Skip to content

Menilik Perbandingan Tingkah Laku Si Ekor Panjang di Taman Wisata Alam Sangeh dan Taman Wisata Alam Grojogan Sewu

Liburan bersama keluarga dengan melihat satwa liar di alam bebas di masa Next Normal ini akan menjadi momen yang sangat menyenangkan. Jenis pariwisata dengan bertemu satwa di alam liar secara langsung seperti ini memang sedang berkembang dan menjadi trend sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian satwa liar. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah salah satu fauna yang memiliki daya tarik pariwisata di Indonesia. Karena monyet ekor panjang merupakan primata sosial yang tidak pernah lepas dari interaksi sosial dan tingkat adaptasinya tinggi, persebaran primata ini cukup luas mencakup daerah Bali, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sumatera. Jadi tak heran jika primata ini memiliki nilai yang cukup tinggi bagi kehidupan manusia. Lalu, apakah wisatawan dan masyarakat sekitar dapat memengaruhi aktivitas harian monyet ekor panjang?

Menurut Supartono (2020), monyet ekor panjang adalah  primata sosial karena kehidupannya tidak pernah lepas dari interaksi sosial dan mampu membentuk kelompok besar mencapai 100 ekor. Dari pengertian tersebut, kita bisa memprediksi kemungkinan yang terjadi ketika monyet ekor panjang memasuki kawasan baru dan hidup berdampingan dengan manusia. Tentu saja, hal tersebut akan merugikan bahkan akan mengganggu lahan budidaya masyarakat sehingga  akan terjadi konflik antara satwa liar dan manusia yang disebabkan oleh aktivitas hariannya.

Cara pengelolaan Taman Wisata Alam yang tidak tepat dapat menyebabkan konflik antara satwa liar dan manusia terjadi. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal tersebut kita perlu mengetahui perbandingan aktivitas monyet ekor panjang pada beberapa lokasi Taman Wisata Alam (TWA), sehingga dari pengetahuan tersebut kita dapat memberikan edukasi kepada masyarakat yang hidupnya dekat dengan habitat mereka untuk mengetahui cara pengelolaan TWA yang tepat, mengoptimalkan pembinaan serta pengawasan satwa liar, menencegah serta mengatasi konflik antara manusia dengan monyet ekor panjang.

Aktivitas bergerak monyet ekor panjang. Foto: Ratnasari et al. (2019)
Aktivitas makan monyet ekor panjang. Foto: Anhas (2016)
Aktivitas grooming monyet ekor panjang. Foto: Ratnasari et al. (2019)

Terdapat persamaan dan perbedaan aktivitas harian monyet ekor panjang di kedua kawasan TWA Sangeh dan TWA Grojogan Sewu. Persamaan perilaku tersebut di antaranya adalah bergerak, makan, grooming, dan kawin. Terdapat perbedaan persentase aktivitas harian di kedua kawasan TWA disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kerapatan ruang gerak, ketersediaan makanan, jumlah populasi, dsb. Kemudian, perbedaan aktivitas harian monyet ekor panjang yang teramati di antaranya adalah objek manipulasi, dekap, cuddling, agresif, mengasuh anak, ekskresi, bersuara, dan agonistik. Aktivitas harian monyet ekor panjang muncul dan sangat tergantung pada interaksi sosial satu dengan lainnya. Perbedaan aktivitas dapat terjadi karena beberapa aktivitas dilakukan oleh monyet ekor panjang pada saat-saat tertentu saja.

Pengetahuan perbandingan aktivitas harian monyet ekor panjang di Taman Wisata Alam diharapkan dapat menjadi acuan pola pengelolaan Taman Wisata Alam serta tempat ekowisata lainnya agar menciptakan habitat yang ramah bagi monyet ekor panjang da sehingga perilaku alami monyet ekor panjang tetap terjaga.

REFERENSI

Ratnasari et al., 2019. Studi Perilaku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam (TWA) Suranadi Lombok Barat. Jurnal Pendidikan Biologi (PENBIOS). 4(1): 9-22.

Supartono, T. 2020. Gangguan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan Lutung (Trachypithecus auratus) di Hutan Blok Argasari, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Prosiding. 9(1).