Skip to content

Animal Conflict and Human Attitude towards Herpetofauna
(Konflik Hewan dan Sikap Manusia terhadap Herpetofauna)

Penulis: Divisi Herpetologi DP XLIII Himbio Unpad Kabinet Aorta

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan infrastruktur menyebabkan beberapa masalah terhadap lingkungan. Tidak hanya itu, aktivitas manusia seperti perburuan liar dan perdagangan ilegal juga mendorong terjadinya proses masalah lingkungan. Dan hal tersebut mengakibatkan adanya perselisihan antara manusia dan makhluk hidup lainnya, terutama dengan kelompok hewan herpetofauna. Dimana kelompok hewan ini sering mendapatkan stigma negatif dari masyarakat serta dianggap sebagai hewan pemangsa yang membahayakan oleh manusia. Sehingga tidak jarang hal tersebut menjadi pemicu munculnya konflik antara herpetofauna dan manusia. 

Sebagai kelompok hewan yang peka terhadap perubahan lingkungan, distribusi dari herpetofauna ini sangat dipengaruhi oleh keadaan habitatnya. Ketika habitat yang ditempatinya mengalami kerusakan, beberapa herpetofauna cenderung meninggalkan daerah tersebut. Sehingga herpetofauna dijadikan sebagai indikator biologi di alam. Seperti yang kita ketahui rusaknya suatu habitat selain disebabkan oleh aktivitas alam dapat juga disebabkan oleh aktivitas manusia. Dan hal tersebut menjadi pemicu terjadinya konflik antara herpetofauna dan manusia. Konflik sering didefinisikan sebagai suatu hal yang saling mempengaruhi dimana salah satu pihaknya merasa dirugikan. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan saat ini, siapa yang dirugikan dalam konflik antara hewan dan manusia?

“Apabila saya menempatkan diri saya sebagai herpetofauna, maka saya akan merasa menjadi yang paling dirugikan terutama dalam segi pemberitaan yang lebih menyudutkan herpetofauna sebagai penyebab utama konflik dengan manusia. Padahal kenyataan di lapangan tidak demikian” ujar Kang Ganjar pada saat pematerian Webinar ANACONDA pada Minggu, 27 Maret 2022.

Konflik antara herpetofauna dengan manusia akan selalu terjadi seiring bertambahnya jumlah demografi manusia. Dan konflik yang dimaksud akan mengandung arti yang luas tergantung kepada persepsi dari masing-masing orang. Pasalnya selain respon herpetofauna yang sebagian besar merupakan hewan yang berbahaya, manusia akan turut andil menjadi salah satu yang merugikan terhadap kehidupan herpetofauna. Dengan adanya andil manusia dalam penyebab konflik, dapat menyebabkan penurunan jumlah atau populasi herpetofauna. Dan salah satu faktor utama dari hilangnya herpetofauna adalah aktivitas manusia.

Herpetofauna merupakan salah satu kelompok hewan yang memiliki peranan penting dalam ekosistem. Dimana umumnya, beberapa herpetofauna memiliki habitat yang spesifik di alam. Sehingga ketika terjadi kerusakan pada habitatnya, dapat menyebabkan penurunan populasinya. Dan hal inilah yang menjadikan herpetofauna sebagai indikator biologi (bioindikator) kualitas lingkungan. Dan tanpa kita sadari, salah satu masalah terbesar penyebab menurunnya populasi herpetofauna adalah kerusakan habitat yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Selain itu penyebab lain yang berpengaruh besar terhadap penurunan populasi adalah fragmentasi lahan. Ketika habitat dari herpetofauna mengalami kerusakan, herpetofauna yang berada dalam kawasan tersebut akan melakukan migrasi menuju ke daerah yang sesuai dengan habitat sebelumnya. Akan tetapi pada beberapa herpetofauna yang tidak toleran akan mengalami kematian. Selain itu, bertambahnya populasi manusia akan mendorong pembukaan lahan untuk kepentingan manusia. Dan pada daerah urban (perkotaan) dapat memungkinkan terjadi konflik yang lebih nyata.

Lalu bagaimana manusia harus bersikap terhadap permasalahan tersebut? Sebagai kelompok hewan yang sering mendapat diskriminasi dari berbagai kalangan masyarakat, edukasi terkait pengetahuan dasar herpetofauna perlu dilakukan pada masyarakat. Hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar khususnya herpetofauna. Pada dasarnya kepedulian tersebut akan bermanfaat kembali bagi manusia dalam pencegahan terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar. Selain itu, kepedulian akan berpengaruh terhadap pelestarian sumber daya alam yang diperlukan untuk konservasi. Tidak hanya itu, kontribusi pemerintah dalam hal penegasan peraturan juga perlu ditingkatkan agar tidak terjadi eksploitasi hewan untuk keperluan pribadi tidak marak terjadi. 

Konflik-konflik antara herpetofauna dengan manusia dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan manusia terkait jenis-jenis herpetofauna yang berbahaya. Sebagai contoh, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa seluruh jenis ular berbisa dan berbahaya. Padahal dalam kenyataannya tidak semua jenis herpetofauna berbahaya. Oleh karena itu, pengetahuan identifikasi jenis-jenis herpetofauna berbahaya perlu dilakukan untuk upaya pencegahan dan meminimalisir terjadinya konflik yang tidak diinginkan. Saat ini identifikasi dapat dilakukan secara efektif. Salah satunya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang lebih efektif. Buku identifikasi dapat mudah didapatkan dalam bentuk elektronik. Dan hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi berbagai jenis herpetofauna. Hewan liar termasuk herpetofauna memiliki siklus alami untuk melakukan aktivitas di alam. Sehingga ia akan menjalankan aktivitasnya sesuai dengan kebutuhan. Dan manusia sebagai sama-sama makhluk yang menempati bumi harus memberi ruang bagi mereka dalam menjalankan aktivitasnya. 

Referensi

Kuswanda, W., & Barus, S. P. 2017. Keanekaragaman dan Penetapan ‘Umbrella Species’ Satwa Liar di Taman Nasional Gunung Leuser. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. 6(2): 113 – 123.

Kwatrina, R.T., Santosa, Y., & Maulana, P. 2019. Keanekaragaman Spesies Herpetofauna pada Berbagai Tipe Tutupan Lahan di Lansekap Perkebunan Sawit: Studi Kasus di PT. BLP Central Borneo. Jurnal Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. 9(2): 304-313. http://dx.doi.org/10.29244/jpsl.9.2.304-313.

Subeno. 2012. Distribusi dan Keanekaragaman Herpetofauna di Hulu Sungai Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Kehutanan. 12(1) : 40-51.