Skip to content

POTENSI EKOSISTEM MANGROVE DAN PADANG LAMUN SEBAGAI CLIMATE REGULATOR

Penulis: Ghefira Rahma Sativa, Hasna Nurul Hadi, Queentha Ditasari Simandjuntak, Bilhaq Fahmi Ilmi, Tahani Vidra Putri, Arnida Kusumadewi, I Nyoman Ngurah Surya Jaya, Salsabila Laraswari, Almira Natha Dewanti, Desti Mutiara Putri

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) (2014) perubahan iklim didorong oleh meningkatnya konsentrasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan sebagian besar dari emisi ini merupakan gas karbondioksida. Sekitar 40% dari karbon dioksida tetap berada di atmosfer dan sisanya dikeluarkan dari atmosfer dan disimpan di darat (tanaman dan tanah) juga laut. Namun, bukan berarti GRK tidak memiliki manfaat, menurut Latifah dkk. (2019), GRK di atmosfer berperan menjaga suhu bumi sehingga layak dihuni dan lebih hangat, namun banyaknya komposisi karbon dioksida di atmosfer dapat mengakibatkan suhu bumi lebih panas setiap tahunnya. Ketika sinar matahari masuk ke bumi, karbon dioksida mengakibatkan sinar matahari tidak dapat diteruskan ke luar angkasa, kemudian sinar matahari akan memantul kembali dan terperangkap di bumi. Salah satu cara untuk mengurangi emisi karbon adalah melalui serapan karbon yang memanfaatkan kemampuan tumbuhan melalui proses fotosintesis dengan absorpsi karbon dioksida yang kemudian akan diubah menjadi gula, oksigen, dan air (Sukmawati, 2015). 

Bukan hanya tumbuhan yang tumbuh di ekosistem hutan terestrial saja yang memiliki kemampuan untuk menyerap karbon, akan tetapi ekosistem pesisir juga dinilai sebagai ekosistem yang berpotensi dalam upaya mitigasi mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer. Konsep penyerapan karbon di dalam ekosistem pesisir disebut sebagai blue carbon. Karbon organik dapat disimpan pada tanah (sedimen), kayu mati (deadwood), serasah (litter), dan biomassa (Wahyudi et. al, 2018; Nellemann et al., 2009). Ekosistem blue carbon terkhususnya pada mangrove dan lamun dapat menyimpan karbon di dalam biomassa dan sedimen sebesar 3-5 kali dari vegetasi daratan (Mcleod et al., 2011). Hutan mangrove dan padang lamun di Indonesia sangat luas dan berpotensi untuk menjadi climate regulator. Berikut akan dipaparkan mengenai hasil penelitian simpanan karbon oleh mangrove dan lamun yang tersebar di pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jawa, Papua, dan Kepulauan Nusa Tenggara (Gambar 1). 

Gambar 1. Peta Sebaran Penelitian Simpanan Karbon oleh Mangrove dan Lamun

Simpanan Karbon oleh Mangrove

Secara keseluruhan, dari data sekunder yang didapatkan di 6 pulau besar di Indonesia, rata-rata potensi simpanan karbon adalah 83.354,58 gC/m2. Rata – rata dari simpanan karbon tertinggi pada ekosistem mangrove berasal dari Pulau Kalimantan dengan potensi simpanan karbon sebesar 334.826,71 gC/m2 (Diana et al., 2021; Mulyono & Triyono, 2021; Nuraya et al., 2019). Diikuti oleh Pulau Sulawesi sebesar 116.651,39 gC/m2 (Bachmid dkk., 2018; Indritani et al., 2020; Rumengan et al., 2018). Kemudian, Pulau Sumatera sebesar 19.939,67 gC/m2 (Amanda dkk., 2021; Basyuni & Simanjutak, 2021; Handoyo et al., 2020; Widagtia dkk., 2021) dan Pulau Jawa sebesar 19265.5 gC/m2 (Ihsan dkk., 2016; Kusama et al., 2019). Sementara itu, simpanan karbon paling rendah berturut – turut berasal dari Papua dengan simpanan karbon sebesar 5.615,47 gC/m2 (Davinsa et al., 2021; Masiyah, 2018) dan Kepulauan Nusa Tenggara sebesar 3.828,74 gC/m2 (Candra & Wicaksono, 2016; Candri et al., 2020; Ledheng dkk., 2020) (Gambar 2).

Gambar 2. Persentase Simpanan Karbon Mangrove di Setiap Pulau

Ekosistem mangrove terluas di Kalimantan terdapat pada daerah Kalimantan Barat, dimana ekosistem mangrove hampir terdapat pada semua pesisir Kalimantan Barat. Luas hutan mangrove di Kalimantan Barat mencapai 177.479,52 Ha. Secara keseluruhan kondisi mangrove di Kalimantan Barat tergolong dalam kondisi sedang hingga baik (BPSPL, 2021).

Perbedaan simpanan karbon dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kerapatan dan diameter batang. Menurut Heriyanto & Amin (2017), nilai kerapatan akan berbanding lurus dengan nilai biomassa, dimana semakin tinggi nilai kerapatan maka akan semakin tinggi pula nilai biomassanya. Selain itu, mangrove yang memiliki diameter batang lebih besar memiliki biomassa dan cadangan karbon yang lebih besar pula, yang mana simpanan paling banyak terdapat pada batang. Nilai simpanan karbon akan meningkat apabila terdapat peningkatan biomassa, dimana nilai kandungan karbon suatu bahan organik adalah 47% dari biomassanya (Badan Standardisasi Nasional, 2011).

