Penulis: Tim OWA XIII Floring
Fungi atau lebih dikenal sebagai jamur terdiri dari dua kelompok besar yaitu mikrofungi dan makrofungi. ‘Mikro’, yang artinya perlu mikroskop untuk melihatnya secara seksama, sedangkan ‘makro’ artinya dapat dilihat secara jelas tanpa mikroskop. Makrofungi contohnya seperti jamur shimeji atau portobello sering ditemukan di supermarket, dan merupakan kelompok jamur yang berperan penting dalam ekosistem hutan. Makrofungi memiliki berbagai manfaat sesuai dengan jenisnya yaitu sebagai dekomposer, sumber makanan, dan juga bahan obat (Niego et al., 2023). Di negara-negara Asia Timur, makrofungi umum digunakan sebagai obat-obatan karena mengandung senyawa kimia dalam tubuh buahnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Contoh makrofungi yang umum digunakan sebagai obat ada dari genus Lentinus dan Ganoderma (Qi et al., 2021). Tetapi selain menjadi sumber makanan dan obat, terdapat juga makrofungi yang bersifat beracun sehingga tidak dapat dikonsumsi maupun disentuh secara langsung yaitu contohnya seperti jamur merah bertotol putih yang sering dijadikan ilustrasi alias Amanita muscaria (fly agaric).
Berdasarkan data dari Global Biodiversity Information Facility (2021), Indonesia menjadi habitat bagi 11.024 spesies fungi dari 69.000 yang telah teridentifikasi di seluruh dunia (Sulastri & Basri, 2019). Penelitian mengenai keanekaragaman makrofungi di Indonesia telah dilakukan di berbagai lokasi seperti hutan, kawasan konservasi, dan areal pemukiman. Diperkirakan bahwa spesies fungi di dunia mencapai 1.5 juta, tetapi baru teridentifikasi 69.000. Maka, penelitian mengenai keanekaragaman fungi terus berlanjut.
Pada tanggal 23 Juli 2024 sampai dengan 29 Juli 2024, departemen Flora dan Lingkungan dari Himpunan Biologi melakukan observasi lapangan dalam rangka kegiatan Observasi Wahana Lingkungan (OWA) XIII. Observasi dilakukan dengan tujuan penelitian mengetahui keanekaragaman dari makrofungi pada Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TMBK) dengan total waktu pengamatan 5 hari di berbagai tempat yang berbeda. Hasil observasi memberikan data dari total 197 spesies makrofungi yang terbagi ke dalam 123 genus, 52 famili, 18 ordo, dan 6 kelas dengan beragam bentuk, warna, ukuran, dan lingkungan.
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi persebaran keanekaragaman hayati jamur, baik secara internal maupun eksternal. Beberapa diantaranya adalah kondisi lingkungan, kelembapan, suhu, curah hujan, jenis tanah, ukuran, morfologi, dan anatomi jamur itu sendiri. Tidak ada jamur tertentu dapat hidup di habitat tertentu. Hal ini menyebabkan, habitat dapat menentukan sebaran jamur di suatu tempat. Berdasarkan data dari pengelola TBMK per tanggal 24 Juli 2024, terhitung jumlah hari tanpa hujan berada di angka tiga puluh, sedangkan suhu lingkungan tertinggi mencapai ± 28.3°C dan terendah mencapai ± 14,6°C, menunjukan akan dimulainya musim kemarau. Saat pengamatan selama lima hari diperoleh suhu rata-rata lingkungan sebesar 22,7°C dan kelembapan sebesar 72,6%. Kami melakukan observasi di beberapa titik di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TMBK) yang dominan hutan dengan tutupan yang lebat dan beberapa daerah yang didominasi pohon bambu dengan tutupan yang lebat. Jamur yang memiliki habitat di tanah yang lembab adalah jamur dari genus Cyclocybe, Lactarius, Strobilurus, Gyroporus, dan Leucopaxillus. Jamur lain yang tumbuh secara alami pada kayu mati adalah Cruentomycena, Cerioporus, Amphilogia, dan Ganoderma. Jamur yang tumbuh pada serasah kayu adalah Lycoperdon, Psilocybe, Rusulla, dan Lentinus. Jamur yang mendominasi adalah jamur dari famili Polyperaceae yang didalamnya mencakup sebanyak 27 spesies.
Kami melakukan pengamatan ketika pagi hari dan sore hari di daerah sekitar hutan dan ditemukan banyak jamur yang unik dengan berbagai warna dan seperti jamur Psilocybe cubencis yang berwarna kebiru biruan yang ditemukan pada substrat serasah kayu, tetapi jamur dengan jenis ini tidak ditemukan banyak di TBMK. Selain itu terdapat jamur Cyptotrama asprata dengan warna kuning yang cerah dan pada tudungnya terdapat tekstur seperti duri sehingga jamur tersebut sekilas terlihat seperti durian. Jamur unik lainnya adalah Scutellinia scutellata berwarna orange dan tumbuh berkoloni dan ukurannya kecil
Selain di area hutan dengan tutupan yang lebat kami juga melakukan pengamatan di area hutan bambu dan ditemukan beberapa jamur yang unik seperti Cruentomycena viscidocruenta jamur ini tumbuh di serasah pelepah bambu dengan warna yang mencolok yaitu warna merah muda keunguan memiliki ukuran yang kecil dengan tudung bulat.
Cruentomycena viscidocruenta
Selain itu kami menemukan beberapa jamur yang unik lainnya seperti jamur Pycnoporellus alboluteus bentuknya unik seperti karang tumbuh pada kayu mati dan memiliki warna putih orange. Selain itu kami menemukan jamur Leucopaxillus albissimus yang ukurannya cukup besar dan tumbuh di tanah yang lembab. Banyak juga jamur yang tumbuh di kayu mati seperti Ganoderma dan masih banyak lagi.
Pycnoporellus alboluteus | Leucopaxillus albissimus |
DAFTAR PUSTAKA
Niego, A. G. T., Rapior, S., Thongklang, N., Raspé, O., Hyde, K. D., & Mortimer, P. (2023). Reviewing the contributions of macrofungi to forest ecosystem processes and services. Fungal Biology Reviews, 44, 100294.
Sulastri, M. P & Basri, H. (2019). Identifikasi Makrofungi Di Taman Wisata Alam Gunung Tunak Kabupaten Lombok Tengah. Avesina, 13(1), 36-42.
Qi, L. F. R., Liu, S., Liu, Y. C., Li, P., & Xu, X. (2021). Ganoderic Acid A Promotes Amyloid‐β Clearance (In Vitro) and Ameliorates Cognitive Deficiency in Alzheimer’s Disease (Mouse Model) Through Autophagy Induced by Activating Axl. International Journal of Molecular Sciences, 22(11), 1-18.
