Lompat ke konten

Mengenal Mikroplastik, Si Partikel Kecil dengan Bahaya Besar

Penulis: Farra Aurelia Rahmadani (Biologi 2023)
Disunting oleh: Viola Anindita Dewi (Biologi 2023)

Sampah laut dapat digambarkan sebagai benda padat persisten. Sampah laut ini diproduksi atau dikelola oleh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta secara sengaja atau tidak sengaja, kemudian sampah ini dibuang di sekitar lingkungan laut (National Oceanic and Atmospheric Administration, 2013). Sampah yang paling banyak yang ada di wilayah daratan dan lautan adalah sampah plastik. Sampah plastik menjadi permasalahan yang sulit dikontrol karena penggunaan yang banyak, pembuangan sembarangan, serta kurangnya pengelolaan limbah (Kapo dkk., 2020). Sampah plastik yang berakhir di laut ditemukan mengapung dan memiliki berbagai macam ukuran yang diklasifikasikan menjadi makroplastik, mesoplastik, dan mikroplastik (Fendall and Sewel, 2009).

Mikroplastik merupakan plastik yang berukuran kurang dari 5 mm (Kershaw, 2015). Proses terbentuknya mikroplastik diakibatkan karena adanya perombakan struktur dengan secara fisik atau kimia oleh radiasi matahari. Proses ini berasal dari oksidasi termal atau dari mikroorganisme (Fachrul & Rianti, 2018). Mikroplastik dapat berupa mikroplastik sekunder yang berasal dari degradasi dan abrasi, kemudian mikroplastik primer yang didesain dari awal dengan ukuran kecil pada kosmetik.

Di lautan, mikroplastik dapat berupa fragmen (pecahan), beads (bulat), serta mikro, dan debu granul ban bekas. Mikroplastik dapat ditemukan di garis pantai dengan posisi mengambang, melayang, atau tenggelam di air laut tergantung berat jenisnya. Hal ini menyebabkan mikroplastik dapat dikonsumsi dengan biota laut (Supit dkk., 2022). Mikroplastik juga banyak dijumpai mengendap pada sedimen di habitat muara atau berada di sisi pantai berpasir yang melewati alur transport massa. Mikroplastik diperkirakan dapat menyerap banyak kontaminan pada lokasi dengan konsentrasi pencemaran lebih tinggi dan waktu partikel yang menetap lebih lama (Wright dkk., 2013).

Mikroplastik yang mencemari lingkungan laut dapat berimbas pada ikan yang hidup di lautan. Mikroplastik yang tercemar pada biota laut akan meracuni manusia yang mengonsumsi biota laut yang terkontaminasi. Mikroplastik sangat berdampak bagi kesehatan manusia karena bahan kimia yang beracun akan menyebabkan kerusakan kimia dan fisik biologis. Banyak penelitian menunjukkan mikroplastik berpotensi menyebabkan gangguan metabolisme, neurotoksisitas, dan peningkatan risiko kanker pada manusia. Selain itu mikroplastik berpotensi dalam gangguan reproduksi, gangguan fungsi hati, gangguan ginjal, dan anemia (Aulia dkk., 2023).

Berdasarkan penjelasan mengenai dampak sampah plastik (terutama mikroplastik), dapat disimpulkan bahwa ini merupakan masalah serius yang dihadapi oleh ekosistem laut dan kesehatan manusia. Mikroplastik yang berasal dari degradasi dapat menimbulkan kontaminasi pada biota laut dan potensi berbahaya bagi manusia yang mengonsumsi biota laut yang terkontaminasi mikroplastik. Bahaya mikroplastik ini meliputi risiko banyak gangguan bagi tubuh manusia. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengurangan terhadap penggunaan plastik sangat penting untuk melindungi ekosistem laut dan kesehatan manusia.

Referensi
Aulia, A., Azizah, R., Sulistyorini, L., & Rizaldi, M. A. (2023). Literature review: Dampak mikroplastik terhadap lingkungan pesisir, biota laut dan potensi risiko kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 22(3), 328-341.

Fachrul, M.F. dan Rinanti, A. (2018). Bioremediasi Pencemar Mikroplastik di Ekosistim Perairan Menggunakan Bakteri Indigenous (Bioremediation of Microplastic Pollutant in Aquatic Ecosystem by Indigenous Bacteria). Seminar Nasional Kota Berkelanjutan, 1(1), 302-312.

Fendall LS. dan Sewell MA. 2009. Contributing to marine pollution by washing your face: Microplastics in facial cleansers. Marine Pollution Bulletin, 58(8), 1225–1228.

Kapo, F. A., Toruan, L. N., & Paulus, C. A. (2020). Jenis dan kelimpahan mikroplastik pada kolom permukaan air di perairan Teluk Kupang. Jurnal Bahari Papadak, 1(1), 10-21.

Kershaw, P. J., & Rochman, C. M. (2015). Sources, fate and effects of microplastics in the marine environment: part 2 of a global assessment. Reports and StudiesIMO/FAO/UnescoIOC/WMO/IAEA/UN/UNEP Joint Group of Experts on the Scientific Aspects of Marine Environmental Protection (GESAMP) Eng No. 93.
https://doi.org/10.13140/RG.2.1.3803.7925

[NOOA] National Oceanic and Atmospheric Administration. (2013). Programmatic Environmental Assessment (PEA) for the NOAA Marine Debris Program (MDP). Maryland (US): NOAA: 168p.

Supit, A., Tompodung, L., & Kumaat, S. (2022). Mikroplastik sebagai Kontaminan Anyar dan Efek Toksiknya terhadap Kesehatan Microplastic as an Emerging Contaminant and its Toxic Effects on Health. Jurnal Kesehatan, 13(1), 199-208.

Wright, S.L., Thompson, R.C., & Galloway, T.S. (2013). The physical impacts of microplastics on marine organisms: a review. Environmental Pollution (Barking, Essex : 1987), 178, 483–492.