Skip to content

Mengenal 3 spesies Orang Utan di Indonesia

(Rahmadi, 2019)

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki tingkat biodiversitas yang tinggi. Salah satunya adalah satwa primata yakni orangutan. Orangutan merupakan satwa yang dilindungi dalam hukum nasional, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Di Indonesia terdapat 3 spesies orangutan yakni Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).Ketiga spesies tersebut berada dalam status konservasi yaitu Critically Endangered.

Orangutan Sumatera (Pongo abelii)

Orangutan Sumatera memiliki kantung pipi yang panjang pada orangutan jantan. Pongo abelii memiliki perbedaan dengan orangutan Borneo yaitu bulu yang cenderung lebih panjang, tebal dan terang didominasi oleh warna coklat dan jingga. Selain itu spesies ini memiliki dimorfisme seksual yakni pada jantan beratnya berkisar 50-90 kg dan pada betina 30-50 kg (Cocks, 2003). Dalam IUCN Red List, Orangutan Sumatera dikategorikan Critically Endangered. Habitat orangutan yang kritis dengan cepat hilang melalui pembalakan liar dan legal di Sumatera. Selain itu, dapat disebabkan juga karena perdagangan hewan peliharaan ilegal dan kebakaran hutan (Singleton et al., 2017).

Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus)

Pongo pygmaeus memiliki rambut panjang berwarna merah-oranye dan memiliki lengan yang panjang. Lengan panjang tersebut sesuai dengan kebiasaan orangutan borneo dalam berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Spesies ini memiliki dimorfisme seksual yakni pada jantan tinggi rata-rata 970 mm dan berat rata-rata  87 kg, sedangkan pada betina berkisar 780 mm dan 37 kg untuk masing-masing tinggi rata-rata dan berat rata-rata . Pada bagian pelipis beberapa orangutan Borneo jantan dewasa terdapat bantalan. Terdapat jakun yang lebih besar dari orangutan Sumatera dapat digelembungkan untuk menghasilkan suara keras (Lang, 2010). Dalam IUCN Red List, Orangutan Sumatera dikategorikan Critically Endangered (Ancrenaz et al., 2016). Orangutan borneo bergantung pada keberadaan pohon untuk bertahan hidup, namun belakangan ini degradasi hutan dan penebangan pohon kerap dilakukan. Selain itu, dalam suatu wawancara di tahun 2011 disimpulkan bahwa pembunuhan 2.000–3.000 orangutan terjadi dalam kurun waktu 4 tahun (Meijaard et al., 2011).

Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)

Morfologi luar dari orangutan Tapanuli mirip dengan P. abelii dalam bentuk tubuh linier dan lebih banyak rambut berwarna coklat muda daripada P. pygmaeus, tekstur rambut keriting. Pongo tapanuliensis memiliki kumis yang menonjol dan flanges (bantal pipi) datar yang ditutupi rambut berbulu halus pada jantan umumnya, sedangkan pada jantan dewasa akan menyerupai orangutan Borneo. Pada betina memiliki janggut. Spesies ini dibedakan dari kedua spesies lainnya dilihat dari kraniometri, gen DNA. Berdasarkan gen DNA mitokondria dinyatakan orangutan betina di Batang Toru memiliki kekerabatan lebih dekat dengan orangutan Borneo dibandingkan orangutan Sumatera (Nater et al., 2017). Dalam IUCN Red List, Orangutan Sumatera dikategorikan Critically Endangered (Nowak et al., 2017). Spesies ini berada di bawah ancaman hilangnya habitat dari pertanian, perburuan dan pembunuhan konflik, dan pengembangan di daerah untuk infrastruktur, pertambangan emas, dan panas bumi dan hidro-energi (Meijaard et al., 2021).

Sumber :

Ancrenaz, M., Gumal, M., Marshall, A.J., Meijaard, E., Wich , S.A. & Husson, S. (2016). “Pongo pygmaeus”. The IUCN Red List of Threatened Species. Diakses pada 21 Agustus 2021 pukul 15.25 WIB. {Online}: https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-1.RLTS.T17975A17966347.en.

Cocks, L. (2003). Orangutans: And Their Battle for Survival. Claremont, West Australia: University of Western Australia Press.

Lang, K. (2010). “National Primate Research Center, University of Wisconsin – Madsion” Diakses pada 21 Agustus 2021 pukul 15.23 WIB. {Online}: http://pin.primate.wisc.edu/factsheets/entry/orangutan/taxon.

Meijaard, E., Buchori, D., Hadiprakarsa, Y., Ancrenaz, M. et al. (2011). Quantifying killing of orangutans and human-orangutan conflict in Kalimantan, Indonesia. PLoS One 6(11): e27491.

Meijaard, E., Ni’matullah, S., Dennis, R., Sherman, J., & Wich, S. A. (2021). The historical range and drivers of decline of the Tapanuli orangutan. PloS one, 16(1), e0238087.

Nater, A., Mattle-Greminger, M. P., Nurcahyo, A., Nowak, M. G., De Manuel, M., Desai, T., … & Krützen, M. (2017). Morphometric, behavioral, and genomic evidence for a new orangutan species. Current Biology, 27(22), 3487-3498.

Nowak, M.G., Rianti, P., Wich , S.A., Meijaard, E. & Fredriksson, G. (2017). Pongo tapanuliensis. The IUCN Red List of Threatened Species. Diakses pada 21 Agustus 2021 pukul 18.24 WIB. {Online}:  https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2017-3.RLTS.T120588639A120588662.en.

Rahmadi. (2019). Orangutan Tapanuli dan 7 Fakta Uniknya. Diakses pada 21 Agustus 2021 pukul 17.52 WIB. {Online}: https://www.mongabay.co.id/2019/10/29/orangutan-tapanuli-dan-7-fakta-uniknya/

Singleton, I., S. Wich, M. Griffiths. (2017). “Pongo abelii” . 2017 IUCN Red List of Threatened Species. Diakses pada 21 Agustus 2021 pukul 15.21 WIB. {Online}: https://www.iucnredlist.org/species/121097935/123797627