Skip to content

Mengenal Proyek “Jurassic Park” di Taman Nasional Komodo

Mengapa Pembangunan “Jurassic Park” Menuai Polemik?

Proyek “Jurassic Park” di Pulau Rinca menuai polemik di masyarakat. Proyek ini sempat ramai menjadi perbincangan di media sosial setelah munculnya foto seekor komodo yang seperti menghalau laju truk pembangunan (BBC News, 2020). Penolakan oleh berbagai kalangan terjadi karena proyek ini dianggap akan merusak habitat asli komodo alih-alih untuk konservasi. Selain itu, Gregorius Afioma, peneliti dari Sunspirit for Justice and Peace yang berbasis di Labuan Bajo menilai pembangunan ini tidak sesuai dan bertolak belakang dengan nilai konservasi. Menurut Gregorius, di beberapa kawasan tersebut terdapat plang “keep silent” yang artinya di wilayah tersebut diharuskan untuk tetap tenang. Akan tetapi, kenyataannya truk, eskavator, dan helikopter terus memasuki sekitar wilayah tersebut dan menyebabkan kebisingan di wilayah tersebut (CNN Indonesia, 2020).

Bagaimana Awal Mula Ide Pembangunan Proyek “Jurassic Park”?
Ide pembangunan ”Jurassic Park” sebetulnya sudah direncanakan sejak lama bahkan sebelum era pemerintahan Joko Widodo. Proyek pengembangan ini bermula dari keluarnya Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.48/Menhut-II/2010 tentang izin pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam. Setelah keluarnya peraturan tersebut, para investor memiliki “payung hukum” untuk mengelola dan mengembangkan kawasan konservasi di taman-taman nasional termasuk di Taman Nasional Komodo. Saat itu, terdapat dua investor yang mendapat perizinan lahan dan penyediaan sarana wisata alam, yaitu PT Komodo Wildlife Ecotourism (KWE) dan PT Segara Komodo Lestari (SKL) dengan masa kontrak 52 tahun (CNN Indonesia, 2020).

Setelah turunnya perizinan tersebut, terjadi penolakan oleh masyarakat terhadap penyediaan sarana wisata alam di Taman Nasional Komodo. Seorang warga mengatakan tidak pernah ada konsultasi publik sebelum pembangunan oleh PT Komodo Wildlife Ecotourism, sosialisasi pun dilakukan setelah ramai isu privatisasi pembangunan wisata alam di Taman Nasional Komodo. Pernyataan warga tersebut bertentangan dengan pernyataan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Wiratno yang menyebutkan bahwa sebetulnya dialog atau sosialisasi sudah ada, tetapi warga baru mengetahuinya. Wiratno juga menambahkan penolakan bukan berasal dari warga sekitar, melainkan dari warga Labuan Bajo yang digerakkan oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan wisata juga (Arumingtyas, 2018).

Penolakan yang diberikan masyarakat membuat eksekusi dari penyediaan sarana wisata alam di Taman Nasional Komodo dibatalkan, tetapi setelahnya tidak ada kejelasan mengenai izin pengelolaan dan pengembangan kedua perusahaan tersebut masih berlanjut atau tidak.

Ketidakjelasan tersebut melahirkan Permen baru nomor P.8/MENLHK/Setjen/KUM.1/3/2019 tentang izin pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam. Lahirnya Permen tersebut menjadi jalan bagi pemilik perusahaan semakin mudah untuk mendapatkan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam dalam kawasan Taman Nasional (Haryanto dkk., 2019). Selanjutnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berbagi otoritas dengan Kementerian Maritim dan Investasi, Kementerian Pariwisata, dan Pemerintah NTT untuk kembali menata Taman Nasional Komodo menjadi destinasi wisata kelas dunia. Pada tahun yang sama, Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan menyampaikan rencana pembangunan “Wisata Jurassic Indonesia” dengan pusat penelitian di Pulau Rinca.

Apa Tujuan Pemerintah Menyulap Pulau Rinca Menjadi “Jurassic Park”?
Pulau Rinca menjadi salah satu pulau yang mengalami perubahan desain secara signifikan. Kawasan ini direncanakan oleh pemerintah menjadi destinasi wisata premium dengan konsep geopark. Konsep ini mengedepankan penggunaan dan perlindungan terhadap warisan geologi secara berkelanjutan. Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, tujuan utama dari konsep ini adalah untuk mempromosikan wilayah tersebut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dan mengembangkan potensi secara berkelanjutan (Kompas, 2020).

