
Penulis: Muslikha Rahmadini (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Udara merupakan komponen penting bagi kehidupan karena setiap manusia membutuhkan oksigen untuk menjalankan proses respirasi. Namun, kualitas udara dapat menurun akibat pencemaran yang berasal dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan penggunaan bahan bakar fosil. Polutan seperti partikulat halus (PM₂.₅), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan ozon (O₃) dapat membahayakan kesehatan manusia apabila terhirup dalam jumlah tinggi atau dalam waktu yang lama (Manisalidis et al., 2020).
Salah satu polutan yang paling berbahaya adalah PM₂.₅, yaitu partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk hingga ke alveolus paru-paru, bahkan menembus aliran darah. Paparan PM₂.₅ secara terus-menerus dapat menyebabkan peradangan, menurunkan fungsi paru-paru, serta meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, kanker paru, dan kematian dini (Chen & Hoek, 2020 ; Manisalidis et al., 2020;).
Selain memengaruhi kesehatan fisik, kualitas udara yang buruk juga berdampak pada fungsi otak. Penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi udara dalam jangka panjang berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif, gangguan konsentrasi, serta meningkatnya risiko penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson. Hal ini terjadi karena polutan dapat memicu stres oksidatif dan peradangan pada jaringan saraf (Chen & Hoek, 2020).
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak pencemaran udara. Pada anak-anak, paparan polusi dapat menghambat perkembangan paru-paru dan meningkatkan risiko asma. Sementara itu, pada lansia dan penderita penyakit kronis, kualitas udara yang buruk dapat memperparah kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko rawat inap (Allen & Barn, 2020).
Menjaga kualitas udara dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, beralih ke energi yang lebih bersih, tidak membakar sampah sembarangan, menanam pohon, serta meningkatkan ruang terbuka hijau. Selain itu, masyarakat juga disarankan memantau indeks kualitas udara dan menggunakan masker saat tingkat polusi sedang tinggi untuk mengurangi paparan polutan (Allen & Barn, 2020).
Dengan demikian, kualitas udara yang baik sangat penting untuk menjaga kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Upaya mengurangi pencemaran udara tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat agar tercipta lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan (Manisalidis et al., 2020).
Referensi
Allen, R. W., & Barn, P. (2020). Individual- and Household-Level Interventions to Reduce Air Pollution Exposures and Health Risks: A Review of the Recent Literature. Current Environmental Health Reports, 7(4), 424–440. https://doi.org/10.1007/s40572-020-00296-z
Chen, J., & Hoek, G. (2020). Long-term exposure to PM and all-cause and cause-specific mortality: A systematic review and meta-analysis. Environment International, 143, 105974. https://doi.org/10.1016/j.envint.2020.105974
Manisalidis, I., Stavropoulou, E., Stavropoulos, A., & Bezirtzoglou, E. (2020). Environmental and Health Impacts of Air Pollution: A Review. Frontiers in Public Health, 8, 14. https://doi.org/10.3389/fpubh.2020.00014
