
Penulis: Muslikha Rahmadini (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Makanan manis mengandung gula yang berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Dalam jumlah yang wajar, gula dibutuhkan untuk mendukung aktivitas sel, terutama otak. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolisme (Neuenschwander et al., 2022). Bukti ilmiah terbaru juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman dan makanan tinggi gula secara berlebihan berhubungan dengan peningkatan berat badan pada anak maupun orang dewasa.
Ketika makanan manis dikonsumsi, kadar glukosa darah meningkat dengan cepat sehingga pankreas menghasilkan hormon insulin untuk membantu glukosa masuk ke dalam sel. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, tubuh dapat mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tidak lagi merespons insulin secara optimal. Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab utama diabetes melitus tipe 2 (Neuenschwander et al., 2022).
Selain memengaruhi metabolisme, konsumsi gula berlebih juga dapat berdampak pada kesehatan otak. Pola makan tinggi gula dikaitkan dengan penurunan fungsi memori, kemampuan belajar, dan peningkatan peradangan pada jaringan saraf. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kognitif apabila disertai pola hidup yang tidak sehat (Taylor et al., 2020).
Konsumsi gula berlebih juga berkontribusi terhadap peningkatan berat badan karena kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk lemak. Risiko ini semakin tinggi apabila gula berasal dari minuman berpemanis, yang umumnya memberikan rasa kenyang lebih rendah dibandingkan makanan padat sehingga seseorang cenderung mengonsumsi kalori lebih banyak (Nguyen et al., 2023).
Oleh karena itu, konsumsi makanan manis sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayuran. Membatasi gula tambahan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan tubuh, mengurangi risiko penyakit kronis, dan meningkatkan kualitas hidup.
Referensi
Neuenschwander, M., Ballon, A., Weber, K. S., et al. (2022). Role of diet in type 2 diabetes incidence: Umbrella review of meta-analyses of prospective observational studies. BMJ, 376, e068151. https://doi.org/10.1136/bmj-2021-068151
Nguyen, M., Jarvis, S. E., Sievenpiper, J. L., et al. (2023). Sugar-sweetened beverage consumption and weight gain in children and adults: A systematic review and meta-analysis of prospective cohort studies and randomized controlled trials. The American Journal of Clinical Nutrition, 117(1), 160–174. https://doi.org/10.1016/j.ajcnut.2022.11.008
Taylor, M. K., Sullivan, D. K., Swerdlow, R. H., et al. (2020). A high-glycemic diet is associated with cerebral amyloid burden in cognitively normal older adults. The American Journal of Clinical Nutrition, 112(6), 1464–1475. https://doi.org/10.1093/ajcn/nqaa197