Lompat ke konten

Mengapa Keanekaragaman Hayati Penting bagi Kehidupan Manusia?

Penulis: Fathya Amyra Awaro (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)

Bumi merupakan rumah bagi jutaan spesies makhluk hidup yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem kehidupan yang kompleks. Mulai dari mikroorganisme, tumbuhan, hewan, hingga manusia, setiap organisme memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kekayaan variasi kehidupan tersebut dikenal sebagai keanekaragaman hayati (biodiversity). Menurut Convention on Biological Diversity (CBD), keanekaragaman hayati adalah variasi makhluk hidup yang berasal dari semua sumber, termasuk ekosistem daratan, perairan, dan laut, serta mencakup keanekaragaman dalam spesies, antarspesies, dan ekosistem (CBD, 1992).

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas di dunia karena memiliki kekayaan flora, fauna, dan ekosistem yang sangat tinggi. Hutan hujan tropis, terumbu karang, padang lamun, hingga kawasan mangrove menjadi habitat bagi ribuan spesies, banyak di antaranya merupakan spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Kekayaan ini menjadikan Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati global (KLHK, 2024).

Sayangnya, keanekaragaman hayati terus mengalami penurunan akibat berbagai aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pencemaran lingkungan, perubahan iklim, dan masuknya spesies invasif. Laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) menyebutkan bahwa sekitar satu juta spesies tumbuhan dan hewan di dunia terancam punah apabila tidak ada upaya konservasi yang efektif (IPBES, 2019). Penurunan keanekaragaman hayati tidak hanya berdampak pada satwa dan tumbuhan, tetapi juga mengancam kesejahteraan manusia karena berbagai kebutuhan hidup bergantung pada keberadaan alam. Oleh karena itu, memahami pentingnya keanekaragaman hayati menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

Keanekaragaman hayati merupakan keseluruhan variasi kehidupan yang ada di bumi. Tidak hanya menunjukkan banyaknya jenis makhluk hidup, keanekaragaman hayati juga mencerminkan perbedaan sifat genetik, variasi antarspesies, hingga beragam tipe ekosistem yang mendukung kehidupan. Secara umum, keanekaragaman hayati terdiri atas tiga tingkat, yaitu keanekaragaman genetik, keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman ekosistem (CBD, 1992).

Keanekaragaman genetik merupakan variasi gen yang terdapat dalam satu spesies. Variasi ini menyebabkan setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda, seperti ukuran tubuh, warna, ketahanan terhadap penyakit, maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Sebagai contoh, berbagai varietas padi di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari ketahanan terhadap hama hingga kemampuan tumbuh pada kondisi lahan tertentu. Variasi genetik sangat penting karena menjadi modal utama bagi suatu spesies untuk bertahan hidup. Semakin tinggi keanekaragaman genetik, semakin besar peluang suatu populasi beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, termasuk perubahan iklim maupun munculnya penyakit baru.

Selain keanekaragaman genetik, terdapat pula keanekaragaman spesies yang menunjukkan banyaknya jenis organisme dalam suatu wilayah. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang menjadi habitat bagi berbagai jenis mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Banyak di antaranya merupakan spesies endemik, seperti komodo (Varanus komodoensis), orangutan Sumatra (Pongo abelii), anoa (Bubalus spp.), dan bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii). Setiap spesies memiliki peran yang berbeda dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Lebah berperan sebagai penyerbuk tanaman, cacing tanah membantu menyuburkan tanah, jamur menguraikan bahan organik, sedangkan predator mengendalikan populasi mangsa. Hilangnya satu spesies dapat memengaruhi keberadaan spesies lainnya karena seluruh organisme saling terhubung dalam rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan.

Keanekaragaman hayati juga mencakup keanekaragaman ekosistem, yaitu variasi habitat yang terbentuk akibat perbedaan kondisi lingkungan, seperti iklim, topografi, jenis tanah, dan ketersediaan air. Indonesia memiliki berbagai tipe ekosistem, antara lain hutan hujan tropis, hutan mangrove, savana, rawa gambut, sungai, danau, hingga terumbu karang. Setiap ekosistem menyediakan jasa lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan. Hutan berfungsi menyerap karbon dan menghasilkan oksigen, mangrove melindungi wilayah pesisir dari abrasi, sedangkan terumbu karang menjadi habitat bagi ribuan spesies laut sekaligus menopang sektor perikanan dan pariwisata.

Ketiga tingkat keanekaragaman hayati tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Kehilangan variasi genetik dapat menurunkan kemampuan suatu spesies untuk bertahan hidup, sedangkan hilangnya suatu spesies dapat mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelestarian keanekaragaman hayati harus dilakukan secara menyeluruh agar fungsi ekosistem tetap berjalan dengan baik serta mampu mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di masa kini maupun masa depan.

Referensi

Convention on Biological Diversity. (1992). Convention on Biological Diversity.

Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES). (2019).

Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services.Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2024). Status Keanekaragaman Hayati Indonesia.