Apa Saja yang Akan Dibangun?
Sejumlah fasilitas direncanakan akan dibangun di kawasan Loh Buaya, Pulau Rinca. Di antaranya:

  1. Jalan gertak elevated seluas 3.055 m2
  2. Area pemandu wisata seluas 1.510 m2
  3. Penginapan petugas ranger dan peneliti
  4. Pusat informasi seluas 3.895 m2
  5. Pos istirahat 318 m2
  6. Pos jaga 216 m2
  7. Pemasangan pipa reservoir seluas 144 m2
  8. Pengaman pantai sepanjang 100 m2
  9. Pembangunan dermaga seluas 400 m2

Dari rencana pembangunan tersebut diperkirakan akan mengeluarkan anggaran sebesar Rp 69,96 miliar (Floresa.co, 2021).

Apa dampak dari pembangunan “Jurassic Park”?

Terdapat beberapa pihak yang mengecam proyek pembangunan ini, salah satunya Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup, Nur Hidayati yang mengatakan bahwa pembangunan proyek “Jurassic Park” tidak berbasis pada keilmuan dan bertentangan dengan kearifan lokal masyarakat setempat karena mengakibatkan komodo tersiksa (Mashabi, 2020).

Proyek pembangunan “Jurassic Park” kemungkinan besar dapat berpengaruh pada tingkah laku spesies yang mempunyai nama latin Varanus komodoensis ini. Pembangunan ini juga dianggap dapat mengancam kelangsungan hidup komodo, mengingat Pulau Rinca masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Menurut Wanda, Mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2017, kemungkinan besar satwa endemik ini akan merasa terganggu walaupun secara tidak langsung. Dilihat dari segi biologis, kemungkinan akan berakibat pada rantai makanan yang akan berpengaruh pada satwa endemik ini. Oleh karena itu, diperlukan kajian riset lebih lanjut terkait hal ini.

Menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup NTT, Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi, pembangunan ini akan berdampak serius terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Pembangunan infrastruktur akan berakibat pada perubahan bentang alam hingga berdampak pada gangguan terhadap biodiversitas. Hal ini berpotensi besar terhadap pencemaran atau potensi residu seperti limbah dan sampah yang akan mengancam ketersediaan air bersih (Alexander, 2020).

Di sisi lain, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Evy Arida menyatakan bahwa pembangunan di habitat komodo tidak bisa dihindarkan karena hal ini merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan komodo. Selain itu, Evy berpandangan bahwa anggapan terhadap pembangunan wisata “Jurassic Park” akan memberikan dampak negatif hanyalah suatu hal yang berlebihan (CNN Indonesia, 2020). Menurut Daud, Mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2018, pembangunan itu pasti akan ada dan memiliki tujuan tertentu. Dampak positif dari pembangunan ini juga dapat meningkatkan pendapatan negara. Akan tetapi, proses pembangunan harus tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku. 

Selain itu, menurut Ghefira, Mahasiswi Biologi Unpad Angkatan 2019, pembangunan tersebut terjadi di Pulau Rinca sedangkan tempat konservasi terbesar satwa komodo berada di Pulau Komodo. Jadi, menurut literatur yang ia baca, sebenarnya komodo akan tetap aman di wilayah konservasi Pulau Komodo. Akan tetapi, menurutnya, yang menjadi catatan adalah kondisi pembangunan di wilayah Pulau Rinca. Bagaimana nasib warga sekitar? Apakah pembangunan itu akan merusak kawasan tersebut? Apakah desain pembangunan ini cocok untuk komodo? Karena menurutnya jangan sampai pembangunan tersebut menggeser karakter taman nasional sebagai destinasi wisata yang bahkan membuat insting liar komodo menjadi turun. Dan menurut Galih, Mahasiswa Biologi Unpad angkatan 2020, yang paling penting nilai konservasinya harus tetap terjaga. Jangan sampai kita menghilangkan kelestarian komodo atas nama investasi berkedok konservasi.

Sikap sebagai mahasiswa Biologi

Foto seekor komodo yang tengah menghadang sebuah truk proyek yang akan melintas di Pulau Rinca Taman Nasional Komodo (TNK) mengundang reaksi dari berbagai pihak, termasuk para mahasiswa. Lalu, sebaiknya bagaimana sikap mahasiswa Biologi menyikapi isu proyek “Jurassic Park”?