Simpanan Karbon oleh Lamun

Penyerapan karbon pada lamun akan dimulai dari proses fotosintesis yang kemudian disimpan dalam bentuk biomassa. Biomassa pada lamun terdiri dari satuan berat (berat kering atau berat abu) lamun bagian tumbuhan yang berada di atas substrat (daun, seludang, buah dan bunga) dan atau bagian di bawah substrat (akar dan rimpang) (Nellemann et al., 2009).

Potensi simpanan karbon rata-rata keseluruhan pada lamun adalah 6360,21 gC/m2. Data terbesar rata-rata simpanan karbon ada pada pulau Sulawesi yaitu sebesar 35595,72 gC/m2 (Akbar et al., 2021; Rustam et al., 2017; Supriyadi et al., 2014), diikuti dengan pulau Jawa sebesar 2209,68 gC/m2 (Citra dkk., 2020; Gunawan dkk., 2019; Hartanti dkk., 2017; Shafiya dkk., 2017), Kepulauan Nusa Tenggara sebesar 133,24 gC/m2 (Angelina et al., 2019; Graha dkk., 2016; Parnata dkk., 2020; Rahadiarta dkk., Rahman et al., 2018; Sumbayak dkk., 2021), pulau Sumatera sebesar 98,23 gC/m2 (Az Zahra et al., 2020; Irawan, 2017; Maharani dkk., 2018; Nugraha et al., 2019), pulau Papua sebesar 77,62 gC/m2 (Nugraha dkk., 2020; Runtuboi dkk., 2018), dan simpanan karbon terkecil terdapat pada pulau Kalimantan yaitu sebesar 46,75 gC/m2 (Budiarto dkk., 2021; Rustam dkk., 2015) (Gambar 3).

Gambar 3. Persentase Serapan Karbon Lamun di Setiap Pulau

Sulawesi memiliki keanekaragaman jenis lamun yang tinggi. Berdasarkan penelitian Verheij (1993) dan Schauerte (2005) dalam Priosambodo (2007), Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan keanekaragaman jenis lamun tertinggi, dimana 12 jenis lamun yang ditemukan di Indonesia dapat ditemukan di daerah ini.

Kekayaan spesies lamun yang tinggi sangat mendukung upaya pengurangan emisi karbon. Faktor yang mempengaruhi stok karbon yang berasal dari biomassa lamun berdasarkan kerapatan dan morfometrik lamun. Semakin besar kerapatan lamun, maka semakin besar pula biomassanya. Morfometrik lamun juga menentukan biomassa lamun, dimana lamun yang memiliki karakteristik morfometrik besar memiliki biomassa yang lebih besar sehingga dapat menyimpan karbon yang lebih besar pula (Rustam et al., 2017). Faktor lain yaitu kondisi lingkungan perairan di sekitarnya, yang mana kondisi dinamika perairan dan lingkungan sekitarnya berpengaruh pada komposisi penyusun dan dinamika substrat dasar perairan (Lanuru et al., 2018).

Perbandingan Simpanan Karbon oleh Mangrove dan Lamun

Berdasarkan data rata-rata simpanan karbon pada mangrove dan lamun memiliki perbandingan yang jauh, dimana nilai rata-rata simpanan karbon pada mangrove adalah sebesar 83354,58 gC/m2 dan lamun memiliki nilai sebesar 6360,21 gC/m2 (Gambar 4).

Gambar 4. Persentase Serapan Karbon Mangrove dan Lamun

Mangrove menyimpan karbon dalam bentuk biomassa pada bagian above ground maupun below ground. Selain itu, guguran material organik pada mangrove juga berperan dalam memberikan sumbangan karbon organik dalam tanah. Sementara itu, lamun menyerap dan menyimpan karbon dalam vegetasi maupun pada substrat tumbuhnya lamun sendiri (Wahyudi et. al, 2018). Hal inilah yang menyebabkan simpanan karbon dalam mangrove lebih besar dibandingkan simpanan karbon yang ada dalam lamun. Akan tetapi, potensi simpanan karbon oleh lamun tidak kalah penting karena melalui fotosintesis, kemampuan penyerapan karbon berperan penting dalam mitigasi pemanasan global, karena laut merupakan reservoir besar untuk karbon (Campbell et al., 2000). Selain itu, ekosistem lamun juga berperan sebagai layanan ekosistem (ecosystem service) yang memiliki fungsi yang mendukung perikanan, stabilitas sedimen, filtrasi kekeruhan, dan sebagai makanan untuk penyu dan dugong (Short et al., 2006). Data mengenai simpanan karbon oleh mangrove dan lamun di Indonesia pada beberapa pulau masih kurang memadai. Kemungkinan penyimpanan karbon di Indonesia dapat jauh lebih tinggi lagi, dimana masih banyak pula daerah-daerah yang tidak disurvei dan kurang terpantau.

Berdasarkan analisis data data diatas dapat disimpulkan bahwa mangrove memiliki simpanan karbon lebih besar dibandingkan lamun karena mangrove memiliki daya serap karbon dan biomassa yang lebih besar dibanding lamun. Lamun memiliki daya simpan yang lebih rendah menyimpan karbon dalam vegetasi maupun pada substrat tumbuhnya lamun sendiri. Mangrove lebih berpotensi sebagai climate regulator karena simpanan karbonnya lebih tinggi dan memiliki sebaran yang lebih luas.