Lompat ke konten

Perbedaan Respons Neurobiologis terhadap Trauma pada Karakter Brian Lackey dan Neil McCormick dalam Film Mysterious Skin (2004)

Penulis: Hasna Alia (2024)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)

Ketika menghadapi pengalaman traumatis, individu dapat merespons stres melalui strategi coping yang disadari maupun defense mechanism yang bekerja secara tidak sadar. Kedua mekanisme tersebut berperan dalam mengurangi tekanan psikologis, meskipun melalui proses yang berbeda. Menurut Maryam (2017), Strategi coping merupakan upaya individu untuk menghadapi stres internal maupun eksternal dengan tujuan memodulasi aktivitas HPA axis sehingga kadar kortisol kembali normal, sekaligus melindungi hipokampus dari dampak stres kronis. Sedangkan, defense mechanisms sebagai proses psikologis tidak sadar (unconscious) yang digunakan pikiran untuk melindungi individu dari kecemasan, tekanan emosional, dan pengalaman yang terlalu menyakitkan. Mekanisme ini membantu mempertahankan identitas diri (sense of self), harga diri, dan kesejahteraan psikologis, meskipun jika digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan distorsi terhadap realitas (Kumari, 2024).  Film Mysterious Skin (2004) merupakan film yang cocok menggambarkan bagaimana cara otak melindungi diri dan memberikan respon terhadap trauma.

Mysterious Skin (2004) merupakan film yang disutradarai oleh Gregg Araki yang mengisahkan dua anak laki-laki, Brian Lackey dan Neil McCormick, yang mengalami trauma masa kanak-kanak akibat kekerasan seksual. Brian, yang saat berusia delapan tahun mengalami kehilangan ingatan, mimpi-mimpi aneh, mimisan berulang, dan kecemasan, meyakini bahwa dirinya pernah diculik oleh alien. Saat dewasa, Brian (Brady Corbet) menjadi terobsesi untuk mencari bukti mengenai penculikan tersebut, tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Di sisi lain, Neil (Joseph Gordon-Levitt) mengingat pengalaman traumatisnya, tetapi menunjukkan cara proses regulasi otak yang berbeda. Trauma tersebut memengaruhi perilaku dan kehidupannya hingga dewasa. Ketika Brian akhirnya bertemu kembali dengan Neil, keduanya mulai mengungkap peristiwa yang sebenarnya terjadi pada masa kecil mereka. Brian kemudian menyadari bahwa keyakinannya mengenai penculikan oleh alien bukanlah pengalaman yang nyata, melainkan hasil mekanisme disosiatif dan rekonstruksi memori yang digunakan otaknya untuk melindungi diri dari kenangan traumatis yang selama bertahun-tahun tidak mampu diproses secara sadar.

Cara bagaimana otak merespon pada pengalaman trauma Neil dan Brian terlihat bagaimana cara otak bereaksi pada trauma. Brian secara tidak sadar mempercayai bahwa dirinya telah diculik entitas luar angkasa sedangkan, Neil menutupi rasa sakitnya dan mengadaptasi perilaku hiperseksual  sebagai bentuk regulasi terhadap tekanan emosional yang dialaminya. 

Menurut Theodoratou dan Argyrides (2024), Pengalaman traumatis mengakibatkan otak mengaktifkan sistem respons stres melalui amigdala dan HPA axis yang meningkatkan sekresi kortisol. Apabila produksi kortisol terbentuk secara terus-menerus, fungsi otak bagian hippocampus mulai mendistorsi memori sehingga memori tidak terintegrasi secara utuh dan pada saat yang sama, prefrontal cortex berperan dalam proses appraisal dan pemilihan strategi coping. Gangguan fungsi hipokampus menyebabkan memori traumatis Brian tidak tersimpan secara utuh sehingga muncul kekosongan memori. Kekosongan tersebut kemudian direkonstruksi melalui mekanisme disosiasi dan fantasi. Bila melihat sisi psikologi, Brian mengalami defense mechanism, dimana trauma masa kecil memicu mekanisme pertahanan yang bekerja secara tidak sadar untuk mengurangi tekanan emosional. Melalui dissociation dan repression, otaknya memisahkan serta menekan memori traumatis dari kesadaran. Kekosongan memori tersebut kemudian diisi dengan fantasi mengenai penculikan alien, yang berfungsi sebagai coping dan agar individu terhindar dari dampak psikologis pengalaman traumatis  (Kumari, 2024). 

Sedangkan Neil menggunakan aktivitas seksual sebagai bentuk emotion-focused coping yang maladaptif. Penggunaan perilaku seksual secara berulang kemudian berkembang menjadi perilaku hiperseksual. Perilaku hiperseksualitas Neil muncul akibatnya gangguan pada sistem reward otak dan mekanisme kontrol impuls. Perilaku tersebut muncul ketika proses regulasi yang melibatkan korteks prefrontal terhadap dorongan yang berasal dari sistem reward tidak berjalan secara optimal, sehingga individu lebih mudah melakukan perilaku yang memberikan penguatan (reward) secara berulang meskipun berpotensi menimbulkan konsekuensi negatif. Dari perspektif neurobiologi, perilaku seksual yang berulang dapat dipahami sebagai bentuk regulasi emosi melalui aktivasi reward system, karena aktivitas tersebut memicu pelepasan dopamin yang menghasilkan sensasi menyenangkan atau mengurangi distress untuk sementara. Meskipun memberikan efek jangka pendek, mekanisme ini tidak menyelesaikan trauma yang mendasarinya sehingga perilaku tersebut terus diulang sebagai bentuk coping maladaptif (Tayim et al.,2024).

Meskipun mengalami trauma yang sama, Brian dan Neil menunjukkan mekanisme reaksi yang berbeda karena otak mereka memproses memori traumatis secara berbeda. Perbedaan proses neurobiologis ini memengaruhi cara masing-masing karakter beradaptasi dengan traumanya.

Referensi

IMDb. (n.d.). Mysterious Skin (2004): Full cast & crew. IMDb. Retrieved July 28, 2026, from https://www.imdb.com/title/tt0370986/fullcredits 

Kumari, S. (2024). Understanding Defense Mechanisms: How Our Minds Protect Us. International Journal of Research Culture Society, 8

Maryam, S. (2017). Strategi coping: Teori dan sumberdayanya. Jurnal Konseling Andi Matappa, 1(2), 101–107.

Tayim, N., Barbosa, P., & Panicker J. (2024). Hypersexuality in neurological disorders: A systematic review. BMJ Mental Health, 27, e300998. https://doi.org/10.1136/bmjment-2024-300998 

Theodoratou, M.,& Argyrides, M. (2024). Neuropsychological Insights into Coping Strategies: Integrating Theory and Practice in Clinical and Therapeutic Contexts. Psychiatry International , 5