Skip to content

WEBINAR FANTASIA “Kucing Liar Dilindungi: Sampai Kapan Terus Terusik?”

            Kucing liar dilindungi di Indonesia selalu mengalami ancaman setiap tahunnya sehingga eksistensi dari kucing liar dilindungi ikut terancam. Isu penurunan populasi kucing liar dilindungi di Indonesia, masih menjadi isu yang belum menemukan titik terang sehingga terus berlanjut hingga saat ini. Kesadaran dari berbagai pihak akan pentingnya keberadaan kucing liar masih tergolong rendah, sehingga masalah-masalah yang menyebabkan penurunan populasi kucing liar masih terus terjadi.

Gambar 1. 9 Jenis Kucing Liar Dilindungi di Indonesia. Foto: Dok. Anton Ario

Indonesia memiliki 9 jenis kucing liar dilindungi yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Berbeda dengan kucing rumahan, kucing-kucing tersebut dilarang untuk dipelihara karena keberadaannya dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

            9 jenis kucing liar dilindungi terdiri dari Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Macan Dahan (Neofelis diardi), Kucing Emas (Catopuma temminckii), Kucing Merah (Catopuma badia), Kucing Bakau (Prionailurus viverrinus), Kucing Batu (Pardofelis marmorata), Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis), dan Flat-headed cat (Prionailurus planiceps). 9 jenis kucing liar tersebut tergolong ke dalam ordo karnivora dan famili felidae yang hidup di hutan liar dan umumnya memiliki ciri sebagai predator. Menurut Hendra Gunawan, Peneliti Ahli Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam Webinar FANTASIA pada Sabtu, 03 Juli 2021, kucing liar memiliki kerangka dan anggota tubuh yang sudah dirancang sebagai pemburu. Kucing liar memiliki indera pendengaran, penglihatan, dan penciuman yang tajam. Selain itu, mereka merupakan pelari yang handal dan gesit. Mereka yang merupakan predator, akan membunuh hanya jika mereka lapar dan tidak melakukan perburuan yang tidak ada manfaatnya.

Kucing liar memiliki daerah jelajah (home range) yang tergantung pada luas habitat dan kelimpahan mangsanya. Keberadaan mereka sulit ditemukan ketika dilakukan observasi secara langsung. Menurut Anton Ario, Conservation International Indonesia, dalam Webinar FANTASIA pada Sabtu, 03 Juli 2021, daftar jenis kucing liar dilindungi di Indonesia pada tabel 1, menunjukkan bahwa semakin ke bawah, jenis kucing liar tersebut semakin sulit dijumpai.

Tabel 1. Jenis Kucing Liar Dilindungi di Indonesia.

No.Status KonservasiNama IndonesiaNama LatinPersebaran
1.Critically endangeredHarimau SumateraPanthera tigris sumatraeSumatera
2.Critically endangeredMacan Tutul JawaPanthera pardus melasJawa
3.VulnerableMacan DahanNeofelis diardiSumatera, Kalimantan
4.Near threatenedKucing EmasCatopuma temminckiiSumatera
5.EndangeredKucing MerahCatopuma badiaKalimantan
6.VulnerableKucing BakauPrionailurus viverrinusJawa
7.Near threatenedKucing BatuPardofelis marmorataSumatera, Kalimantan
8.Least concernKucing HutanPrionailurus bengalensisSumatera, Jawa, Kalimantan
9.EndangeredFlat-headed catPrionailurus planicepsSumatera, Kalimantan

Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Penurunan Populasi Kucing Liar di Indonesia

Gambar 2. Deforestasi merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya populasi kucing liar dilindungi di Indonesia. Foto: Greenpeace

Keberadaan kucing liar dilindungi di alam Indonesia semakin terancam, hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor. Beberapa faktor yang menjadi ancaman bagi keberadaan kucing liar di alam adalah deforestasi, degradasi habitat, fragmentasi habitat, perburuan, dan perdagangan liar. Salah satu dari ancaman tersebut yang paling mengancam eksistensi kucing liar dilindungi adalah fragmentasi habitat.

Mengapa fragmentasi habitat dinilai sangat mengancam keberadaan kucing liar di alam?

Hal ini dikarenakan fragmentasi habitat memiliki sifat permanen dan pada umumnya tidak terpulihkan. Dampak jangka pendek dari fragmentasi habitat seringkali tidak disadari, sedangkan dampak jangka panjang dari fragmentasi habitat adalah kepunahan lokal dan parahnya lagi dapat menyebabkan kepunahan regional. Adapun dampak lain dari fragmentasi habitat adalah “efek tepi” dan “isolasi populasi”

Apa yang menyebabkan fragmentasi habitat terjadi?

