Skip to content

Pentingnya Keberadaan Herpetofauna bagi Lingkungan dan Manusia

Kongkang Jeram (Huia masonii), salah satu bioindikator lingkungan sedang melakukan pelukan (Amplexus) (Geovana, 2020)

Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversity yang memiliki banyak keanekaragaman hayati termasuk jenis-jenis herpetofaunanya. Dengan tingginya keanekaragaman tersebut telah mendorong masyarakat dan beberapa kalangan lainnya memanfaatkan keberadaan herpetofauna tersebut untuk keperluan dalam berbagai bidang kehidupan. Herpetofauna sendiri merupakan golongan hewan melata yang terdiri dari reptil dan amfibi. Saat ini, pemanfaatan herpetofauna masih belum banyak digunakan oleh masyarakat luas karena keberadaannya yang masih belum diketahui banyak orang, namun potensinya telah diakui untuk dijadikan potensi keanekaragaman hayati hewani (Sardi et al., 2014).

Dalam dunia ekologi, herpetofauna memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dalam mengendalikan hama secara alami. Kelompok amfibi seperti katak atau kodok dapat mengendalikan populasi serangga di alam. Sedangkan kelompok reptil, seperti ular dapat berperan sebagai pengendali hama tikus di suatu lahan pertanian dan persawahan. Selain itu, dalam dunia ekologi herpetofauna dapat dijadikan sebagai sumber plasma nutfah dan juga dapat dijadikan sebagai objek ekowisata dimana terdapat beberapa herpetofauna yang dapat menarik perhatian (Subeno, 2018). Dalam pembentukan ekowisata sendiri, terdapat tujuan tertentu yang mengarah kepada edukasi terhadap keberadaan herpetofauna. Pada dasarnya pembentukan ekowisata yang terdapat keberadaan herpetofauna bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat lokal dan umum terhadap pentingnya herpetofauna (Leksono & Firdaus, 2017). Sebagai contoh, pembentukan Taman Nasional Komodo, di Nusa Tenggara Timur yang salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam menjaga keberadaan Komodo yang semakin berkurang sebagai spesies endemik di Indonesia.

Herpetofauna juga dimanfaatkan dalam bidang lainnya seperti bidang farmasi. Pada umumnya pemanfaatan ini berkaitan dengan bidang budaya yaitu terkait kepercayaan yang beredar di masyarakat lokal. Beberapa masyarakat lokal mempercayai bahwa terdapat beberapa bagian tubuh dari herpetofauna dapat dijadikan sebagai sumber obat. Hal ini berkaitan dengan ilmu etnozoologi di suatu daerah. Sebagai contoh, pemanfaatan empedu biawak oleh Orang Rimba di Bukit Duabelas Provinsi Jambi yang digunakan untuk obat sakit mata, mata merah, dan sakit perut. Selain itu, empedu biawak ini dipercaya juga dapat menyembuhkan asma, flu, dan gigitan hewan berbisa. Pemanfaatan lain dari herpetofauna dalam bidang farmasi misalnya pemanfaatan empedu labi-labi yang dipercaya dapat menyembuhkan asma dan malaria di masyarakat Dayak Kayanant di Desa Babane (Pilatus et al., 2017). Pemanfaatan lain dari herpetofauna adalah dalam dunia pendidikan. Pemanfaatan herpetofauna dalam bidang ini berhubungan dengan kegiatan akademik dalam penelitian atau praktikum. Misalnya penggunaan kodok dalam kegiatan praktikum untuk melihat fisiologi dan anatomi hewan.

Banyak potensi yang terkandung pada keberadaan herpetofauna. Keberadaannya memberikan dampak positif bagi manusia maupun lingkungan. Keberadaan herpetofauna sangatlah penting bagi keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem di suatu wilayah (Eprilurahman et al., 2009).  Herpetofauna merupakan komponen penting dalam jaring-jaring makanan di ekosistem. Mereka mengisi peran penting baik sebagai predator dan mangsa. Selain berperan penting sebagai salah satu komponen dalam ekosistem, herpetofauna juga memiliki peran lainnya seperti menjadi bioindikator untuk lingkungan karena kepekaannya terhadap perubahan lingkungan seperti pencemaran air dan perusakan habitat (Yudha et al., 2015). Herpetofauna juga dapat menjadi pengendali hama (jenis-jenis pemakan tikus dan juga serangga), penyebar biji, dan sebagai sumber plasma nutfah (Irwanto et al., 2019). Keragaman herpetofauna merupakan salah satu parameter keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem di suatu kawasan dan kualitas lingkungan di sekitarnya. Adanya data keanekaragaman herpetofauna diharapkan dapat memberikan daya tarik dan nilai tambah tersendiri dan memiliki nilai potensial sebagai bagian dari ekowisata (Handziko et al., 2021).