Menurut Lulu, Mahasiswi Biologi angkatan 2020, hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa Biologi adalah mengedukasi sekitar terkait isu ini dan menanamkan pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, menurutnya mahasiswa dapat membantu dengan mengkaji lebih lanjut isu “Jurassic Park” agar dapat menemukan solusi terbaik. 

Menurut Daud, Mahasiswa Biologi angkatan 2018, salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan adalah melalui forum-forum diskusi ilmiah. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan catatan kepada stakeholder dari sektor pariwisata agar proses pembangunan ini dapat berjalan dengan baik tanpa mengancam keberadaan komodo. 

Menurut Ghefira, Mahasiswi Biologi angkatan 2019, salah satu cara ketika kita tidak bisa menghentikan pembangunan ini adalah fokus pada aspek kelestarian ekosistem. Hal yang sama diungkapkan oleh Wanda, Mahasiswa Biologi angkatan 2017, ia mengatakan bahwa mengedukasi masyarakat juga sudah cukup karena mempengaruhi keputusan pemerintah dan politik itu memang sulit. Jadi, lebih baik kita fokus ke hal-hal yang masih bisa dilakukan. 

______________________________________________________________________________

Dalam sebuah proyek pembangunan harus ada nilai Amdal yang perlu diperhatikan. Walaupun tidak bisa membuat dampaknya menjadi nol, tetapi setidaknya kita bisa meminimalisir dengan lebih memperhatikan lingkungan. -Wanda (Mahasiswa Biologi angkatan 2017)

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, H. B. 2020.  Pulau Rinca Jadi “Jurassic Park”, Berdampak Serius terhadap Lingkungan. https://properti.kompas.com/read/2020/09/17/070000721/pulau-rinca-jadi-jurassic-park-berdampak-serius-terhadap-lingkungan?page=all. Diakses pada 25 Februari 2021.

Arumingtyas, L. 2018. KLHK: Pengembangan Wisata Komodo Berprinsip Konservasi dan Libatkan Masyarakat, Benarkah?. https://www.mongabay.co.id/2018/08/16/klhk-pengembangan-wisata-komodo-berprinsip-konservasi-dan-libatkan-masyarakat-benarkah/. Diakses pada 25 Februari 2021.

BBC NEWS. 2020. ‘Jurassic Park Komodo’ di Rinca; ‘Harap tenang’, namun truk keluar masuk, pembangunan resos dikritik tak perhatikan keselamatan reptil purba setelah muncul foto viral.  https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54693351. Diakses pada 25 Februari 2021.

CNN Indonesia. 2020. LIPI Respons Jurassic Park di Habitat Komodo: Harus Hati-hati. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20201027134055-199-563249/lipi-respons-jurassic-park-di-habitat-komodo-harus-hati-hati. Diakses pada 25 Februari 2021.

CNN Indonesia. 2020. Mengenal Proyek ‘Jurassic Park’ di NTT. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201026142334-92-562801/mengenal-proyek-jurassic-park-di-ntt. Diakses pada 25 Februari 2021.

Floresa.co. Persoalan Pembangunan Geopark di Taman Nasional Komodo. https://www.floresa.co/2020/08/26/persoalan-pembangunan-geopark-di-taman-nasional-komodo/#:~:text=Keberadaan%20geopark%20ini%20sesungguhnya%20bermasalah,dan%20ketidakadilan%20dalam%20melihat%20konservasi. Diakses pada 25 Februari 2021.

Haryanto, V., Djempau, A., & Afioma, G. 2019. Jokowi dan Babak Baru Perizinan Investasi dalam Kawasan Taman Nasional Komodo. https://sunspiritforjusticeandpeace.org/2019/08/22/jokowi-dan-babak-baru-perizinan-investasi-dalam-kawasan-taman-nasional-komodo/1171/. Diakses pada 26 Februari 2021.

Kompas. 2020. Rencana Pemerintah Menyulap Pulau Rinca Jadi “Jurassic Park”Tuai Kecaman. https://properti.kompas.com/read/2020/09/16/125033621/rencana-pemerintah-menyulap-pulau-rinca-jadi-jurassic-park-tuai-kecaman?page=all. Diakses pada 25 Februari 2021.

Mashabi, S. 2020. Pembangunan Jurassic Park dan Kelangsungan Hidup Komodo.https://nasional.kompas.com/read/2020/10/27/07472221/pembangunan-jurassic-park-dan-kelangsungan-hidup-komodo?page=all. Diakses pada 25 Februari 2021.