Pada tanggal 23-25 Juni 2023, Tim Observasi Wahana Alam (OWA) Departemen Cinta Laut DP XLIV Himbio Universitas Padjadjaran dengan beranggotakan 12 orang melakukan kegiatan penelitian yang bertempat di Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu. Topik penelitian yang diambil yaitu asosiasi lamun Enhalus acoroides dengan makrozoobentos, dimana ekosistem lamun merupakan salah satu sumber daya perairan laut yang paling utama, karena memberikan jasa ekosistem laut yang sangat penting secara ekologis maupun ekonomis. Lamun berfungsi dalam stabilisasi sedimen, peningkatan kualitas air, dan dalam siklus karbon dan nutrisi, serta menyediakan habitat bagi berbagai bentuk kehidupan di perairan pantai serta sebagai tempat pembibitan, tempat berteduh, dan tempat mencari makan bagi banyak spesies. Lamun juga dikenal sebagai salah satu ekosistem laut yang paling produktif setelah mangrove dan terumbu karang, karena keanekaragaman hayati yang relatif tinggi (Ayorbaba dkk., 2021). Makrozoobentos merupakan komunitas organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang merayap, sessil, maupun menggali lubang. Makrozoobentos mempunyai peranan penting di perairan seperti sebagai bioindikator lingkungan, bioturbasi sedimen, dan pemakan bahan organik. Makrozoobentos dapat memanfaatkan lamun sebagai tempat berlindung, memijah, daerah asuhan, dan mencari makan (Indrawan dkk., 2016).
Kegiatan penelitian kami diawali dengan melakukan kunjungan ke balai desa Pulau Pramuka sebagai bentuk hormat kami karena akan melakukan penelitian disana. Setelah itu, kami melakukan survey untuk menentukan titik lokasi pengambilan sampel dan pengamatan sebagai bahan penelitian. Penelitian dilakukan di bagian timur Pulau Pramuka yang mewakili kondisi keseluruhan padang lamun yang berada di seluruh penjuru Pulau Pramuka. Dapat diketahui bahwa hampir di seluruh pesisir pantai Pulau Pramuka terdapat sebaran padang lamun, namun dalam penelitian ini dilihat kondisi padang lamun yang ada di bagian timur untuk mengetahui peranan padang lamun sebagai ekosistem penunjang kehidupan biota laut yang ada di daerah tersebut. Padang Lamun yang terdapat di hamparan pesisir Pulau Pramuka khususnya di bagian timur memiliki banyak manfaat yaitu sebagai produsen primer habitat biota laut, stabilisator dasar perairan, penangkap sedimen, dan pendaur hara yang dapat menciptakan air dengan kualitas yang jernih di sekitar perairan tersebut.
Pada hari ke-2 dilakukan penelitian lamun dan makrozoobentos dengan menggunakan metode penelitian kuadran transek, dimana transek dibuat dengan menarik garis tegak lurus sejajar dengan garis pantai sepanjang 100 m. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan plot kuadran berukuran 1×1 m dengan interval 10 m. 1 Tim dibagi menjadi 3 kelompok yang beranggotakan 4 orang dan tiap kelompok memegang 1 transek. Di Pulau Pramuka kondisi perairannya relative tenang dengan substrat dasar nya terdiri dari pasir sehingga lamun tersebut dapat tumbuh subur dengan baik pada daerah tersebut. Kondisi lingkungan Pulau Pramuka yang tenang, menyebabkan terjadinya akumulasi pasir yang tinggi pada substrat. Pada kondisi lingkungan yang demikian hanya spesies tertentu yang dapat tumbuh di Pulau Pramuka tepatnya di daerah timur di Pulau Pramuka, yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii. Berdasarkan pengamatan terhadap makrozoobentos yang ditemukan di bagian Timur Pulau Pramuka terdapat 19 jenis dengan jumlah 439 individu. Komunitas makrozoobenthos didukung oleh 15 famili dan 6 kelas. 15 famili terdiri dari Famili Cerithiidae, Tellinidae, Cardiidae, Laganidae, Varunidae, Epitoniidae, Buccinidae, Muricidae, Mysidae, Strombidae, Cymatiidae, Lucinidae, Holothuriidae, Cypraeidae, dan Pyramidellidae. Sedangkan 6 kelas terdiri dari Gastropoda, Bivalvia, Echinodermata, Crustacea, Malacostraca, dan Holothuroidea.

