
Penulis : Miftakhul Agung
Hutan mangrove atau mangal adalah sejumlah komunitas tumbuhan pantai tropis dan subtropis yang didominasi oleh pohon dan semak tumbuhan bunga (Angiospermae) terestrial yang dapat menginvasi dan tumbuh di lingkungan air laut. Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem alamiah penting yang memiliki beragam sumber daya dan berbagai macam manfaat (Setyawan et al., 2002)
Jika dilihat dari sisi wujud manfaatnya, hutan mangrove memiliki manfaat secara fisik dan kimia. Secara fisik, hutan mangrove memiliki manfaat sebagai daerah pelindung daratan dari pengaruh abrasi/ erosi ombak pasang laut dan banjir rob. Banjir rob merupakan banjir akibat air laut yang naik ke daratan. Akar dari tanaman mangrove yang kuat dan kokoh mampu menahan sedimen tanah dari terjangan ombak laut. Selain itu, akar mangrove mampu memerangkap sedimen tanah sehingga dapat menaikkan tinggi daratan dan membuat daerah baru yang subur. Daerah baru ini dapat ditanami beberapa tanaman lain.
Secara kimia, mangrove berfungsi sebagai penyaring bahan pencemar (polutan) terutama bahan bahan organik dan logam. Tanaman mangrove memiliki kemampuan untuk menyaring beberapa bahan bahan pencemar (polutan) sehingga akan membersihkan lingkungan di sekitar hutan mangrove. Seperti kebanyakan tumbuhan, tanaman mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan banyak karbon dioksida dari atmosfer sehingga mampu mengurangi jumlah karbon di atmosfer secara global. Selain itu, hutan mangrove sebagai vegetasi alami berperan sebagai sumber energi bagi ketersediaan detritus yang merupakan sumber makanan biota/organisme perairan disekitar kawasan hutan mangrove (Aziz, 2003).
Tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, hutan mangrove juga bermanfaat bagi masyarakat di kawasan pesisir atau sekitar hutan mangrove (Noor, 2006). Masyarakat banyak menggunakan tumbuhan mangrove untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan bahan sandang (pakaian atau pendukungnya), kebutuhan pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal).
Produk hutan mangrove yang sering dimanfaatkan manusia adalah kayu yang digunakan sebagai bahan bakar, bahan pembuat perahu, dan bahan untuk membuat rumah. Kayu yang dihasilkan oleh tumbuhan mangrove cukup kuat dan tahan terhadap pelapukan oleh air sehingga cocok digunakan untuk bahan pembuatan kapal layar. Ranting dan cabang dari tumbuhan ini dimanfaatkan sebagai kayu bakar karena nyala api dan baranya cukup stabil. Sementara itu, getah dari tanaman mangrove sering dimanfaatkan untuk pengawet jaring, lem, dan bahan pewarna kain.
Serat dari bagian daun beberapa spesies mangrove dapat dibuat menjadi berbagai jenis kerajinan anyaman. Serat daun ini cukup kuat dan mudah untuk dianyam sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan kerajinan. Daun dari beberapa spesies ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat baik dengan cara diminum sarinya, ditempel, maupun dioles pada luka.
Beberapa spesies tumbuhan bakau memiliki buah yang dapat dimakan, masyarakat seringkali mengambil buah tanaman ini untuk dimakan langsung. Selain dimakan langsung, buah bakau juga seringkali dimasak menjadi dodol, permen, selai, saus dan sirup. Buah bakau juga dimanfaatkan sebagai pewarna makanan untuk kue agar cantik dan lebih menggugah selera. Selain memliki efek samping lebih sedikit dari pewarna buatan, pewarna makanan alami dari sari buah bakau juga memiliki berbagai antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Masih banyak lagi manfaat dari hutan mangrove yang belum diketahui atau belum dikenalkan secara luas sehingga perlu dilakukan riset, penelitian, dan pemopuleran yang lebih mendalam serta berkelanjutan.
Sumber :
Darwati, H. Nurkalida, A. (2021). Pertumbuhan Tanaman Bakau (Rhizophora spp.) di Kawasan Mangrove Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang. Jurnal Hutan Lestari, 9(4): 686–694.
Alfa Rosyada, M. Sofwan Anwari, Muflihati. (2018). Mangrove Plants Utilization by Society of Bakau Besar Laut Village, Sungai Pinyuh District, Mempawah Regency. Jurnal Hutan Lestari, 6: 62–70.
Shinta, M.L., dan Yuli, A.S. (2022). Identifikasi Jenis Mangrove pada Kawasan Ekosisten Mangrove di Kabupaten Pangandaran. Jurnal Akuatek, 3(1): 9–18.