Manfaat dari keberadaan herpetofauna juga dapat dirasakan oleh manusia. Mereka sering dijadikan sebagai bahan percobaan medis, satwa peliharaan, bahan kerajinan (tas, sepatu, tali pinggang, dan lain-lain) dan sumber protein hewani. Di beberapa negara berkembang katak dijadikan sebagai komoditas penting yang diekspor ke negara maju, salah satu contohnya yaitu produksi paha katak beku yang diekspor oleh Indonesia ke negara-negara Eropa yang 80% diantaranya adalah hasil tangkapan dari alam. Sekresi kulit dari beberapa jenis amphibi juga dikembangkan sebagai antibiotika dan obat penghilang rasa sakit (Hamdani et al., 2013).

Sayangnya, dibalik segala potensi yang dimiliki herpetofauna, terdapat ancaman yang membahayakan masa depannya. Hilangnya habitat adalah faktor utama penyebab penurunan amfibi secara global dengan perkiraan 63% dari semua spesies amfibi terpengaruh, dan sebanyak 87% dari spesies yang terancam terpengaruh (Bishop et al., 2012). Banyak amfibi membutuhkan mikrohabitat tertentu dengan kondisi kelembaban, suhu, pH yang sesuai, dan tempat berlindung serta sumber makanan yang memadai. Kondisi ini mudah terganggu bahkan bila ada perubahan kecil. Umumnya habitat herpetofauna berubah karena alih fungsi lahan untuk pertanian/perkebunan, penebangan hutan, tebang habis, urbanisasi dan pengembangan industri (Bishop et al., 2012). Banyak penelitian telah melaporkan tingginya angka kematian amfibi dan reptil di jalan raya (Gibbons et al., 2000). Amfibi sering dijadikan makanan, obat-obatan, digunakan dalam penelitian dan pengajaran atau perdagangan hewan peliharaan. Lebih dari 200 spesies amfibi dikonsumsi atau diperdagangkan secara nasional atau sub-nasional di seluruh dunia. Dimana sebagian besar ditangkap di alam liar (Carpenter et al., 2007). Masuknya spesies invasif memberi dampak negatif bagi herpetfauna lokal seperti persaingan untuk mendapatkan makanan, ruang dan sumber daya; predasi langsung; dan vektor atau reservoir untuk penyakit dan parasit. Bahkan pada tingkat yang lebih rendah beberapa spesies invasif berhibridisasi dengan spesies asli sehingga mengganggu integritas genetik (misalnya Xenopus gilli / X. Laevis; Picker, 1985). Contoh spesies invasif adalah ikan (Knapp, 2005), american bullfrog (Lithobates catesbeianus; Mazzoni et al., 2003) dan cane toad (Rhinella marina; Shine, 2010). Fungi patogen chytrid Batrachochytrium dendrobatidis (Bd) terdeteksi pada sekitar 700 spesies amfibi. Fungi ini telah menyebabkan kematian massal dan penurunan populasi amfibi di seluruh dunia, termasuk kepunahan lebih dari seratus spesies. Infeksi Bd dapat menyebabkan chytridiomycosis, penyakit yang menyerang sel-sel di epidermis dan lapisan luar yang terkeratinisasi sehingga mengganggu transportasi air, oksigen, dan garam (Kärvemo et al., 2018).

