Skip to content

Relawan Untuk Situs Warisan Dunia

sumber gambar: https://www.triptrus.com/destination/224/taman-nasional-ujung-kulon

Tahani Vidra Putri – 2019

Seiring dengan berjalannya waktu, bumi terus berputar dan menua. Begitu pula makhluk hidup yang ada di dalamnya. Dimana satu mahkluk hidup mati kemudian satu makhluk hidup lainnya akan lahir ke bumi. Tentu setiap mahkluk hidup ingin sepeninggalannya mampu memberi jejak postif untuk makhluk hidup setelahnya. Termasuk manusia. Mulai dari harta, tahta, dan bumi itu sendiri harus terus dijaga dan dirawat sebagai harapan untuk manusia yang lahir setelahnya. Sebagaimana Indonesia sendiri memiliki kekayaan alam yang beragam juga budaya yang unik nan indah. Indonesia juga memiliki berbagai satwa khas dan langka yang patut didukung keberlangsungan hidupnya.

Terlebih, salah satu Taman Nasional Indonesia yakni Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) telah ditetapkan menjadi salah satu Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO (The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation) pada tahun 1991 (Abdurrachman dan Annisa, 2017). TNUK pun telah dinobatkan sebagai satu dari 20 taman nasional model yang ditetapkan berdasar Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor SK 69/IV-Set/HO/2006 (Taman Nasional Ujung Kulon, 2009). Sehingga ternyata, apa yang dirawat, apa yang diusak, berpengaruh pula untuk warisan manusia – manusia kelak di dunia. Lalu, apa masih berdiam diri tak ada makna? Upaya apa yang bisa diusahakan untuk terus menjaga salah satu Situs Warisan Alam Dunia?

Sebagai sebuah organisasi pendidikan, keilmuan, serta kebudayaan perserikatan bangsa – bangsa, UNESCO memberikan bantuan dalam bentuk pendanaan dan juga bantuan teknis kepada TNUK yang nantinya mampu meningkatkan pengelolaan daripada TNUK itu sendiri. Selain itu, UNESCO turut mengadakan program kerelawanan yang dilakukan oleh World Heritage Volunteer (WHV) UNESCO dan Coordinating Committee for International Voluntary Service (CCIVS). Program ini diselenggarakan dalam bentuk Indonesia Internasional Work Camp (IIWC) dan juga  Long & Middle Term Volunteering (LMTV). Dimana program ini telah berdiri sejak tahun 2008 yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya warisan budaya dan alam. Selain itu, program ini pun diharapkan mampu memberikan ikatan kuat bagi para relawan juga masyarakat setempat untuk saling berempati dan bersimpati terhadap warisan budaya dan alam yang ada. Program ini juga mampu meningkatkan rasa kepemilikan dari masyarakat dan para relawan terhadap warisan budaya dan alam, khususnya bagi habitat serta populasi badak jawa yang menjadi satwa khas TNUK (Setyaningrum, 2014).

Sehingga kontribusi diharapkan menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk turut serta dalam menjaga, melestarikan, merawat, dan terus melindungi kekayaan alam di Indonesia, utamanya TNUK sebagai salah satu Situs Warisan Alam Dunia. Bukan hanya alam yang mesti berbaik hati memberi segala keberlangsungan hidup, melainkan manusia juga mesti memiliki andil dalam keberlangsungan hidup. Karena setiap mahkluk hidup mengharapkan suatu hal positif yang dapat dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya. Mari kita sama – sama untuk bisa berkontribusi dalam hal baik agar bisa memberi hal baik untuk minimalnya mampu mempertahankan yang ada tanpa merusak sekitar.

Referensi:

Abdurrachman dan Annisa Pratiwi. 2017. PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON (TNUK). Jakarta. Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies. (2) 2.

Setyaningrum, Ismi Novia. 2014. World Heritage Volunteers (WHV) Ujung Kulon 2014. Jakarta.

Taman Nasional Ujung Kulon. 2009. https://www.ujungkulon.org/.

Artikel ini ditulis oleh relawan konten untuk www.idnationalparks.com dengan merujuk pada berbagai referensi online yang tersedia. Program relawan konten ditujukan sebagai wadah belajar bersama untuk semakin mengenal taman nasional di Indonesia beserta upaya yang telah dilakukan dalam mengelolanya. Isi dari artikel merupakan tanggung jawab penulis.Penulis/Kontributor: