Skip to content

Pelatihan Fotografi dan Konservasi Burung

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Indonesia memiliki 1.812 spesies burung  yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan data dari PP No 7 Tahun 1999 dan PERMEN LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 menyatakan bahwa terdapat 557 jumlah jenis burung dilindungi, 532 jumlah jenis burung endemis, dan 461 jumlah jenis burung dengan sebaran terbatas. Berdasarkan status konservasinya, terdapat 31 jenis burung masuk dalam kategori kritis, 52 dalam kategori genting, 96 dalam kategori rentan, 241 dalam kategori mendekati terancam punah, 1.368 dalam kategori risiko rendah, dan 13 dalam kategori kurang data. 

Menurut Ahmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Officer Burung Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 500 spesies dan kebanyakan untuk persebaran endemis di dunia tersebar di negara-negara tropis. Selain itu, keanekaragaman jenis burung di Indonesia yang tinggi mencapai 16% dari total populasi burung di dunia dengan proporsi spesies endemis tertinggi. Pendataan spesies burung juga mengalami peningkatan setiap tahun. Hal ini terjadi karena kontribusi dari masyarakat sehingga penemuan dan penelitian spesies burung semakin meningkat. Namun, status keterancaman spesies burung setiap tahun semakin meningkat. Salah satu penyebabnya adalah perubahan kawasan hutan dan eksploitasi burung secara berlebihan. Selain itu, kerusakan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya yang berlebihan juga mendorong banyaknya spesies burung berada di ambang kepunahan.

Fotografi merupakan bagian dari upaya konservasi burung. Fotografi tidak hanya menyampaikan visual atau estetika, tetapi juga menyampaikan pesan. Fotografi juga dapat memberikan beberapa gambaran mengenai permasalahan yang sedang terjadi, misalnya terdapat foto sampah-sampah plastik yang terkumpul di kawasan samudera pasifik sehingga menimbulkan kematian burung-burung albatros. Menurut Ahmad Ridha Junaid, fotografi merupakan upaya konservasi burung yang mudah karena dapat dilakukan oleh siapa saja baik dari professional atau hobi, tua atau muda, dan dari latar belakang apapun dapat berkontribusi untuk konservasi burung melalui fotografi. Selain itu, ilmu fotografi sangat mudah dicari dan tidak memerlukan alat yang canggih untuk memotret sebuah permasalahan disekitar kita. Fotografi diharapkan dapat ikut membantu upaya perlindungan, pemantauan, serta pelestarian satwa burung.

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi jika daratan dan lautan disatukan. Banyak spesies yang belum terdokumentasikan dan teridentifikasi termasuk burung. Indonesia termasuk peringkat ke-4 untuk keanekaragaman hayati burung.

Menurut Ady Kristanto, Senior Biodiversity Officer, langkah-langkah dalam fotografi burung ada 5. Pertama, menentukan objek jenis dan habitat yang akan dipotret. Kenali objek dan karakteristik (bentuk, karakteristik, kebiasaan). Kedua, akses serta kebutuhan biaya (lokasi, penginapan, transportasi). Ketiga, peralatan yang digunakan (kamera jenis apa saja, lensa, dll). Keempat, menentukan alat tambahan (senter, tripod, monopod, wireless flash, beamer flash). Kelima, menentukan teknik fotografi. Apapun teknik yang akan digunakan, diharapkan hasilnya totalitas. Adapun 2 teknik yang paling umum digunakan ialah teknik spotting dan teknik mobile.

Terdapat beberapa kode etik dalam dunia fotografi alam liar diantaranya jaga jarak, bersabar, pelajari alarm call, jangan memisahkan antara anak dan orang tuanya, jangan terlalu dekat dengan sarang, gunakan suara panggilan seperlunya, pergi tanpa jejak, belajar, serta utamakan kesejahteraan hewan. Adapun tantangannya yaitu perburuan dan perdagangan burung yang meningkat di masa pandemi serta tanpa disadari, mereka menghilang sebelum sempat didokumentasikan di alam.