Populasi herpetofauna di suatu wilayah tertentu dapat menurun tajam dalam waktu singkat bila terjadi bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir (Kong, 2012). Peningkatan suhu dapat mengakibatkan perubahan dalam regulasi air, pengambilan oksigen, kemunculan, perkawinan, perkembangan, metamorfosis, pertumbuhan, dan pertukaran jenis kelamin. Peningkatan suhu dapat mempercepat laju perkembangan embrio dan larva dengan cara meningkatkan laju perkembangan atau dengan pengeringan lingkungan larva, yang mengarah pada percepatan perkembangan. Hal ini dapat menyebabkan spesies muncul lebih awal dari lingkungan perairan, yang dapat mengurangi predasi akuatik, tetapi juga dapat mengakibatkan pengurangan ukuran dan massa. Akibatnya predasi pasca-metamorfosis meningkat dan mengurangi lifetime fitness. Peningkatan suhu lingkungan mengurangi jumlah oksigen terlarut dalam air tawar sekaligus meningkatkan kebutuhan metabolisme oksigen pada hewan air. Rendahnya ketersediaan oksigen terlarut menyebabkan kemampuan berenang dan menghindar berudu akan menurun sehingga angka kematiannya diperkirakan akan meningkat Peningkatan suhu dapat mempengaruhi rasio jenis kelamin populasi reptil, dan pada tingkat yang lebih rendah, amfibi. Jenis kelamin reptil umumnya ditentukan oleh suhu inkubasi telur. Kenaikan suhu sebesar 2–4°C menyebabkan semua keturunan betina atau semua keturunan jantan pada buaya, kura-kura, dan beberapa kadal. Bahkan pada ular dan amfibi, yang biasanya taksa non-TSD, rasio jenis kelamin dapat berubah karena suhu ekstrem selama inkubasi (Bickford et al., 2010).

Saat ini, publikasi data dasar mengenai herpetofauna sangat sedikit. Padahal data dasar adalah hal yang sangat penting dalam menentukan perubahan keanekaragaman spesies dalam suatu komunitas secara akurat.  Hal ini menjadi masalah penting dalam biologi konservasi (Busby & Parmalee, 1996). Ketidaksukaan kebanyakan manusia terhadap herpetofauna dipengaruhi oleh adanya mitos, cerita, respons evolusioner, kurang informasi, dan kesalahpahaman (beberapa di antaranya dihasilkan dari interpretasi langsung dari cerita rakyat setempat). Di Portugal, sejumlah besar cerita rakyat tentang reptil dan amfibi menggambarkan bahwa keduanya adalah hewan jahat dan berbahaya. Gagasan tentang ancaman atau potensi bahaya herpetofauna bagi manusia adalah salah satu alasan utama untuk tidak menyukainya. Persepsi salah tentang hewan ini berbahaya, mematikan atau agresif berkembang luas di lingkungan masyarakat. Reptil lebih sering disalahpahami daripada amfibi. Reptil menunjukkan valorisasi negatif yang lebih tinggi daripada amfibi. Reptil juga merupakan hewan yang banyak menimbulkan fobia daripada amfibi karena dari sudut pandang evolusioner, reptil merupakan ancaman nyata bagi mamalia sedangkan amfibi tidak. Penyiksaan dan anti konservasi yang dipicu oleh faktor-faktor ini dapat menjadi faktor serius yang mengancam populasi amfibi dan reptil, terutama reptil, karena mereka yang paling ditakuti dan dibenci, dan banyak dianggap bermasalah (Ceríaco, 2012).

Diperkirakan sekitar 13.000 jenis herpetofauna terdapat di dunia dan 10.000 diantaranya berada di Indonesia. Kebanyakan jenis amfibi yang memiliki penyebaran luas di Asia Tenggara di deskripsikan di Jawa. Namun, informasi mengenai amfibi di Jawa Timur maupun di Jawa Tengah sangat kurang. Keberadaan hutan yang semakin memprihatinkan menyebabkan kerusakan vegetasi yang berdampak pada kelestarian herpetofauna. Jumlah herpetofauna semakin berkurang seiring dengan berkurangnya habitat alami dari herpetofauna. Menurut International Union of Conservation of Nature (IUCN) jumlah Red List of Threatened Species meningkat setiap tahunnya (Pradana dkk, 2019).

Berkurangnya habitat alami herpetofauna sangat mempengaruhi populasi mereka. Hal ini tentunya berakibat pada kelangkaan dan kepunahan berbagai spesies herpetofauna yang ada sehingga diperlukan adanya konsep atau upaya dalam melestarikan dan mempertahankannya dengan cara konservasi. Secara umum, konservasi merupakan kegiatan pelestarian, mengawetkan, serta menjaga mutu, fungsi dan kemampuan lingkungan secara seimbang dimana tujuan dari konservasi ini adalah untuk mewujudkan kelestarian  sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya kesejahteraan dan mutu kehidupan manusia serta fauna itu sendiri. Tanpa adanya konservasi, kerusakan habitat alami fauna sangat berpotensi untuk terjadi. hal itu dapat menyebabkan konflik antara manusia dan fauna yang tentunya akan merugikan kedua belah pihak (Rachman, 2012).

