kandungan lemak, protein yang tinggi, vitamin E, vitamin B kompleks, vitamin A, vitamin K zat besi, fosfor, lecithin, kolin dan kalsium. Kandungan protein dalam biji kacang tanah merupakan salah satu parameter yang menentukan kualitas nutrisi biji (Zulchi, T dan Puad, H. 2017).

  1. Aloe vera
Gambar 4. Aloe vera (Verliansyah, 2021)

Lidah buaya (Aloe vera Linn.) adalah tanaman suku Liliaceae asli Afrika. Menurut Sudarto (1997) dalam Marhaeni (2020), tanaman lidah buaya adalah tanaman serofit tahunan yang efisien dalam penggunaan air. Hal ini dikarenakan lidah buaya hanya perlu sedikit air untuk pertumbuhannya sehingga dapat tumbuh di daerah kering dengan daya adaptasi yang tinggi.

Pada saat ini terdapat tiga jenis lidah buaya yang telah umum diusahakan dengan tujuan komersial, yakni: Aloe barbadensis Miller (Curacao aloe atau Aloe vera) dari Amerika, Aloe ferox Miller (Cape aloe) dari Afrika, Aloe cinensis dari Asia (Cina) (Marhaeni, 2020). Menurut Asngad (2008) dalam Kesumawati & Yukiman (2019), komponen yang dikandung lidah buaya adalah air mencapai 99,5% dengan total padatan terlarut hanya 0,49%, lemak 0,67%, karbohidrat 0,043%, protein 0,038%, vitamin A 4,594% IU, dan vitamin C 3,476 mg. Hagen (2001) dalam Marhaeni (2020) menambahkan bahwa secara kimia daun lidah buaya lidah buaya terdiri dari 90% air, 4% karbohidrat, mineral, dan 17 macam asam amino. Unsur-unsur yang terkandung dalam suatu tanaman lidah buaya seperti aloin, emodin, resin gum dan minyak atsiri dapat diolah menjadi berbagai jenis produk yang siap pakai, yaitu sari lidah buaya, selai, minuman berkarbonat, teh, pasta, juice, tepung (aloe powder), gel, dan konsentrat (Marhaeni, 2020).

  1. Heliconia bihai
Gambar 5. Heliconia bihai (Verliansyah, 2021)

Heliconia bihai atau yang juga disebut sebagai bunga pisang-pisangan dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan. Berdasarkan eksperimen dari University of Colombo Institute of Agro-Technology and Rural Science daun Heliconia dapat dikembangkan menjadi pembungkus makanan yang biodegradable (mudah terurai secara alami) (Dodampe dkk., 2020). 

  1.  Hibiscus rosa-sinensis
Gambar 6. Hibiscus rosa-sinensis (Verliansyah, 2021)

Hibiscus rosa-sinensis atau bunga kembang sepatu merupakan salah satu jenis bunga yang dapat ekstraknya menghasilkan pigmen antosianin. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan alami seperti pewarna pada mie basah (Oktiarni dkk., 2013).

  1. Rosa sp.
Gambar 7.Rosa sp. (Verliansyah, 2021)

Bunga Mawar (Rosa sp.) merupakan bunga yang banyak ditemui di berbagai wilayah di Indonesia. Bunga ini termasuk di keluarga Rosaceae yang sering digunakan sebagai tanaman hias oleh masyarakat Indonesia. Bagian mahkota mengandung antioksidan yang bersifat eksogen tinggi. Selain itu, mahkotanya juga memiliki kandungan vitamin C, antosianin dan zink, serta berkhasiat untuk kesehatan pencernaan, metabolisme, batuk, dan melancarkan haid. Bunga Mawar juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan. Salah satu bahan olahan yang dapat dibuat dari bunga ini adalah selai. Mengkonsumsi selai mawar secara rutin dapat meningkatkan daya tahan dikarenakan tidak mengandung bahan kimiawi. Zat gizi yang terkandung dalam selai ratu bunga ini terdapat beberapa vitamin B, E, dan K, serta antioksidan dan antosianin yang baik bagi tubuh. Selain itu, terdapat kandungan bahan tambahan seperti jeruk purut yang kaya akan vitamin C dan gula fruktosa yang aman bagi penderita diabetes  (Rukmana, 2005).

  1. Ophiopogon japonicus
Gambar 8. Ophiopogon japonicus (Verliansyah, 2021)

Tumbuhan evergreen biasanya memakai bagian Root sebagai bahan pangan untuk obat, Khususnya pada bagian akar. Akarnya bersifat antitusif, afrodisiak, ekspektoran, dada, sedatif, sialogogue, perut dan tonik (Yeung, 1985). Dikatakan memiliki aktivitas antikanker. Hal ini digunakan secara internal dalam pengobatan batuk kering, demam, haus, sembelit kering, insomnia, kecemasan dan jantung berdebar. Akar juga sering digunakan dalam pengobatan poliherbal diabetes mellitus. Akar memiliki aksi antibakteri, menghambat pertumbuhan Staphylococcus, E. coli, Bacillus subtilis, B. typhi (Bown, 1995). Akar dipanen di musim semi dan dikeringkan untuk digunakan nanti. Tanaman ini antipiretik, anti skrofulatik, antitusif, emolien, ekspektoran dan tonik menurunkan tekanan darah. Nodul pada akar berserat digunakan sebagai tonik nutrisi dalam pengobatan TB (Kariyone, 1971).

