Skip to content

KELAHIRAN DUA BADAK JAWA YANG TERANCAM PUNAH

(Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021)

Original Article : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2021). Populasi Badak Jawa Di Taman Nasional Ujung Kulon Meningkat.  Diakses pada 11 September 2021 pukul 21.19 WIB. http://ppid.menlhk.go.id/berita/siaran-pers/6120/populasi-badak-jawa-di-taman-nasional-ujung-kulon-meningkat

Badak jawa merupakan hewan yang hidup di kawasan hutan hujan tropis dataran rendah, terutama di sekitar perairan (Schenkel dan Schenkel 1969). Rhinoceros sondaicus juga dikenal sebagai badak bercula satu. Jantan dewasa hanya memiliki satu tanduk yang panjangnya 25 cm, sedangkan betina tidak memiliki tanduk sama sekali. Badak Jawa memiliki kulit abu-abu dengan beberapa lipatan kaku yang bersatu. Lipatan badak jawa terdapat pada bagian bahu, punggung, dan ujung belakang. Badak Jawa memiliki berat tubuh hingga mencapai 1500-2000 kg (Clauss et al., 2003).

Populasi badak Jawa turun menjadi hanya 62 individu pada tahun 2013, akibat perburuan dan hilangnya habitat. Namun, pada bulan April, Juni 2021 diinformasikan terdapat 2 badak jawa yang tertangkap kamera di Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa Barat, Indonesia. Sebelumnya di bulan Maret 2021, 2 anak badak jawa juga berhasil ditemukan.

Taman Nasional Ujung Kulon menjadi satu-satunya tempat yang menampung badak spesies tersebut. Taman Nasional Ujung Kulon memiliki luas 12.600 hektar dan ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991. Pemantauan populasi dilakukan dengan mengandalkan survei camera trap.

Pada 18 Maret 2021, anak badak jawa berhasil terekam video kamera trap memiliki jenis kelamin betina yang berasal dari induk badak bernama Ambu. Ambu sebelumnya telah tercatat melahirkan pada tahun 2017, hingga kelahiran tersebut menjadi kelahiran kedua bagi Ambu. Anak badak yang kedua berhasil terekam pada tanggal 27 Maret 2021 dan diperkirakan sudah berusia satu tahun. Anak badak tersebut berjenis kelamin jantan, dan terekam saat sedang bersama Palasari yaitu induknya.

(Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021)

Anak badak jawa ketiga yakni berjenis kelamin jantan dan mulai terekam pada 12 April 2021. Anak badak tersebut diperkirakan berusia 3-4 bulan yang terekam bersama induknya yaitu Ratih dan merupakan kelahiran pertamanya. Pada 9 Juni 2021 telah terekam keberadaan anak badak jawa keempat yang berjenis kelamin betina. Anak badak tersebut merupakan anak dari induknya yaitu Kasih dan menjadi kelahiran ketiga bagi Kasih.

Kelahiran-kelahiran anak Badak Jawa menjadi kabar baik bagi dunia konservasi. Hal tersebut menjadi salah satu penanda bahwa Taman Nasional Ujung Kulon memberikan pemantauan populasi dengan penuh kehati-hatian pada perlindungan habitat sehingga badak dapat berkembang biak.

Clauss, M., R. Frey, B. Keifer, M. Lechner-Doll, W. Loehlein, C. Polster, G. Rössner, W. Streich. 2003. The maximum attainable body size of herbivorous mammals: morphophysiological constraints on foregut, and adaptations of hindgut fermenters. Oecologia, 136/1: 14-27.