Lompat ke konten

Nautilus: Fosil Hidup Bawah Laut

Penulis: Farrel Arraufi (2023)
Disunting oleh: Arivia Mutiara Syahira (2023)

Nautilus sering dijuluki “fosil hidup” karena dia termasuk satu-satunya cephalopoda bercangkang yang selamat dari zaman kuno, sedangkan kerabat modern seperti gurita, cumi, dan sotong yang sudah hilang cangkangnya.

Bukan hanya usianya yang membuat Nautilus menarik, cangkang yang dimiliki nautilus merupakan karya alam yang luar biasa. Cangkang Nautilus berbentuk spiral dengan banyak kamar (chambers) internal, dan nautilus menghuni kamar paling luar. Saat tumbuh, Nautilus tidak mengganti rumahnya, melainkan menambah kamar baru dan pindah ke kamar paling luar. Internal kamar-kamar ini dihubungkan oleh sebuah tabung (siphuncle) yang memungkinkan Nautilus mengatur gas atau cairan di dalamnya, sehingga dapat bergerak naik-turun air selayaknya kapal selam alami. Sistem ini memberikan kemampuan apung (buoyancy control) yang presisi. Struktur spiral cangkang Nautilus juga memiliki sifat matematis. Bentuknya “self-similar” alias fractal yang berarti, pola spiral itu konsisten meskipun dilihat dari skala kecil atau besar. Penelitian menunjukkan shell Nautilus memiliki “fractal dimension,” dan pertumbuhan cangkangnya mengikuti kriteria self-similar seiring
waktu (Castrejón et al., 2003).

Nautilus hidup di tempat gelap dan dalam ketika siang hari, umumnya di kedalaman 50 hingga 480 meter, jauh dari matahari dan predator. Pada malam hari, nautilus akan naik ke perairan lebih dangkal untuk mencari makan, yaitu bangkai ikan, krustasea kecil, atau sisa makanan dikarenakan nautilus bukan pemburu agresif, melainkan scavenger/pemakan sisa laut. (Castrejón et al., 2003 ) Uniknya lagi, meskipun otak Nautilus tergolong “primitif” dibanding cephalopoda modern, tanpa struktur otak kompleks untuk memori seperti gurita atau cumi, penelitian menunjukkan bahwa Nautilus masih dapat belajar dan mengingat seperti gurita dan cumi-cumi. Studi conditioning (pembiasaan) pada Nautilus pompilius memperlihatkan bahwa hewan ini mampu menunjukkan short-term memory (ingatan jangka panjang) dan long-term memory (ingatan jangka pendek), bentuk memori biphasic serupa cephalopoda “maju”. Artinya, meskipun fisiknya sederhana, nautilus tetap memiliki kecerdasan dasar yang cukup luar biasa untuk “fosil hidup” pada laut dalam. (Castrejón et al., 2003).

Di balik semua kecanggihan itu, Nautilus punya kelemahan, terutama karena gaya hidupnya lambat.
Pertumbuhan dan reproduksi pada nautilus membutuhkan waktu yang panjang, dan mereka hidup
relatif lama dibanding banyak cephalopoda lain. Karena itu, jika habitat mereka terganggu, baik
dikarenakan overfishing atau pengambilan cangkang untuk souvenir, populasinya sulit untuk pulih
kembali. Nautilus menjadi semacam jembatan waktu, dari lautan purba ke samudera modern. Nautilus
menunjukkan bahwa alam dapat merancang makhluk dengan strategi hidup pelan dan stabil yang
tahan banting tetapi juga rapuh jika dipaksa berubah dengan cepat. Cangkangnya bukan hanya
pelindung, tetapi lagu spiral yang terus berputar melewati zaman.

Referensi
Castrejón Pita, A. A., Castrejón Pita, J. R., Sarmiento Galán, A., & Castrejón García, R. (2003). The
Impressive Complexity In The Nautilus Pompilius Shell. Fractals
, 11(2), 163–168. DOI:
10.1142/S0218348x03001653.

Thompson, P. (2008). A Biphasic Memory Curve In The Chambered Nautilus, Nautilus pompilius L.
Journal Of Experimental Biology, 211(12), 1992–1998. DOI: 10.1242/Jeb.018531.