Skip to content

Webinar: “Konservasi Lahan Basah sebagai Upaya Perlindungan Keanekaragaman Burung Air”

Pemaparan materi dengan judul “Peran serta Konservasi Lahan Basah di Indonesia” yang dipaparkan oleh Yus Rusila Noor dari Yayasan Lahan Basah, lahan basah sebagai habitat burung air terdiri dari mangrove, danau, lahan basah buatan, rawa rumput, hamparan lumpur, hamparan pasang surut serta padang penggembalaan. Lahan basah menurut Konvensi RAMSAR adalah area rawa, lahan gambut atau air, baik alami atau buatan, permanen atau sementara, dengan air yang statis atau mengalir, segar, payau atau asin, termasuk area air laut dengan kedalaman saat surut tidak melebihi enam meter. Adapun manfaat lahan basah ialah memasok dan menyaring air, sumber pangan, pusat KEHATI, peredam bencana alam, mengikat dan menyimpan karbon serta sumber mata pencaharian. Contoh jasa burung air terhadap lingkungan lahan basah diantaranya jasa pemberian (provisioning service) yang bisa dinikmati sehari-hari seperti daging, bulu, lemak. Kemudian jasa pendukung (supporting service) seperti penyerbukan, sebaran bibit tanaman dan anakan hewan, jasa pengaturan (regulating service) yaitu kontrol hama dan penyakit serta jasa budaya (cultural service) seperti birdwatching, eco-tourism, perburuan dengan izin, seni dan kepercayaan di masyarakat.

Ekosistem gambut seperti cinderella syndrome dimana cantik dan menarik tapi banyak yang tidak tahu. Gambut merupakan material organik yang terakumulasi selama ribuan tahun, menyimpan karbon dalam lapisan tebal. Gambut terbagi menjadi dua, gambut non tropis (umumnya terdiri dari lumut dan di atas tanahnya tidak banyak tumbuhan) dan gambut tropis. Peran gambut diantaranya sebagai mata pencaharian masyarakat, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, serta kebijakan. Terdapat permasalahan di lahan gambut yaitu pembalakan liar, kebakaran hutan dan lahan, drainase dan peralihan tata guna lahan (kondisi sosial/ekonomi masyarakat sebagai mata pencaharian). Solusi yang dapat dilakukan diantaranya pembangunan berkelanjutan, pendekatan Pro-poor (penciptaan lapangan kerja dan alternatif pendapatan masyarakat), penguangan (Monetarise) nilai internasional lahan gambut, kredit karbon, perdagangan karbon, mengatasi penyebab degradasi, komitmen donor jangka panjang, keamanan sosial & finansial bagi masyarakat lokal serta tata pemerintahan yang baik. Contoh kegiatannya adalah rehabilitation, water management, fires prevention and control, livelihood options serta policy framework. Manfaat dari kegiatan tersebut dapat mengurangi degradasi lahan, pengentasan kemiskinan, mitigasi perubahan iklim serta konservasi KEHATI. Mangrove merupakan hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Yus Rusila Noor memaparkan bahwa ekosistem mangrove di Indonesia (3.311.207 Ha) terbagi menjadi dua, yaitu dalam kawasan (2.533.488 Ha) dimana 2.057.295 Ha non kritis dan 460.244 Ha kritis dan luar kawasan (777.719 Ha) dimana 616.287 Ha non kritis dan 177.380 Ha kritis. Penyebab utama kerusakan mangrove akibat adanya alih fungsi lahan (tambak, pertanian, pembangunan infrastruktur, dll). Perencanaan rehabilitasi mangrove dapat dilakukan dengan pengaturan hidrologi, penanaman, memerangkap sedimen lumpur dan pembangunan alat pemecah ombak.

Pematerian kedua disampaikan oleh Iwan Febrianto dari Yayasan Ekologi Satwa Liar Indonesia (EKSAI) dengan judul materi “Burung Pantai (Shorebirds = Waders)”. Burung air dibagi menjadi 3 yaitu, kuntul (wading bird), burung pantai, dan bebek. Menurut Iwan Febrianto, burung pantai merupakan burung yang secara ekologi bergantung pada lahan basah, hidup di tepi lahan basah, dan mencari makan di perairan dangkal. Burung pantai cenderung ditemukan di habitat yang berair (lahan basah), seperti teluk, pantai, sungai, danau, sawah, dan bendungan. Jumlah total burung pantai yang ditemukan di dunia terdapat sekitar 214 jenis. Terdapat 2 tipe burung pantai yang sudah diidentifikasi di Indonesia, diantaranya sebagai berikut:

1. Burung Pantai Migran. Sebagian besar burung ini berbiak di bumi belahan utara, kecuali spesies Terik Australia yang berbiak di Australia dan bermigrasi ke Indonesia. Terdapat sekitar 65 jenis spesies burung pantai migran, diantaranya adalah Terik Australia, Cerek tilil, Gajahan besar, Kedidi golgol, Trinil bedaran, Gajahan pengala, Cerek Asia, Kedidi leher-merah, Trinil rawa, Cerek-pasir mongolia, Biru laut ekor-blorok, Berkik ekor-kipas, dan lain-lain.

