
Penulis: Ananda Monica Saputry (Biologi 2023)
Disunting oleh: Viola Anindita Dewi (Biologi 2023)
Di tengah lebatnya hutan tropis Indonesia, ada satu pohon yang selalu berhasil mencuri perhatian—bukan hanya karena tinggi menjulangnya, tetapi karena warna-warni batangnya yang memukau layaknya lukisan alam. Pohon itu dikenal sebagai Eucalyptus deglupta, yang lebih dikenal dengan nama pohon pelangi atau leda, bukan hanya memikat mata karena warna batangnya yang mencolok, tetapi juga menyimpan berbagai potensi ekologis dan ekonomis yang penting bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Spesies ini merupakan salah satu flora endemik Nusantara yang patut dibanggakan, tumbuh alami di Papua dan Sulawesi, serta telah banyak dibudidayakan sebagai tanaman industri (Tirkaamiana dkk., 2023; Annisah dkk., 2014).
Pohon pelangi ini mampu tumbuh hingga lebih dari 60 meter dengan laju pertumbuhan yang sangat cepat. Ia menyukai iklim tropis yang panas dan lembab, dengan habitat alaminya berada pada ketinggian antara 1.110–1.800 mdpl dan kemiringan lahan 8–15%. Suhu pagi hari ideal berkisar antara 19–20°C dan siang hari 19–23°C, sementara kelembaban udara optimal berada pada kisaran 76–91%. Intensitas cahaya yang disukai berkisar antara 80–400 lux (Annisah dkk., 2014). Jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhannya meliputi tanah liat berpasir, lempung, aluvial subur, hingga lahan lembab yang sesekali tergenang air, asalkan drainasenya tetap baik. Curah hujan ideal berkisar antara 2.500–5.000 mm per tahun, menjadikannya sangat cocok untuk wilayah-wilayah hutan hujan tropis Indonesia (Annisah dkk., 2014).
Dalam sektor kehutanan, E. deglupta menjadi favorit untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) yang memasok kebutuhan bahan baku pulp dan kertas nasional. Melalui praktek silvikultur intensif seperti pemilihan bibit unggul, pemupukan dengan NPK, Urea, dan KCl, serta pengelolaan tanam berbasis teknologi modern, pertumbuhan diameter dan tinggi pohon dapat dimaksimalkan. Umur panennya relatif singkat, yakni sekitar 4–5 tahun, sehingga sangat ideal untuk industri berorientasi produktivitas tinggi (Tirkaamiana dkk., 2023). Selain itu, sistem HTI juga menerapkan prinsip kemitraan dengan masyarakat sekitar, mulai dari pemberdayaan tenaga kerja lokal hingga pengelolaan lahan bersama. Model ini menciptakan nilai tambah secara sosial dan ekonomi, sekaligus memperkuat praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan diakui secara nasional maupun internasional (Tirkaamiana dkk., 2023).
Meski tergolong unggul sebagai spesies yang tumbuh cepat, E. deglupta tetap memiliki kerentanan, terutama terhadap serangan penyakit jamur seperti Cylindrocladium sp., Kirramyces sp., dan Cryptosporiopsis sp. yang dapat menyerang bibit, akar, kulit batang, maupun daun muda. Penyakit-penyakit ini cenderung menyebar saat musim hujan, karena suhu dan kelembaban yang ideal bagi perkembangan patogen (Tirkaamiana dkk., 2023). Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan strategi pengendalian hama dan penyakit yang tepat yaitu melalui identifikasi dini dan penerapan teknik pengendalian terpadu berbasis ilmu pengetahuan. Penggunaan bibit sehat, sanitasi lingkungan budidaya, serta pemilihan lokasi tanam yang sesuai menjadi kunci utama dalam mendukung kelestarian dan produktivitas pohon pelangi.
Di balik pesonanya, pohon E. deglupta bukan hanya berperan dalam industri, tetapi juga turut memperindah lingkungan. Keunikan warna batangnya menjadikannya pilihan populer dalam program penghijauan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta wisata alam. Perpaduan fungsi estetis, ekologis, dan ekonomis inilah yang menjadikan E. deglupta sebagai salah satu spesies pohon paling istimewa, baik di Indonesia maupun dunia.
Referensi
Annisah, N., Sudhartono, A., & Ramlah, S. (2014). Karakteristik Fisik Habitat Leda (Eucalyptus deglupta) di Jalur Pendakian Gunung Nokilalaki Kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Warta Rimba, 2(2), 42-48.
Tirkaamiana, M. T., Bakrie, I., Jumani, J., Ismail, I., Azham, Z., Mujahiddin, D. E., … & Manik, M. (2023). Penanaman Eucalypthus deglupta dengan Penerapan Manajemen dan Teknik Silvikultur Intensif di PT ITCI Hutani Manunggal di Desa Bumi Harapan, Panajam Paser Utara. Jurnal Abdimas Untag Samarinda, 1(1), 39-50.