Untuk status konservasi satwa herpetofauna menggunakan 2 kategori internasional (IUCN, CITES) dan 1 kategori nasional. Status IUCN (www.iucnredlist.org) mengklasifikasikan suatu spesies sesuai kategori keterancaman dan peluang kepunahan. Spesies satwa terancam punah dikategorikan dalam 3 kelas. Status keterancaman tertinggi adalah CR (Critically Endangered, Kritis), kemudian disusul oleh EN (Endangered, Genting) dan VU (Vulnerable; Rentan), dan spesies yang keterancamannya rendah dikategorikan sebagai NT (Near Threatened, Hampir Terancam) atau LC (Least Concern; Risiko Rendah). Sementara itu, untuk spesies yang tidak banyak diketahui dimasukkan dalam kategori DD (Data Deficient; Data Kurang). Spesies yang diketahui banyak jumlahnya dan masih jauh dari risiko keterancaman kemungkinan besar tidak dilakukan kajian dan digolongkan dalam kategori NE (Not Evaluated; Tidak Dievaluasi) (Mardiastuti dkk, 2020).

Diantara semua spesies reptil, 3 spesies reptil memiliki IUCN status yang tinggi. Spesies dengan status konservasi tertinggi, CR (Critically Endangered, Kritis) adalah Tuntong Laut (Batagur borneoensis) dan Baning Coklat (Manouria emys). Dua spesies lain dengan status EN (Endangered; Genting) adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Kura-kura Byuku (Orlitia borneensis). Selain itu, terdapat 5 spesies yang dikategorikan sebagai VU (Vulnerable; Rentan), yaitu Ular King Kobra (Ophiophagus hannah), Ular Sanca Bodo (Python molurus), Kura-kura Tempurung Datar (Notochelys platynota), Bulus (Amyda cartilaginea) dan Buaya Sepit (Tomistoma schlegelii). Spesies lain dapat dikatakan tidak/belum terancam kepunahan, dikategorikan sebagai NT (Near Threatened, Hampir Terancam) atau LC (Least Concern; Resiko Rendah) (Mardiastuti dkk, 2020).

DAFTAR PUSTAKA 

Altherr, S., Goyenechea, A. & Schubert, D. (2011). Canapés to extinction – the international trade in frogs’ legs and its ecological impact. Munich/Washington D.C.: Pro Wildlife/Defenders of Wildlife/ Animal Welfare Institute.

Bickford, D., Howard, S. D., Ng, D. J., & Sheridan, J. A. (2010). Impacts of climate change on the amphibians and reptiles of Southeast Asia. Biodiversity and conservation, 19(4), 1043-1062.

Bishop, P. J., Angulo, A., Lewis, J. P., Moore, R. D., Rabb, G. B., & Moreno, J. G. (2012). The Amphibian Extinction Crisis-what will it take to put the action into the Amphibian Conservation Action Plan?. S.A.P.I.EN.S, 5(2), 97-111.

Busby, W. H., & Parmelee, J. R. (1996). Historical changes in a herpetofaunal assemblage in the Flint Hills of Kansas. Am. Mid. Nat.,135, 81-91.

Carpenter, A.I., Dublin, H., Lau, M., Syed, G., McKay, J.E. & Moore, R.D. (2007) Over-harvesting. In (C. Gascon, J. Collins, R.D. Moore, D.R. Church, J.E. McKay, & J.R.

Ceríaco, L. M. (2012). Human attitudes towards herpetofauna: the influence of folklore and negative values on the conservation of amphibians and reptiles in Portugal. Journal of ethnobiology and ethnomedicine, 8, 8.

Eprilurahman, R., Hilmy, M. F., & Qurniawan, T. F. (2009). Studi keanekaragaman Reptil dan Amfibi di Kawasan Ekowisata Linggo Asri, Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Berkala Penelitian Hayati, 15(1), 93–97. https://doi.org/10.23869/bphjbr.15.1.2009 15.

Geovana, D. (2020). Huia masonii (Boulenger, 1884). Wikimedia Commons. Retrieved July 7, 2021, from https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Huia_masonii_(Boulenger,_1884).jpg

Gibbons, J. W., Scott, D. E., Ryan, T. J., Buhlmann, K. A., Tuberville, T. D., Metts, B. S., … & Winne, C. T. (2000). The Global Decline of Reptiles, Déjà Vu Amphibians. BioScience, 50(8), 653-666.