  1. Euphorbia milii
Gambar 9. Euphorbia milii (Verliansyah, 2021)

Euphorbia milii banyak digunakan dalam pengobatan tradisional untuk pengobatan kutil (Brasil Selatan), kanker dan hepatitis (Cina). Telah dilaporkan bahwa Euphorbia milii memiliki sifat antijamur dan antinosiseptif, bertindak sebagai moluskisida alami, dan dapat mengekang penyebaran schistosomiasis. Beberapa ester diterpene terakhir dari ingenol adalah iritasi kulit yang kuat, berbeda dengan turunan ingenol dan phorbol yang terkait erat lainnya, E. milii tidak menunjukkan aktivitas yang mempromosikan tumor (Opferkutch & Hecker, 1982).

  1. Jatropha integerrima
Gambar 10. Jatropha integerrima (Verliansyah, 2021)

Jatropha integerrima  dapat diekstraksi dari bagian yang berbeda seperti daun, batang, kulit kayu dan akar. Semua bagian tersebut digunakan sebagai obat pencahar, obat penahan darah, obat muntah, pengobatan kutil, tumor, rematik, herpes, pruritus, sakit gigi, kudis, eksim dan kurap (Kirtikar & Basu, 2002).  Daun dan cabang tanaman telah terbukti memiliki aktivitas kolinesterase sedangkan lateks tanaman telah menunjukkan aktivitas anti kanker (Sharma & Singh, 2012).

  1. Biden pilosa
Gambar 11. Biden pilosa (Zahdi, 2021)

Biden pilosa (ketul) merupakan gulma semusim (annual weed) yang dapat tumbuh tegak hingga 1 m serta sedikit beraroma dan berbulu. Gulma ini berasal dari Afrika Selatan dan menyebar ke seluruh Indonesia kecuali Kalimantan dan Maluku. Di Afrika Selatan gulma ini digunakan sebagai pangan sayur. Oleh karena itu, tanaman ini dapat berpotensi menjadi tanaman yang dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai sayur (Paiman, 2020).

  1. Oxalis barrelieri
Gambar 12. Oxalis barrelieri (Verliansyah, 2021)

Oxalis barrelieri atau yang juga disebut blimbing-blimbingan merupakan tanaman semak tegak berkayu yang berasal dari Amerika Selatan. Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih dengan kelopak kehijauan. Oxalis barrelieri dikenal sebagai “Khe dat” atau tanaman obat tahunan yang baru-baru ini ditemukan di distrik Tien Phuoc, Provinsi Quang Nam. Bagian daunnya dapat dijadikan jus segar untuk meredakan sengatan matahari, influenza, dan sakit kepala. Daun segar dan cabang muda juga digunakan sebagai sayuran (Phuong, 2003). 

  1. Ipomea obscura
Gambar 13. Ipomea obscura (Verliansyah, 2021)

Banyak efek obat dari Ipomea obscura telah diidentifikasi. Biasanya digunakan dalam pengobatan gangguan inflamasi dan diare (Sekhar dkk., 2007). Rebusan daun kering dan batang tanaman ini secara tradisional digunakan dalam pengobatan disentri (Arvind dkk., 2010).  Meskipun kandungan mineral daun Ipomoea obscura rendah, kekayaan vitamin A, B1, B2, B3 dan C membuatnya menjadi diet ideal untuk masyarakat miskin pedesaan yang tidak mampu membeli sayuran eksotis dan mahal yang bahkan mungkin kekurangan beberapa atau sebagian besar nutrisi hadir dalam spesies lokal, liar dan terabaikan seperti Ipomoea obscura (Amah & Opara, 2019).

  1. Cosmos sulphureus
Gambar 14. Cosmos sulphureus (Verliansyah, 2021)

Kepala bunga Cosmos sulphureus mengandung zat warna flavonoid golongan chalcone dan aurone. Flavonoid spesifik dalam Cosmos sulphureus belum sepenuhnya dijelaskan, meskipun telah ditemukan: luteolin, sekelompok flavonoid yang memiliki quercetin sebagai aglikon mereka, dan sekelompok glikosida kalkon. Semua ini merupakan pewarna kuning yang bagus. Aplikasi obat tradisional di Cina spesies Cosmos sulphureus telah dikonfirmasi oleh fakta bahwa ekstrak Cosmos sulphureus terbukti menghambat bakteri, jamur, dan virus dan memiliki efek anti-inflamasi yang kuat dalam percobaan hewan laboratorium dengan tukak lambung yang diinduksi, peradangan hati, atau pembengkakan tipe arthritis (Jansen, 2005).