Spesies Lamun A) Cymodocea serrulata B) Cymodocea rotundata C) Enhalus acoroides D) Thalassia hemprichii
Pada hari ke-3 tim OWA DCL melanjutkan pengambilan data berupa sampel air laut dan sedimen dengan bahan dan alat botol dan plastik ziplock. Data diambil dengan titik-titik tempat yang telah kami tandai saat pengambilan data lamun dan makrozoobentos. Sampel air laut diambil sebanyak 3 botol sampel perkelompoknya. Pengambilan sampel air dan sedimen ini untuk diteliti parameter fisika dan kimianya dan untuk sampel air dihitung juga pH sampel air tersebut. Sampel dinilai derajat keasaman (pH) menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 yaitu pH yang optimal untuk mendukung kelangsungan hidup di perairan adalah berkisar 7 – 8,5 dengan menunjukkan bahwa pH perairan cenderung bersifat basa dan termasuk pada kisaran pH normal. Lamun dapat tumbuh pada nilai keasaman (pH) optimum berkisar 7,3 – 9,0. Pengambilan sampel pasir diambil dengan menggunakan plastik ziplock. Setelah sampel air laut dan pasir didapatkan langsung dimasukkan ke dalam wadah cool box.
Pada hari ke-4 Tim Observasi Wahana Alam (OWA) Departemen Cinta Laut DP XLIV Himbio Universitas Padjadjaran meninggalkan pulau pramuka setelah mengambil beberapa sampel dan mengidentifikasi benthos tersebut. Data seperti sampel air dan sample sedimen akan diolah di laboratorium ekologi perairan Universitas Padjadjaran. Kesimpulan dari data yang telah kami olah saat di pulau pramuka yaitu terdapat 4 jenis spesies lamun yang ditemukan dari ketiga transek pada stasiun bagian timur Pulau Pramuka, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Cymodocea serrulata. Lamun Enhalus acoroides merupakan spesies yang paling mendominasi pada tutupan lamun di bagian timur Pulau Pramuka. Suhu optimal pada Enhalus acoroides untuk pertumbuhan serta perkembangan yaitu pada kisaran 24-33°C. Suhu yang optimal pada bagian timur Pulau Pramuka dengan kisaran 26-29°C membuat pertumbuhan serta perkembangan Enhalus acoroides menjadi sangat baik.
Setelah dilakukan perhitungan analisis asosiasi dengan menggunakan uji korelasi Pearson atau Korelasi Pearson Product Moment (PPM), Hasil menunjukkan bahwa korelasi lamun Enhalus acoroides memiliki tingkat asosiasi sempurna dengan nilai korelasi pearson 0,810 dengan makrozoobenthos Holothuria atra. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikansi antara lamun Enhalus acoroides dengan makrozoobentos.
Holothuria atra merupakan spesies teripang yang paling melimpah di wilayah Indo-Pasifik dan dapat ditemukan pada perairan dangkal di berbagai jenis substrat (Setyastuti, 2014). Teripang umumnya memiliki kebiasaan memakan dengan mengkonsumsi organisme lain seperti plankton, sisa-sisa dari organisme mati, dan materi organik yang terdapat di dalam endapan lumpur atau pasir (Wisesa et al., 2018). Hewan ini merupakan komponen utama pada ekosistem padang lamun dengan kondisi perairan yang baik (Hamel et al., 2001). Ekosistem padang lamun secara umum pun merupakan habitat yang sesuai untuk kehidupan teripang karena ekosistem ini memiliki nutrien yang dibutuhkan oleh teripang (Bengen, 2001). Selain itu, tingkat asosiasinya yang sempurna dengan lamun tersebut disebabkan lamun tersebut berukuran besar yang dapat memberikan nutrien yang lebih besar pula (Luhulima dkk., 2020; Setyastuti, 2014).
