Skip to content

MENGENAL PERAIRAN INDONESIA SEBAGAI CORAL TRIANGLE

(Foale et al., 2013)

Indonesia disebut sebagai negara maritim dengan kepulauan terbesar. Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau dan terdiri dari 70% wilayah perairan. Kawasan Asia pasifik merupakan kawasan yang dikenal sebagai kawasan yang strategis dan kaya akan sumber daya hayati lautnya. Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk ke dalam kawasan Asia Pasifik (Iskandar, 2016).

Salah satu sumber daya hayati laut yang bermanfaat adalah terumbu karang. ​​Luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi, atau sekitar 18% dari total kawasan terumbu karang dunia. Para ilmuwan menyebutkan bahwa “pusat” keanekaragaman hayati terumbu karang dunia berada di Kepulauan Raja Ampat. Berdasarkan kriteria penemuan lebih dari 500 jenis karang, wilayah Indo-Pasifik ditetapkan sebagai wilayah coral triangle (Iskandar, 2016).

Wilayah yang masuk ke dalam coral triangle antara lain yakni Indonesia (bagian tengah dan timur), Timor Leste, Filipina, Malaysia (Sabah), Papua Nugini (PNG), dan Kepulauan Solomon. Di wilayah Indo Pasifik jenis ikan karang mencapai 4.050 spesies, dan menjadi habitat dari berbagai hewan mamalia perairan. Keanekaragaman pada wilayah perairan Raja Ampat tercatat terdapat kurang lebih 553 spesies karang dan fauna ikan terumbu karang. Keanekaragaman yang melimpah membuat coral triangle bermanfaat bagi beberapa sektor seperti sektor perikanan, pariwisata bahari, dan konservasi. Tercatat pada tahun 2011, mencapai 1,7 ton untuk perdagangan ikan karang hidup dari berbagai wilayah (Mujiono dan Oktaviani, 2021).

Berdasarkan cara pemanfaatan yang salah wilayah coral triangle akan dihadapi oleh beberapa ancaman. Perdagangan perikanan yang berlebihan atau eksploitasi ikan dapat menyebabkan keadaan ekosistem menjadi tidak seimbang. Teknik penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan aturan juga dapat menyebabkan biota laut lain dan habitatnya menjadi rusak(Mujiono dan Oktaviani, 2021).

Guna melindungi dari ancaman tersebut terdapat CTI (Coral Triangle Initiative) yang merupakan multilateral partnership antara negara Indonesia, Malaysia, Filiphina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Timor Leste. CTI memiliki tujuan yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan dengan pendekatan yang ramah lingkungan. Salah satu program yang dilaksanakan adalah manajemen efektif agar dapat mengukur dampak yang ditimbulkan dari  perubahan iklim (Mujiono dan Oktaviani, 2021).

Sumber

Foale, S., Adhuri, D., Aliño, P., Allison, E. H., Andrew, N., Cohen, P., … & Weeratunge, N. (2013). Food security and the coral triangle initiative. Marine Policy, 38, 174-183.

Iskandar, I. (2016). Kepentingan Indonesia Aktif Dalam Cti (Coral Triangle Initiative). JOM FISIP Vol. 3 No. 2.

Mujiono, D. I. K., & Oktaviani, J. (2021). Segitiga Terumbu Karang Dunia (The Coral Triangle): Manfaat, Masalah Dan Upaya. Jurnal Dinamika Global, 6(01).