
Penulis: Hasna Nur Arfa Ramadhani (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Seafood merupakan salah satu sumber protein hewani utama bagi masyarakat dunia, terutama di negara maritim seperti Indonesia. Ikan, udang, dan kerang dikenal kaya akan asam lemak esensial, mineral, serta protein berkualitas tinggi. Namun, di tengah meningkatnya konsumsi seafood, muncul ancaman tersembunyi yang kini menjadi perhatian global, yaitu mikroplastik. Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari degradasi limbah plastik berukuran besar atau dari sumber primer seperti serat tekstil sintetis, produk kosmetik, dan pelet industri. Sifatnya yang persisten membuat mikroplastik mudah terakumulasi di lingkungan laut dan sulit terurai, sehingga berpotensi masuk ke dalam rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi manusia (Rochman et al., 2018).
Pencemaran mikroplastik di laut terjadi melalui berbagai jalur, mulai dari aliran sungai, limbah domestik dan industri, hingga aktivitas perikanan dan pariwisata. Plastik yang terpapar sinar ultraviolet, gelombang laut, dan proses mekanis akan terfragmentasi menjadi partikel yang semakin kecil. Partikel ini dapat mengapung di permukaan laut, tersuspensi di kolom air, atau mengendap di sedimen. Kondisi tersebut meningkatkan peluang interaksi antara mikroplastik dengan organisme laut di berbagai tingkat trofik (Wright & Kelly, 2017).
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan di hampir seluruh kompartemen ekosistem laut, termasuk plankton, invertebrata, hingga ikan komersial. Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh organisme laut terutama melalui proses ingesti. Organisme filter feeder seperti kerang, tiram, dan remis sangat rentan karena mereka menyaring air laut dalam jumlah besar untuk memperoleh makanan. Partikel mikroplastik yang berukuran mirip dengan plankton dapat tertelan secara tidak sengaja dan terakumulasi di saluran pencernaan. Berbeda dengan ikan, bagian tubuh bivalvia ini umumnya dikonsumsi manusia secara utuh, sehingga risiko paparan mikroplastik menjadi lebih tinggi (Rochman et al., 2018). Selain itu, mikroplastik juga dapat berpindah melalui transfer trofik, ketika predator memakan organisme yang telah terkontaminasi sebelumnya, memungkinkan akumulasi pada tingkat trofik yang lebih tinggi (Wright & Kelly, 2017).
Berbagai studi telah melaporkan keberadaan mikroplastik pada seafood yang diperdagangkan untuk konsumsi manusia. Tinjauan sistematis dan meta-analisis menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan pada ikan, krustasea, dan moluska dengan variasi jumlah dan tipe partikel, seperti fiber, fragmen, dan film. Frias dan Nash (2020) melaporkan bahwa konsumsi seafood secara rutin berpotensi menyebabkan paparan mikroplastik dalam jumlah puluhan ribu partikel per orang per tahun, tergantung pola diet dan jenis seafood yang dikonsumsi. Penelitian di wilayah pesisir Asia, termasuk Indonesia, juga menemukan mikroplastik pada berbagai spesies seafood komersial, menunjukkan bahwa kontaminasi ini bukan fenomena lokal, melainkan masalah global. Selain keberadaan fisiknya, mikroplastik juga berfungsi sebagai vektor bagi berbagai bahan kimia berbahaya. Permukaan mikroplastik mampu mengadsorpsi polutan organik persisten, logam berat, serta aditif plastik seperti bisfenol A dan ftalat. Ketika mikroplastik tertelan oleh organisme laut, zat-zat tersebut berpotensi terlepas di dalam sistem pencernaan dan meningkatkan risiko toksikologis. Meskipun bukti langsung dampak kesehatan mikroplastikterhadap manusia masih terbatas, sejumlah studi eksperimental menunjukkan bahwa partikel berukuran sangat kecil, termasuk nanoplastik, dapat menembus penghalang biologis dan memicu respons inflamasi serta stres oksidatif (Dawson et al., 2021).
Hingga saat ini, komunitas ilmiah sepakat bahwa masih terdapat kesenjangan pengetahuan terkait dampak jangka panjang konsumsi mikroplastik melalui seafood terhadap kesehatan manusia. Variasi metode analisis, potensi kontaminasi selama proses penelitian, serta keterbatasan data paparan aktual menjadi tantangan utama. Namun demikian, fakta bahwa mikroplastik telah terdeteksi secara konsisten pada makanan laut yang dikonsumsi manusia menegaskan perlunya pendekatan pencegahan. Upaya pengurangan limbah plastik, peningkatan pengelolaan sampah, serta penelitian lanjutan yang menghubungkan kontaminasi lingkungan, pangan, dan kesehatan manusia menjadi langkah penting untuk menghadapi ancaman ini di masa depan (Frias & Nash, 2020).
Referensi
Dawson, A. L., Santana, M. F. M., Miller, M. E., & Kroon, F. J. (2021). Relevance and reliability of evidence for microplastic contamination in seafood: A critical review using consumption patterns as a case study. Environmental Pollution, 276, 116684. https://doi.org/10.1016/j.envpol.2021.116684
Frias, J. P. G. L., & Nash, R. (2020). Microplastic contamination of seafood intended for human consumption: A systematic review and meta-analysis. Environmental Health Perspectives, 128(12), 127001. https://doi.org/10.1289/EHP7171
Rochman, C. M., Brookson, C., Bikker, J., Djuric, N., Earn, A., Bucci, K., … Hung, C. (2018). Rethinking microplastics as a diverse contaminant suite. Journal of Food Science, 83(10), 2779–2792. https://doi.org/10.1111/1750-3841.14359
Wright, S. L., & Kelly, F. J. (2017). Plastic and human health: A micro issue? Environmental International, 101, 151–158. https://doi.org/10.1016/j.envint.2017.01.012
