Penulis: Aisha Shafanyda (2022)
Air liur atau saliva merupakan cairan kental yang diproduksi oleh kelenjar ludah yang terletak di bawah lidah, daerah otot pipi, dan di daerah dekat langit-langit pada mulut manusia. Saliva memiliki berbagai macam kandungan yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia seperti air, substansi organik dan anorganik, serta enzim. Substansi organik pada saliva terdiri dari protein dalam bentuk glikoprotein, sedangkan substansi anorganik pada saliva terdiri dari kalsium, fosfor, sodium, potasium, magnesium, karbondioksida, oksigen, serta nitrogen. Beberapa enzim yang terdapat pada saliva, yaitu enzim amilase yang berperan dalam keadaan sakit dan enzim peroksidase yang berperan sebagai antibodi, mencegah bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh (Mason & Eley, 2013). Dari banyaknya peranan yang diberikan saliva kepada tubuh kita, tahukah kamu bahwa saliva juga dapat berperan sebagai obat penyembuh luka pada kulit?
Saliva merupakan salah satu obat tradisional yang telah digunakan oleh manusia sejak zaman dahulu. Penggunaan saliva untuk penyembuhan luka pada hewan dan manusia yang dilakukan dengan cara menjilati luka pada area kulit sudah diketahui sejak lama, bahkan merupakan naluri bagi hewan dan manusia (Oudhoff et al., 2009; Verrier (1970). Pengetahuan mengenai penggunaan saliva untuk penyembuhan luka bermula dari pengamatan pada perilaku hewan yang menjilati bagian kulit yang terluka. Perilaku tersebut rupanya memicu proses penyembuhan luka pada hewan tersebut (Gibbs et al., 2019).
Saliva merupakan sumber faktor pertumbuhan yang dapat memacu fase proliferasi penyembuhan luka. Faktor pertumbuhan yang terdapat di dalam saliva antara lain insulinlike growth factor I and II (IGF-I, IGF-II), epidermal growth factor (EGF), transforming growth factor alpha and beta (TGF-a TGF-$), nerve growth factor (NGF) dan basic fibroblast growth factor (bFGF). Faktor-faktor pertumbuhan tersebut mendorong berbagai sel inflamatorik ke daerah luka, menginduksi proliferasi keratinosit dan fibroblast, angiogenesis dan jaringan granulasi. Selain itu, saliva juga memiliki kandungan IgG, IgA dan IgM serta komponen antimicrobial seperti histatin, musin, laktoferin dan lisozom. Saliva juga mengandung protein yang memiliki peran penting dalam berbagai tahap penyembuhan luka intraoral (Fajarwati et al., 2015).
Pada saliva manusia, terdapat banyak kandungan yang berperan dalam proses penyembuhan luka, beberapa di antaranya yaitu EGF, histatin, dan opiorphin. EGF dan histatin yang berfungsi untuk meningkatkan migrasi sel epitel dengan histatin yang memiliki konsentrasi lebih tinggi dibandingkan EGF (Oudhoff et al., 2009). Histatin merupakan peptida kationik yang terdapat dalam saliva yang muncul sebagai modulator penting dalam penyembuhan luka epitel khususnya selama respons migrasi sel yang terlibat dalam perbaikan jaringan. Histatin berperan utama dalam meningkatkan penyembuhan luka dengan meningkatkan fase repitelisasi, terutama melalui peningkatan migrasi dan proliferasi keratinosit. Histatin memiliki sifat antimikroba dan antijamur yang berperan penting sebagai imunitas bawaan dan memerangi patogen asing yang menyerang, penyembuhan luka, dan apoptosis (Kusuma, 2015). Pada saliva juga terdapat opiorphin yang merupakan zat pembunuh rasa sakit alami yang memperpanjang pertahanan tubuh dengan mencegah pemecahan bahan kimia yang mengaktifkan reseptor opiate yang menghalangi sinyal rasa sakit mencapai otak (Vila et al., 2019).
Selama proses penyembuhan luka, terjadi proses angionenesin. Angionenesin merupakan pertumbuhan pembuluh darah baru dari kapiler yang sudah ada sebelumnya. Proses ini berperan penting dalam pengiriman nutrisi dan oksigen ke sel-sel yang terluka (Angmalisang, 2020).
Dari beberapa sumber literatur yang telah didapatkan dapat disimpulkan bahwa penggunaan saliva memiliki potensi dalam proses penyembuhan luka ringan. Saliva memiliki berbagai kandungan yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Hal ini juga membuktikan kebenaran dari naluri manusia dan hewan yang menjilati luka untuk meredakan rasa sakit dan untuk menyembuhkan luka tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Angmalisang, E. C. (2020). Peran Sinyal Ephrin-B2/EPH-B4pada Angiogenesis Postnatal. Jurnal Biomedik, 12(2): 77-82
Fajarwati, R., Utami, L., Ip, V. T., Wirohadidjojo, Y. W., Ilmu, B., Kulit, K., Universitas, F. K., Mada, G., & Sardjito, R. (2015). Efek Saliva Manusia Pada Proliferasi Dan Migrasi Fibroblas Jaringan Kulit Normal. Media DermatoVenereologica Indonesiana, 42, 2–6.
Gibbs, S., Roffe, S., Meyer, M., & Gasser, A. (2019). Biology of soft tissue repair: Gingival epithelium in wound healing and attachment to the tooth and abutment surface. European Cells and Materials, 38, 63–78. https://doi.org/10.22203/eCM.v038a 06
Kusuma, N. (2015). Fisiologi dan Patologi Saliva. Andalas University Press.
Mason JD & Eley BM. (2013). Buku Ajar Periodonti (2nd ed). Jakarta: EGC
Oudhoff, M. J., Kroeze, K. L., Nazmi, K., Keijbus, P. A. M., Hof, W., FernandezBorja, M., Hordijk, P. L., Gibbs, S., Bolscher, J. G. M., & Veerman, E. C. I. (2009). Structure‑activity analysis of histatin, a potent wound healing peptide from human saliva: cyclization of histatin potentiates molar activity 1000‑fold. The FASEB Journal, 23(11), 3928–3935. https://doi.org/10.1096/fj.09-137588
Verrier L. (1970). Dog Licks Man. Lancet, 1, 5.
Vila, T., Rizk, A. M., Sultan, A. S., & Jabra-Rizk, M. A. (2019). The power of saliva: Antimicrobial and beyond. PLoS Pathogens, 15(11), 10– 16. https://doi.org/10.1371/journal.ppat. 1008058