Hamdani, R., Tjong, D. H., & Herwina, H. (2013). Potensi herpetofauna dalam pengobatan tradisional di Sumatera Barat. Jurnal Biologi UNAND, 2(2).

Handziko, R. C., Prabowo, Y., Fathin, M. I., Falach, A. I., & Mahesa, R. (2021). KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DIURNAL DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU (Diversity of Diurnal Herpetofauna in Gunung Merbabu National Park). Journal Penelitian Kehutanan FALOAK, 5(1), 1-15.

Irwanto, R., Lingga, R., Pratama, R., & Ifafah, S. A. (2019). Identifikasi jenis-jenis Herpetofauna di Taman Wisata Alam Gunung Permisan, Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. PENDIPA Journal of Science Education, 3(2), 106– 113. https://doi.org/10.33369/pendipa.v3i2.7707.

Kärvemo, S., Meurling, S., Berger, D., Höglund, J., & Laurila, A. (2018). Effects of host species and environmental factors on the prevalence of Batrachochytrium dendrobatidis in northern Europe. PLoS One, 13(10), e0199852.

Knapp, R. A. (2005). Effects of nonnative fish and habitat characteristics on lentic herpetofauna in Yosemite National Park, USA. Biological Conservation, 121(2), 265-279.

Kong, Z. (2012). Empirical correlations between anthropogenic factors and occurences of herpetofauna species and protected areas effectiveness on controlling anthropogenic impacts for herpetofauna in Crete, Greece (Master’s thesis, University of Twente).

Leksono, S. M., & Firdaus, N. (2017). Pemanfaatan Keanekaragaman Amfibi ( Ordo Anura ) di Kawasan Cagar Alam Rawa Danau Serang Banten Sebagai Material Edu-Ekowisata. Proceeding Biology Education Conference, 14, 75–78.

Mardiastuti, A., Masy’ud, B., Ginoga, L., Sastranegara, H., & Sutopo. (2020). Pemanfaatan Herpetofauna Oleh Masyarakat Lokal di Indonesia. Bogor: IPB Press.

Mazzoni, R. (2003). Emerging pathogen of wild amphibians in frogs (Rana catesbeiana) farmed for international trade. Emerg. Infect. Dis., 9, 1188-1188.

Mendelson (Eds.)) Amphibian Conservation action plan (pp. 26–31). Gland/Cambridge: IUCN/SSC Amphibian Specialist Group.

Picker, M. D. (1985). Hybridization and habitat selection in Xenopus gilli and Xenopus laevis in the south-western Cape Province. Copeia, 1985(3), 574-580.

Pilatus, Kartikawati, S. M., & Anwari, M. S. (2017). Etnozoologi suku dayak kanayant di desa babane kabupaten bengkayang. Jurnal Hutan Lestari, 5(3), 858–867.

Pradana, R., Fadhilah, R., Aulia, N., Hilman, M., Amin, F., 2019. Inventarisasi dan Status Konservasi Jenis Herpetofauna Di Air Terjun Watu Ondo. Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek. 5:219-223

Priambodo, B., Permana, H., Akhsani, F., Indriwati, S. E., Wangkulangkul, S., Lestari, S. R., & Rohman, F. (2019). Characteristic of water sources in Malang, based on the diversity, community structure, and the role of herpetofauna as bioindicator. EurAsian Journal of BioSciences, 13(2), 2279-2283.

Rachman. M., 2012. Konservasi Nilai dan Warisan budaya. Indonesian Journal of Conservation. 1(1):30-39.

Shine, R. (2010). The Ecological Impact of Invasive Cane Toads (Bufo marinus) in Australia. Q. Rev. Biol., 85(3), 253-291.

Sardi, M., Erianto, E., & Siahaan, S. (2014). Keanekaragaman Herpetofauna Di Resort Lekawai Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari, 2(1), 126–133.

Subeno, S. (2018). Distribusi dan Keanekaragaman Herpetofauna di Hulu Sungai Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Kehutanan, 12(1), 40. https://doi.org/10.22146/jik.34108 

Yudha, D. S., Yonathan, Y., Eprilurahman, R., Indriawan, S., & Cahyaningrum, E. (2015). Keanekaragaman dan kemerataan spesies anggota Ordo Anura di Lereng Selatan Gunung Merapi Tahun 2012. Biosfera, 32(1), 1. https://doi.org/10.20884/1.mib.2015.32.1. 289.