Skip to content

TANPA SERANGGA BUMI BISA APA?

Afifah Agni – Divisi Entomologi Himbio Universitas Padjadjaran

Siapa sih di dunia ini yang tidak mengenal hewan kecil ini. Dikutip dari perkataan Edward O. Wilson (Harvard University), 1929 ‘’Jika seluruh umat manusia lenyap, dunia akan beregenerasi kembali ke kondisi ekuilibrium amat sehat yang ada puluhan ribu tahun yang lalu. Jika serangga lenyap, lingkungan akan runtuh menjadi kekacauan’’.

Serangga memiliki kemampuan adaptasi yang dapat membuat mereka dengan mudah masuk di kehidupan manusia. Serangga memiliki peran penting dalam menyehatkan dan melestarikan ekosistem, serta untuk kepentingan hidup manusia.

Lebah berperan besar dalam proses pollinasi. Foto : pixabay.com

Menurut Prof Intan Ahmad, seorang pakar bidang entomologi dalam webinar Entomology Talkshow 2020 yang diadakan pada september lalu, ‘’Sekitar lebih dari 90% serangga bersifat menguntungkan, sedangkan hanya ada kurang dari 2% serangga yang memiliki dampak negatif,’’ujarnya.

Prof Intan Ahmad menambahkan, ‘’Serangga menyediakan layanan ekosistem dalam jejaring makanan, seperti penyerbukan, dekomposisi, soil formation, seed dispersal, food sources’’.

May R Berenbaum (University of Illinois at Urbana Champaign) pernah berkata kita bergantung kepada keragaman serangga untuk hidup sebagai suatu spesies. Serangga membuat hidup kita nyaman dalam banyak hal bahkan untuk hal yang belum kita ketahui. Dengan demikian, adalah hal yang tidak benar bila ada upaya membasmi serangga sebelum kita betul betul mengetahui apa yang serangga dapat lakukan untuk kita.

Prof. Ir. Damayanti Bukhori, pakar entomologi Institute Pertanian Bogor juga menjelaskan, ada banyak peranan serangga dalam food web, diantaranya:

  1. Serangga sebagai herbivor, biasanya merupakan musuh petani, seperti penggerek daun, penggerek batang, gall wasps.
  2. Serangga sebagai karnivor, biasanya merupakan sahabat petani. Serangga ini dibagi menjadi parasitoid dimana serangga yang menjadikan hama sebagai inang dan predator dimana jenis serangga yang memangsa serangga lain. Contohnya, Paederus, Coccinella Septempunctata, Agricnemis spp.
  3. Serangga sebagai penyerbuk (polinator) yang membantu proses peyerbukan tanaman. Contohnya: lebah, ngengat, kupu-kupu, lalat, kumbang.
  4. Serangga sebagai dekomposer yang memakan organisme mati dan produk-produk limbah dari organisme lain. Contohnya Dung beetle sebagai pengurai feses hewan ternak menjadi pupuk di alam, Rayap sebagai dekomposer di hutan namun di perkotaan menyebabkan rapuhnya kayu di perkotaan, dan Serangga tanah yang cukup penting dalam siklus material tanah (Herlinda et al., 2008)

Menurut Dr. Tjandra Anggraeni, akademisi bidang entomologi Institute Teknologi Bandung menambahkan, ‘’Selain bagi lingkungan, serangga juga berperan dalam membantu aktifitas manusia, salah satu peran besar keberadaan serangga ialah dalam dunia forensik’’.

Entomologi Forensik merupakan salah satu dari cabang ilmu dari sains forensik melalui pendekatan multi disiplin seperti (taksonomi serangga, fisiologi, genetika, akarologi, dinamika populasi, ekologi, dan statistik).

Lalat digunakan dalam mengetahui waktu kematian makhluk hidup. Foto : pixabay.com

Tjandra Anggraeni menambahkan, ‘’Serangga memiliki peran sebagai penentu kesimpulan dan pembuat keputusan dalam kasus investigasi yang melibatkan waktu kematian makhluk hidup’’. Serangga dapat menjadi alat investigasi waktu kematian dari alam dengan cara menetapkan interval waktu kematian manusia atau hewan.

Menurut Kristanto (2015), Untuk mengetahui interval waktu kematiaan seseorang tentu membutuhkan pengetahuan mengetahui tahapan dekomposisi mayat. Terdiri dari beberapa tahapan yaitu ; Autolysis, Putrefaction dan Skeletal Bone Decomposition (diagenesis). Terdapat pula proses dekomposisi mayat, dilihat pada tahapan kelompok serangga yang hinggap pada tubuh di waktu waktu tertentu yaitu; Fresh Stage, Bloated Stage, Active decay stage, post-decay stage dan Skeletonization.

Selain berperan sebagai penentu waktu kematian, serangga juga berperan sebagai indikator dalam kasus kontaminasi produk makanan, untuk mendeteksi obat-obatan dan racun, serta menentukan lokasi kejadian. Ordo utama yang dapat digunakan dalam investigasi : Diptera (seperti : blowflies, flesh flies, cheese skippers) dan Coleoptera (seperti : hide and skin beetles, rove beetles and clown beetles). Dan untuk data sekunder, dapat diperluas dan dibantu organisme arthropoda.

Menurut Kristanto (2019), Pada 72 jam pertama setelah kematian, ahli patologi mampu secara akurat membuat hipotesis dan mendeterminasi waktu kematian seseorang. Ahli entomologi forensik mendeterminasi waktu kematian berdasarkan tahapan siklus hidup dari spesies serangga yang ditemukan pada mayat, atau dari suksesi serangga yang ada pada mayat. Ada kasus pembuktian dalam periode jam, minggu, atau tahun.

Perubahan lingkungan alami menjadi pemukiman merupakan salah satu faktor utama penyebab tersedianya habitat bagi berbagai macam serangga. Manusia bertanggung jawab terhadap kepunahan serangga karena dianggap sebagai hama dan dibasmi. Hal ini dapat menyebabkan punahnya suatu spesies serangga yang memiliki dampak terhadap rusaknya ekosistem dan membahayakan kehidupan manusia.

Entomology Talkshow 2020 : Menelisik Peran Besar Serangga Bagi Kehidupan – 6 September 2020

Sumber :

Herlinda, S. Waluyo, S.P. Estuningsih, dan C. Irsan. 2008. Perbandingan Keanekaragaman Spesies dan Kelimpahan Arthropoda Predator Penghuni di Sawah Lebak yang Diaplikasi dan Tanpa Aplikasi Insektisida. J. Entomologi Indonesia. 2 : 96-107.

Kristanto, E., Wangko, S., Kalangi, S., & Mallo, J.F. (2009). Peran Entomologi Forensik Dalam Perkiraan Saat Kematian Dan Olah Tempat Kejadian Perkara Sisi Medis (Introduksi Entomologi Medik). Jurnal Biomedik. 1(1) : 41-44.

Kristanto, E., & Wangko, S. (2015). Patofisiologi Rigor Mortis. Jurnal Biomedik: Jbm, 6(3)