Skip to content

KOMODO BERUBAH STATUS KONSERVASI, JADI STATUS TERANCAM PUNAH

(Stanley, 2019)

Original Article : James. (2021). Komodo dragon is now listed as Endangered as rising sea levels threaten its survival. Diakses pada 11 September 2021 pukul 21.19 WIB.    {Online}: https://www.nhm.ac.uk/discover/news/2021/september/komodo-dragon-is-now-listed-as-endangered-as-rising-sea-levels-t.html

Varanus komodoensis atau biasa disebut sebagai komodo merupakan satwa reptil endemik yang ada di Indonesia. Komodo merupakan kadal terbesar yang hanya ditemukan di wilayah Sunda kecil kepulauan Indonesia, termasuk pulau Komodo, Flores, Rinca, dan Padar. Komodo dewasa umumnya hidup di hutan sabana tropis. Daerah yang memiliki rerumputan, dan semak-semak, namun juga ditemukan di daerah bukit, pantai, dasar sungai. Berbeda dengan komodo dewasa, komodo muda bersifat arboreal dan tinggal di daerah sekitar Hutan (De Lisle, 1996).

Hewan tersebut merupakan jenis karnivora yang mengkonsumsi rusa, babi, dan kerbau, komodo juga memiliki gigitan berbisa yang membantu menjatuhkan targetnya. Komodo dewasa dapat bertelur sekitar 30 butir, 20 diantaranya kemungkinan akan menetas. Namun, hanya 2 bayi yang dapat bertahan hingga tumbuh dewasa. Oleh karena itu, spesies ini memiliki populasi yang terbatas di dunia.

Pada awalnya, komodo sudah masuk ke dalam kategori langka pada tahun 1986. Namun, pada tahun 1996 ditetapkan ulang sebagai kategori rentan. Komodo dewasa yang tersisa di dunia berkisar kurang dari 1.400, sehingga IUCN memindahkan kategori dari rentan menjadi terancam punah. Sehingga pada tahun 2021, IUCN mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan dengan gaya hidup dan habitatnya sehingga kategori ditetapkan ulang menjadi Terancam punah.

Dikarenakan habitat utama komodo yang berada di sabana dataran rendah sehingga ancaman paling signifikan bagi komodo adalah iklim yang berubah dengan cepat. Peningkatan suhu global membuat daerah dataran rendah menyempit dan diprediksi paling ekstrim menunjukkan bahwa komodo dapat kehilangan hingga 71% habitatnya dalam 45 tahun ke depan. Naiknya permukaan laut juga menjadi salah satu penyebab kepunahan bagi beberapa spesies di seluruh dunia, karena dapat menghancurkan habitat dan mungkin dapat menenggelamkan individu satwa tersebut.

Faktor lain yang menjadi ancaman adalah populasi yang tidak dilindungi di Flores yang menjadi habitat dari komodo. Pemburu pulau akan bersaing dengan komodo untuk menangkap mangsa yang sama. Banyak juga habitat reptil yang dialih fungsikan menjadi lahan pertanian. Terdapat juga ancaman saat komodo diperdagangkan secara ilegal. Spesies invasif juga diselidiki menjadi faktor yang dapat mempengaruhi jumlah komodo karena dapat menjadi predator bagi komodo muda. Selain itu, terdapat ancaman yang datangnya dari sumber internal yakni aliran gen antara kelompok komodo yang rendah sehingga membuat populasi rentan terhadap penyakit.

Berdasarkan beberapa faktor yang berpotensi menjadi ancaman kepunahan komodo yang telah disebutkan membuat satwa tersebut ditetapkan sebagai kategori terancam punah. Oleh karena itu, upaya untuk memahami dampak dan penanggulangan dari perubahan iklim terus dipelajari berlanjut. Terdapat juga kelompok seperti Komodo Survival Program bekerja mencari solusi agar manusia dan komodo dapat hidup berdampingan, sementara pemerintah Indonesia telah bergerak untuk membatasi pariwisata ke Komodo.

De Lisle, H. 1996. The Natural History of Monitor Lizards. Malabar, Florida: Krieger Publishing Company. Stanley,D. 2019. Sulphurea Hill. Diakses pada 11 September 2021 pukul 21.25 WIB.    {Online}: https://flickr.com/photos/davidstanleytravel/48134032943