Skip to content

Tumbuhan Juga Dapat Berkomunikasi

Arnida K - 2019

Peter Wohlleben merupakan seorang ahli kehutanan dan penulis asal Jerman yang menulis buku The Hidden Life of Trees: What They Feel, How They Communicate. Revolusi juga terjadi pada pohon, pohon menjadi jauh lebih waspada, sophisticated (mutakhir), dan bahkan lebih cerdas dari yang manusia pikirkan. Dahulu Darwin menyatakan bahwa pohon merupakan makhluk yang berjuang sendiri untuk mendapatkan nutrisi, air, sinar matahari guna dapat bertahan hidup. Namun, seiring berjalanya waktu ditemukan banyak bukti ilmiah yang membantah pernyataan tersebut. Pohon telah berevolusi untuk hidup dalam hubungan kooperatif dan saling bergantung, dipelihara oleh komunikasi dan kecerdasan kolektif yang mirip dengan koloni serangga. Pohon berbagi air dan nutrisi melalui jaringan, dan juga menggunakannya untuk berkomunikasi. Mereka mengirimkan sinyal bahaya tentang kekeringan dan penyakit

Para ilmuwan menyebut hal ini sebagai mikoriza. Ujung akar pohon yang halus dan seperti rambut bergabung bersama dengan filamen jamur mikroskopis untuk membentuk hubungan dasar jaringan, yang tampaknya beroperasi sebagai hubungan simbiosis antara pohon dan jamur, atau mungkin pertukaran zat yang dibutuhkan.Dalam hal ini jamur akan mengkonsumsi sekitar 30 persen gula yang dihasilkan pohon dari sinar matahari. Gula merupakan sumber energi bagi jamur, jamur membutuhkannya untuk mengais tanah untuk nitrogen, fosfor, dan nutrisi mineral lainnya, yang kemudian diserap dan dikonsumsi oleh pohon. Pada pohon muda yang berada ditempat gelap, akan memanfaatkan pohon besar termasuk induk nya untuk memompa gula ke dalam akar melalui jaringan dikarenakan kekurangan cahaya matahari.

Pohon akan mengirimkan sinyal kimiawi, hormonal dan sinyal listrik yang berdenyut lambat. Sinyal tersebut teridentifikasi berbasis tegangan yang tampak sangat mirip dengan sistem saraf hewan. Pohon juga berkomunikasi melalui udara, menggunakan feromon dan sinyal aroma lainnya. Misalnya, pada pohon akasia di Sabana yang panas dan berdebu. Saat jerapah mulai mengkonsumsi daun akasia maka pohonnya akan mengeluarkan sinyal dalam bentuk gas etilen, selanjutnya pohon disekitarnya akan menangkap sinyal tersebut dan mulai memompa tanin dalam jumlah yang banyak menuju daunnya. Senyawa tersebut akan menyebabkan penyakit dan membunuh herbivora besar. Namun, dalam kasus tersebut jerapah juga mengalami evolusi bersamaan dengan pohon akasia.

Secara tidak langsung bukti-bukti tersebut membantah pernyataan yang menyebut pohon akan berperilaku individualis dan saling berebut substansi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Jika memang pohon bersifat individualis maka saat musim kemarau cahaya matahari akan memanaskan dan mengeringkan iklim mikro yang sejuk, lembab, dan diatur secara merata (disukai oleh pohon-pohon hutan). Angin yang merusak juga dapat menembus hutan dengan lebih mudah, dan tanpa tajuk pohon tetangga untuk menjadi stabil, kemungkinan untuk tumbang lebih tinggi. 
Bukti mengarahkan pada prinsip pohon akan melakukan mekanisme “komunikasi” untuk dapat bertahan hidup melalui seleksi alam yang terjadi. Perlu diingat bahwa pohon induk merupakan pohon terbesar dan tertua di hutan dengan koneksi jamur terbanyak. akarnya yang dalam, mereka mengambil air dan menyediakannya untuk bibit yang berakar dangkal. Sehingga dapat membantu pohon sekitar dengan mengalirkan nutrisi, dan ketika tetangga sedang berjuang, pohon induk mendeteksi tanda bahaya mereka dan meningkatkan aliran nutrisi yang sesuai.

Original artikel By Richard Grant, 2018 : https://www.smithsonianmag.com/science-nature/the-whispering-trees-180968084/