  1. Yucca gloriosa
Gambar 14. Yucca gloriosa (Verliansyah, 2021)

Batang, pangkal daun, bunga, tangkai yang muncul serta buah Yucca gloriosa dapat dimakan. Batang atau batang yucca menyimpan karbohidrat dalam bahan kimia yang disebut saponin, yang beracun sehingga saponin perlu dipecah dengan dipanggang atau direbus (Bird, 1990). Salah satu bagian Yucca gloriosa yaitu akar ketika diolah atau dimasak bisa dibuat menjadi tepung sehingga bisa dijadikan sebagai roti (Tanaka, 1976).

Potensi Manfaat Tanaman Hias sebagai Bahan Pangan di Berbagai Sektor

Sektor Kesehatan

Menurut Hartati (2011) pada Majanah & Saputri (2019) , setiap tanaman memiliki khasiat obat bahkan pada tanaman hias. Sekarang ini, tanaman hias mulai dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat karena mudah untuk diperoleh dan minim efek samping. Pengetahuan mengenai pentingnya tanaman hias sebagai obat tradisional dapat dijadikan sarana untuk menciptakan masyarakat yang sehat (Riani, 2009). Banyak jenis tanaman hias yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, seperti tanaman kembang sepatu dan jengger ayam. Menurut Murti (2013), manfaat tanaman hias bagi kesehatan, yaitu untuk menyerap debu dalam ruangan, mengurangi rasa kantuk karena dapat menyerap CO2, memberikan kesegaran dalam ruangan, mengurangi stress, menyehatkan mata, serta sebagai aroma terapi. 

Kualitas visual tanaman hias tentu terkait dengan keseimbangan nutrisi yang memadai. Tinggi, bentuk, dan warna tanaman merupakan aspek kualitatif spesies hias, yang secara langsung dipengaruhi oleh nutrisi mineral, di antara aspek lingkungan lainnya. Potensi nutraceutical mereka bermanfaat bagi kesehatan manusia juga dari segi dampak psikologis dengan menggabungkan keindahan bunga dengan kelezatannya. Nilai gizi mereka disediakan oleh serbuk sari (kaya protein dan asam amino), nektar (kaya gula), dan jaringan mahkota (kaya pigmen, vitamin, dan mikro). Campuran primer (gula, protein, dll.) dan metabolit sekunder (vitamin, pigmen, dll.) membantu mencegah kekurangan nutrisi dalam makanan manusia (Pires dkk., 2019). 

Sektor Ekonomi

Tanaman hias memiliki kegunaan ekonomi lain selain hiasan atau adat istiadat yang telah dibahas. Banyak tanaman dapat dimakan dan digunakan dalam beberapa jenis minuman sebagai nilai obat. Bunga mempengaruhi ekonomi dalam beberapa cara. Tanaman berbunga berfungsi sebagai sumber makanan, dengan bunga yang sebenarnya dapat dimakan dalam beberapa kasus. Bunga juga penting dalam proses penyerbukan, yang sangat penting untuk produksi makanan yang berkelanjutan. Karena pentingnya tanaman pangan, bunga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Bunga ini juga kadang-kadang digunakan untuk tujuan pengobatan (Saini dkk., 2020).

Sektor Pendidikan

Salah satu manfaat tanaman hias dalam sektor pendidikan adalah taman sekolah. Taman sekolah dapat dijadikan kawasan budidaya di sekitar sekolah yang paling tidak sebagian kawasan akan dipelihara oleh peserta didik. Taman sekolah dapat menghasilkan sayuran dan buah-buahan dalam skala kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Keberadaan taman sekolah sebagai tempat penanaman tanaman hias dapat menjadi sarana kontribusi penting jangka panjang pagi kesehatan nasional dan ketahanan pangan (FAO, 2010).

Sektor Sosial dan Budaya

Tanaman hias dapat digunakan sebagai bahan baku makanan sehingga dipasarkan dalam jumlah kecil. Pada saat yang bersamaan hal ini dapat menjadi sarana untuk mempromosikan penggunaan sumber daya alam yang efisien dengan memanfaatkan tanaman hias. Budidaya tanaman hias khususnya di daerah pedesaan menjadi hal yang penting karena beberapa daerah kekurangan toko bunga untuk memenuhi permintaan tanaman untuk acara keagamaan, keluarga, ataupun perayaan budaya. Dengan demikian, budidaya tanaman hias dapat menjadi peluang perdagangan lokal sekaligus berpotensi dikomersialkan untuk digunakan pada acara sosial dan budaya lokal (Zitácuaro-Contreras, dkk., 2021).