Fragmentasi habitat terjadi disebabkan oleh terpotongnya kawasan tutupan hutan karena hilangnya vegetasi hutan secara masif dan permanen. Salah satu contohnya adalah pembangunan jaringan jalan raya dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

Fragmentasi habitat ini dapat berdampak pada habitat dari satwa liar diantaranya, berkurangnya luas total hutan yang merupakan habitat dari satwa liar,  menciptakan metapopulasi, dan meningkatkan konflik antara satwa liar dan manusia. Skenario terburuk dari fragmentasi habitat adalah menyebabkan kepunahan lokal, salah satu contohnya adalah kepunahan lokal macan tutul di Jawa tengah dimana terdapat 17 lokasi macan tutul punah lokal (1988-2008) atau sebanyak 26%.

Menurut Puspita Insan Kamil, Psikolog Sosial, dalam Webinar FANTASIA Sabtu, 03 Juli 2021, dalam perspektif psikologi sosial terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penurunan populasi kucing liar dilindungi di Indonesia, hal ini dilihat dari banyaknya penjelasan dari perspektif manusia dan juga beberapa dugaan mengenai adanya domestikasi, dimana kucing liar merupakan salah satu satwa yang tidak bisa didomestikasi.

Gambar 3. Konflik Manusia dan Satwa Liar. Foto: Pikiran Rakyat

Berikut merupakan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan populasi kucing liar di Indonesia, dalam prespektif psikologi sosial:

  1. Persaingan Habitat

Persaingan habitat ini diawali dengan tingginya interaksi antara manusia dan satwa yang disebabkan oleh ekspansi manusia yang masif dan juga fleksibilitas perilaku dan kemampuan belajar yang tinggi dimana manusia memiliki kapasitas berpikir dan adaptasi yang lebih besar dibandingkan dengan satwa.

  • Konflik

Terdapat beberapa jenis konflik yang terjadi antara manusia dan satwa liar, di antaranya:

  • Penyerangan
  • Invasi satwa asing
  • Penularan penyakit
  • Depredasi
  • Crop-raiding
  • Persaingan buruan
  • Konsumsi

Satwa seringkali dikonsumsi oleh masyarakat, hal ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah kebiasaan yang diturunkan oleh nenek moyangnya yang memangsa satwa liar untuk dimakan. Konsumsi sendiri merupakan sebuah kebutuhan, kebutuhan ini terbagi menjadi tiga, yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan budaya, dan juga kebutuhan pengalaman.

  • Pemeliharaan

Terdapat berbagai macam alasan kucing liar dilindungi dijadikan hewan peliharaan, mulai dari evolusi, psikologis, hingga sosiologis. Hal ini didukung dengan beberapa faktor, yaitu biophilia, awe in nature, di mana hal ini paling sering terjadi pada binatang eksotis dan kerap terjadi pada binatang yang tidak komunikatif  dan memiliki fitur tertentu yang tidak dimiliki oleh manusia, sehingga muncul kecenderungan untuk memelihara. Kemudian, antropomorfisme (archetype), di mana biasanya manusia memilih peliharaan yang arketipenya dinilai “cocok” dengan si pemelihara. Selain itu, dominansi (need for control), di mana perasaan menaklukan hewan dapat membangun rasa kepercayaan diri dan dominansi. Terakhir, budaya dan status sosial, di mana di Eropa abad ke-13, memelihara satwa liar dapat meningkatkan status sosial dari manusia.

Upaya yang Telah Dilakukan dalam Konservasi Kucing Liar Dilidungi di Indonesia

Gambar 4. Pendidikan konservasi merupakan salah satu upaya untuk mencegah penurunan populasi kucing liar di alam. Foto: Mongabay

Keberadaan kucing liar memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem. Menurut Hendra Gunawan, Peneliti Ahli Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam Webinar FANTASIA pada Sabtu, 03 Juli 2021, kucing liar sebagai karnivora memiliki peranan penting, seperti menjaga keseimbangan ekosistem keseluruhan atau bisa disebut juga sebagai keystone species (spesies kunci). Artinya, keberadaan mereka di dalam ekosistem sangat penting terutama untuk menjaga persistensi populasi spesies lain dan juga kestabilan ekosistem. Dalam hal tersebut, mereka menjaga kesehatan populasi satwa mangsa dengan cara menyeleksi individu mangsa, sehingga keberadaan satwa mangsa sesuai dengan daya dukung. Mereka juga menjaga kesehatan manusia melalui seleksi pengendalian mangsa yang menjadi vektor penyakit. Tidak hanya itu, mereka memberikan manfaat di bidang ekonomi salah satunya melalui ekowisata.