2. Burung Pantai Penetap. Terdapat sekitar 14 jenis pantai penetap, diantaranya adalah Cerek melayu, Cerek Jawa, Trulek topeng, Gagang-bayam timur, dan lain-lain.

Menurut Iwan Febrianto, pengamat burung pantai Indonesia, terdapat 3 hal penting yang digunakan untuk membedakan jenis burung pantai saat dilapangan, yaitu ukuran badan, panjang dan warna paruh, serta panjang dan warna kaki. Secara morfologi, burung pantai yang mencari makan di permukaan memiliki ciri-ciri diantaranya memiliki mata besar, paruh pendek, dan biasanya berlari dan mematuk, sedangkan burung pantai yang mencari makan di bawah permukaan cenderung memiliki ciri-ciri diantaranya memiliki mata kecil, paruh panjang dan memiliki sensitifitas di ujung, serta dapat mencapai jauh ke dalam lumpur. Selain itu, berdasarkan jenis kelamin, paruh burung pantai betina lebih panjang dibandingkan dengan paruh jantan. Burung pantai memiliki tingkah laku yang spesifik berdasarkan pasang surut air laut. Ketika terjadi air surut, burung pantai biasanya mencari makan di hamparan lumpur dengan memangsa moluska, ucang, cacing maupun kepiting kecil. Ketika terjadi pasang tinggi, mereka berdiam atau istirahat di dekat garis pantai.

Secara keseluruhan terdapat 9 jalur migrasi burung pantai di seluruh dunia, diantaranya jalur Atlantik Timur (East Atlantic Flyway), jalur Asia Tengah (Central Asian Flyway), jalur Laut Hitam-Mediterania (Black Sea-Mediterranean Flyway), jalur Asia Timur-Australia (East Asian – Australasian Flyway), jalur Pasifik Barat (West Pacific Flyway), jalur Pasifik-Amerika (Pacific Americas Flyway), jalur Mississippi-Amerika (Mississippi Americas Flyway), jalur Asia Barat-Afrika Timur (West Asian – East African Flyway), dan jalur Atlantik-Amerika (Atlantic Americas Flyway). Indonesia menjadi salah satu wilayah penting sebagai jalur utama berbagai jenis burung migran, yaitu jalur terbang Asia Timur-Australis dan jalur Pasifik Barat. Secara Internasional ada 2 Taman Nasional untuk menjadi persinggahan burung migran di Taman Nasional Berbak Sembilang (Sumatera) dan Taman Nasional Wasur (Papua). Alasan yang mendukung Indonesia menjadi tempat persinggahan burung saat bermigrasi adalah iklim tropis yang relatif hangat sepanjang tahun dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Saat bermigrasi, burung menggunakan sejumlah petunjuk untuk menemukan jalan melalui posisi bintang dan matahari, magnet bumi, dan tanda di daratan. Bendera warna digunakan di tiap daerah dengan warna yang digunakan tiap daerah berbeda. Alokasi bendera warna ditentukan atau disepakati secara internasional untuk melacak burung saat bermigrasi.

Berbagai bentuk ancaman burung pantai terus meningkat seiring dengan bertambahnya waktu. Iwan Febrianto, pengamat burung pantai dari Yayasan Ekologi Satwa Liar Indonesia, menyatakan pentingnya melindungi burung pantai dari ancaman konservasi seperti, hilangnya habitat pesisir dan lahan basah, perburuan liar, introduksi hewan pemangsa, gangguan manusia, dan alih fungsi lahan. Melindungi burung pantai memberikan dampak positif dan manfaat, diantaranya memberikan peringatan dini dan indikator perubahan lingkungan, meningkatkan ekonomi masyarakat lokal melalui pariwisata dan pemasukan lainnya, dan salah satu jenis yang menarik dipelajari pola migrasi mereka yang selama ini masih menjadi misteri. Konservasi burung pantai dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut:

Konservasi Internasional 

  • konvensi ramsar pada lahan basah
  • konvensi keanekaragaman hayati
  • konvensi jenis bermigrasi
  • kemitraan untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan migrasi burung air dan habitat mereka di jalur terbang Asia Timur – Australasia