Asosiasi lamun Enhalus acoroides dengan Gastropoda yang bersifat negatif menunjukkan adanya kompetisi atau persaingan hidup dengan jenis yang lain untuk mendapatkan sumberdaya atau nutrisi dan ruang hidup yang sama. Sedangkan untuk jenis Gastropoda yang memiliki asosiasi positif menunjukkan bahwa adanya interaksi antar Gastropoda yang saling berinteraksi secara positif, salah satunya adalah pola hidup dan habitat Gastropoda yang saling berdampingan. Asosiasi negatif memiliki hubungan antar jenis cenderung bersifat merugikan sehingga salah satu jenis akan tertekan. Sedangkan asosiasi yang bersifat positif cenderung saling berbagi habitat dan saling berkontribusi satu sama lain. Apabila terbukti adanya asosiasi positif antara kedua makhluk hidup berarti secara tidak langsung beberapa jenis berhubungan baik atau terjadi ketergantungan antara satu dengan yang lainnya, sedangkan asosiasi negatif menunjukkan secara tidak langsung beberapa jenis mempunyai kecenderungan untuk meniadakan atau mengeluarkan yang lainnya atau juga berarti dua jenis mempunyai pengaruh serta reaksi yang berbeda dalam lingkungan (Fajeri dkk., 2020).
Hasil dari pengamatan hubungan asosiasi lamun Enhalus acoroides dengan makrozoobentos yang telah dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah dan masyarakat mengenai kondisi Padang Lamun pada ekosistem yang berada di bagian timur Pulau Pramuka, serta dapat dijadikan dasar pertimbangan, pengelolaan, pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya padang lamun dan makrozoobentos di bagian timur Pulau Pramuka.
Penulis : Aprilia Dwi Agustina, Haidar Fauzi Razan, Angellica (TIM OWA XII Cinta Laut)
Foto : Dokumentasi Pribadi
Referensi :
Ayorbaba, R., Beroperai, R. A., Bonai, H. M., & Rahanra, R. M. Komponen Biotik & Abiotik pada Ekosistem Lamun di Pulau Batu Distrik Kepulauan Ambai. Unes Journal of Scientech Research, 6 (2): 130-138.
Bengen, D. G. (2001). Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut: Sinopsis. Bogor: Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir Lautan Institut Pertanian Bogor.
Fajeri, F., Lestari, F., & Susiana, S. (2020). Asosiasi Gastropoda di Ekosistem Padang Lamun Perairan Senggarang Besar, Kepulauan Riau, Indonesia. Akutikisle. Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, 4(2): 53-58.
Hamel, J. F., Chantal, c., David, L. P., & Annie, M. (2001). The Sea Cucumber Holothuria scabra (Holothuroidea Echinodermata): Its Biology and Exploitation as Beche-de-mer. Marine Biology, 41: 129-223.
Indrawan, G. S., Yusup, D. S., & Ulinuha, D. 2016. Asosiasi Makrozoobentos pada Padang Lamun di Pantai Merta Segara Sanur, Bali. Jurnal Biologi, (20)1: 11-16.
Luhulima, Y., Zamani, N. P., & Bengen, D. G. (2020). Kepadatan dan Pola Pertumbuhan Teripang Holothuria scabra, Holothuria atra, dan Bohadschia marmorata serta Asosiasinya dengan Lamun di Pesisir Pulau Ambon, Saparua, Osi, dan Marsegu, Provinsi Maluku. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 12(2): 541-554.
Setyastuti, A. (2014). Echinodermata, Holothuria atra, in An Intertidal Seagrass Bed Off The Bama Beach, Baluran National Park, East Java, Indonesia. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 6(1): 31-39.Wisesa, M. M., Bakti, D. & Fadhilah, A. (2018). Abundance of Sea Cucumber on The Ecosystem of Seagrass Inunggeh Island, Tapanuli Tengah Regency North Sumatera Province. IOP, 122: 1-8. https://doi.org/10.1088/1755-1315/122/1/012107.