Masalah penurunan populasi kucing liar yang terjadi di setiap tahunnya, perlu diberi perhatian dan dicari solusi agar keberadaan kucing liar dilindungi di alam Indonesia tetap terjaga. Menurut Anton Ario, Conservation International Indonesia, dalam Webinar FANTASIA pada Sabtu, 03 Juli 2021, terdapat beberapa upaya konservasi yang bisa kita lakukan untuk mencegah kepunahan dari kucing liar ini terjadi, diantaranya yaitu:

  1. Monitoring

Kegiatan monitoring sudah dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak tahun 2014, upaya ini sudah diberlakukan di beberapa daerah yang terdapat satwa liar dalam prioritas untuk dilindungi.

  • Pengamatan Kawasan

Telah dilakukan sebuah pengamatan secara keseluruhan terhadap beberapa wilayah yang ditempati oleh beberapa kucing liar dilindungi yang sudah diobservasi.

  • Edukasi

Edukasi menjadi salah satu upaya yang penting untuk menjaga populasi kucing liar agar keberadaannya tetap terjaga di alam. Memberikan informasi terpercaya mengenai kucing liar ini akan memberikan dampak yang besar, di mana banyak orang yang menjadi tahu akan pentingnya keberadaan kucing liar dilindungi.

  • Pengelolaan Satwa

Upaya ini berupa penangananan saat konflik dan pasca konflik terhadap satwa liar.

  • Pemulihan Ekosistem

Pemulihan ekosistem penting dilakukan agar habitat mereka menjadi layak kembali untuk ditinggali.

  • Pemberdayaan Masyarakat

Masyarakat merupakan komponen yang paling penting dalam keberhasilan konseravasi. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan sosial dan budaya agar menimbulkan kesadaran masyarakat serta mendorong masyarakat untuk berkontribusi dalam upaya konservasi.

Ryan Avriandy, Fauna & Flora International – Indonesia Programme, dalam Webinar FANTASIA pada 03 Juli 2021, menyebutkan beberapa upaya yang telah dilakukan lembaga  masyarakat dalam mengatasi konflik, yaitu mengefektifkan penanganan dengan cara pembelajaran praktisi lain, dan mengisi gap pengetahuan terhadap jenis spesifik.

  • Penegakan Hukum

Penegakan hukum perlu diperkuat agar isu penurunan populasi kucing liar di Indonesia dapat teratasi dengan baik.

Tantangan dalam Konservasi Kucing Liar Dilindungi di Indonesia

Dalam pelaksanaan konservasi, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan agar dapat memaksimalkan upaya konservasi yang dilaksanakan. Beberapa tantangan tersebut, seperti:

  1. Menjadikan satwa non prioritas menjadi prioritas

Konservasi cenderung difokuskan terhadap hewan-hewan besar kharismatik. Padahal, banyak dari hewan-hewan kecil yang memiliki peranan penting dalam ekosistem juga perlu menjadi prioritas dalam konservasi.

  • Satwa di kawasan non lindung termonitor dan terkelola

Tidak semua satwa liar berada dalam kawasan konservasi dan terdaftar secara administrasi status konservasinya. Oleh karena itu, pengawasan satwa di kawasan non lindung tetap harus dilakukan agar aktivitasnya dapat terpantau dan berada dalam pengawasan tepat.

  • Menjamin konektivitas habitat
  • Mengutamakan konservasi di berbagai sektor pembangunan

Pembicaraan mengenai konservasi tidak cukup hanya berada pada lingkungan pejuang konservasi saja, akan tetapi isu konservasi pun harus sampai kepada lingkungan sektor pembangunan karena berhubungan dengan habitat dari kucing liar yang ada di alam.

  • Pendanaan konservasi

Konservasi terhadap satwa liar membutuhkan dana yang tidak sedikit dan hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi berbagai pihak. Oleh karena itu, perlu keterlibatan berbagai pihak untuk menjamin kelangsungan konservasi satwa liar berjalan dengan baik.