Konservasi Nasional

  • Rencana konservasi burung bermigrasi
  • perlindungan lingkungan dan konservasi terhadap jenis yang terancam punah
  • perjanjian dan jaringan antar Taman Nasional yang memiliki lahan basah (daerah penting bagi burung migran)

Pematerian terakhir disampaikan oleh Ferry Hasudungan dari Burung Indonesia dengan judul materi “Skala Prioritas Konservasi Burung di Habitat Alaminya dengan IBA (Important Bird Areas) sebagai Alat Bantu Penentuannya”. Ferry Hasudungan memaparkan bahwa  Status burung di Indonesia, saat ini ada 1812 jenis burung yang pernah tercatat (merupakan gabungan data). Dibagi dalam beberapa kategori diantaranya 557 jumlah jenis dilindungi, 532 jumlah jenis endemis, 461 jumlah jenis sebaran terbatas dan 228 IBA dan 23 EBA. Sejarah Burung Indonesia awal mula dari ICBP (International Council for Bird Preservation) pada tahun 1922. Kemudian, di tahun 1980-an ICBP mengadakan Indonesia Program. ICBP berubah nama menjadi Birdlife International IP pada awal 1990-an. Pada tahun 2002 bersepakat bahwa Birdlife International IP berubah nama menjadi  Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia disingkat Burung Indonesia. Burung Indonesia tergabung juga dalam Birdlife International Partnership (kemitraan besar di dunia). Upaya, pendekatan dan implementasi diantaranya terdapat pelestarian jenis (kakatua sumba, pemantauan paruh bengkok), pelestarian habitat (pengelolaan kolaboratif TN Aketajawe-Lolobata di Pulau Halmahera, TN Matalawa di Pulau Sumba), pengelolaan bentang alam secara lestari (Bentang Alam Mbeliling di Flores), restorasi ekosistem (Hutan harapan/REKI di Jambi-Sumsel dan Popayato-Paguat, Gorontalo) serta Birds around us (pelestarian burung di perkotaan,  Jabodetabek). IBA (Important Bird Areas) merupakan lokasi-lokasi penting secara global untuk melestarikan burung-burung di dunia (Indonesia 228). Adapun 4 kriteria IBA. Pertama,  Jenis terancam secara global, daerah yang secara berkala mendukung satu/lebih jenis burung yang terancam. Kedua, Memiliki jenis sebaran terbatas, jenis yang secara alami memiliki daerah penyebaran tidak lebih dari 50.00 km2. Ketiga, bioma terbatas yaitu daerah yang menjadi tempat kelompok jenis tertentu sebagai daerah perkembangbiakkannya dalam jumlah besar/dibatasi oleh satu daerah saja. Contoh: IBA Bali Barat. Terakhir, secara global penting bagi tempat berkumpul suatu jenis. Contoh: IBA Teluk Kupang, SM Pulau Rambut, Berbak-Sembilang. Menurut website www.iucnredlist.org Lebih dari 26.000 spesies yang terancam punah secara global. Birdlife International menggunakan IUCN Red List Categories and Criteria untuk menetapkan klasifikasi jenis yang memiliki resiko kepunahan tinggi secara global, dan merupakan kategori yang diacu secara resmi oleh IUCN Red List. Empat tipe kriteria utama yang digunakan diantaranya laju penurunan populasi, daerah sebaran yang sempit dan terfragmentasi , berkurang , atau berfluktuasi, populasi sedikit dan menurun serta populasi atau daerah sebaran yang sangat sempit. Strategi keanekaragaman hayati disusun berdasar daerah yang kaya akan jumlah jenis dengan penyebaran sangat terbata yaitu daerah burung endemik (Endemic Bird Area) merupakantempat terkonsentrasinya jenis burung sebaran terbatas , yaitu tempat dijumpai dua atau lebih jenis BST yang tidak dijumpai di tempat lain (218 di dunia , 2 3 di Indonesia) serta Burung Sebaran Terbatas (BST) yaitu seluruh jenis burung darat yang dalam sejarahnya memiliki luas penyebaran berbiak kurang dari 50.000 km2. Ferry memaparkan bahwa terdapat 211 jenis burung air yang tercatat di wilayah Indonesia diantaranya 22 jenis burung terancam punah secara global.Convention on Wetlands of International Especially as Waterfowl Habitat, selanjutnya disebut Konvensi Ramsar berlangsung pertama kali pada 1971 di kota Ramsar , Iran. Adapun kriteria Ramsar spesifik berdasarkan burung air yaitu kriteria 5 dan kriteria 6. Pada kriteria 5, suatu lahan basah dikatakan penting secara internasional jika secara teratur menyokong 20.000 atau lebih individu burung air adapun kriteria 6 suatu lahan basah dikatakan penting secara internasional  jika secara teratur mendukung 1% dari jumlah total individu suatu species atau sub species burung air.