
Penulis: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Fotosintesis umumnya hanya dilakukan oleh tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri. Namun, terdapat hewan laut yang mampu memanfaatkan hasil fotosintesis, yaitu Elysia chlorotica. Siput laut ini memperoleh kemampuan tersebut melalui proses kleptoplasty, yaitu mempertahankan kloroplas dari alga Vaucheria litorea yang dimakannya. Berbeda dengan hewan lain yang mencerna seluruh makanannya, E. chlorotica menyimpan kloroplas tersebut di dalam sel tubuhnya sehingga masih dapat melakukan fotosintesis ketika terkena cahaya matahari (Rumpho et al., 2011).
Kemampuan mempertahankan kloroplas memberikan keuntungan bagi E. chlorotica, terutama saat sumber makanan terbatas. Energi hasil fotosintesis membantu siput laut ini bertahan hidup lebih lama tanpa harus terus-menerus mencari makanan (Pierce et al., 2015). Fenomena ini menjadi unik karena kloroplas umumnya tidak dapat bertahan lama setelah terpisah dari sel asalnya. Hingga saat ini, mekanisme yang memungkinkan kloroplas tetap aktif di dalam tubuh E. chlorotica masih menjadi topik penelitian, sehingga kleptoplasty menjadi salah satu fenomena yang menarik dalam bidang biologi evolusi dan fisiologi.
Fenomena kleptoplasty pada Elysia chlorotica menunjukkan bahwa interaksi antara hewan dan alga dapat menghasilkan bentuk adaptasi yang tidak biasa. Kemampuan memanfaatkan kloroplas tanpa menghasilkan organel tersebut sendiri menjadikan E. chlorotica sebagai salah satu contoh unik adaptasi biologis sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai hubungan simbiosis, evolusi, dan fungsi organel pada makhluk hidup.
Referensi
Pierce, S. K., Curtis, N. E., & Schwartz, J. A. (2015). Chlorophyll a synthesis by an animal using transferred algal nuclear genes? Symbiosis, 65(2), 57–62.
Rumpho, M. E., Pelletreau, K. N., Moustafa, A., & Bhattacharya, D. (2011). The making of a photosynthetic animal. Journal of Experimental Biology, 214(2), 303–311.