Skip to content

Limbah Medis dan Limbah Rumah Tangga Meningkat Selama Pandemi Covid-19, Bagaimana Mengatasinya?

Oleh Faris Verliansyah, Al Meisya Nur A., Viola Sukma A., Lulu Aulia R. (Divisi Flora dan Lingkungan DP XLII Himbio Unpad)

Seperti yang kita ketahui, bahwa pandemi Covid-19 telah masuk dan menyebar di negara kita sejak tahun 2019 dan sampai saat ini kita masih dihadapkan dengan situasi pandemi Covid-19. Seiring dengan pandemi ini, limbah medis dan rumah tangga pun tidak terasa mengalami peningkatan setiap harinya karena kebutuhan medis dan rumah tangga yang juga terus meningkat di setiap wilayah.   

Limbah itu apa?

Menurut Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999, limbah merupakan sisa atau buangan dari suatu usaha dan atau kegiatan manusia, bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.

Jenis limbah bermacam-macam diantaranya limbah medis dan limbah rumah tangga. Menurut Undang-undang Medical Waste Tracking Act tahun 1988, limbah medis yaitu limbah yang mengandung bahan infeksius dan biasanya berasal dari fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, laboratorium, pusat penelitian medis, dan sebagainya. Kategori limbah medis secara umum oleh WHO, yaitu benda tajam, limbah menular, radioaktif, obat-obatan, bahan kimia, patologi dan limbah genotoksik. Adapun, limbah rumah tangga menurut Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya, yaitu limbah hasil aktivitas rumah tangga yang berasal dari dapur (sampah organik dan anorganik), kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia.

Peningkatan Limbah Medis dan Rumah Tangga di Masa Pandemi

“Jumlah sampah nasional tahun 2020 mencapai 67,8 juta ton, naik lebih dari 3 ton jika dibandingkan tahun sebelumnya,” data KLHK 2020.

Menurut data dari LIPI (2020), limbah medis hampir mencapai 1663 ton termasuk sampah medis seperti masker, alat pelindung diri, selang infus, botol, serta kemasan obat dan sebagainya.  Adapun, menurut data KLHK (2020) terdapat 88 ton limbah medis per hari. Termasuk limbah medis akibat Covid-19, limbah medis naik 30% karena tidak hanya datang dari fasilitas layanan kesehatan, tapi juga dari hotel-hotel.

“Sampah di masa pandemi di rumah tangga meningkat 36%. Karena memang dari kemasan kemasan, masker, dan sampah lainnya, tapi memang ada penurunan terutama perkantoran, mal dan sejenisnya. Timbunan sampah yang masuk ke TPA memang agak berkurang kurang lebih 10 sampai 15% karena orang tidak bekerja, karena bekerja di rumah. Tapi yang sampah plastik yang dari rumah-rumah,” tutur Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 Sinta Saptarina.

Penyebab dari meningkatnya limbah medis, yaitu adanya pandemi Covid-19, penggunaan APD yang meningkat, kebutuhan medis yang meningkat, dan peningkatan sumber limbah medis selain fasyankes. Sedangkan, penyebab meningkatnya limbah rumah tangga diantaranya aktivitas  rumah tangga meningkat, tambahan kebutuhan medis, belanja online, dan delivery makanan. Hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan peningkatan frekuensi belanja online yang naik menjadi 1-10 kali dari 1-5 kali per bulan. 

Lalu, Bagaimana Langkah yang Harus Kita Lakukan untuk Mengelola Limbah di Masa Pandemi?

Pertama, lakukan pemisahan sampah ala Kang Pisman

  • Kurangi pemakaian sampah
  • Lakukan pemisahan sampah
  • Manfaatkan sampah

Kedua, usahakan tidak menggunakan single-use packaging

Ketiga, manfaatkan sampah dengan membuat kompos

Keempat, lakukan pengelolaan sampah dengan metode Takakura