Lompat ke konten

Ancaman Pencemaran Mikroplastik terhadap Penurunan Biota dan Biodiversitas Laut

Penulis: Muhamad Hilmy Al Hafidz (2024)
Disunting oleh: Arivia Mutiara Syahira (2023)

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran <5 mm yang telah menjadi salah satu polutan paling meresahkan di ekosistem laut. Dalam dekade terakhir, mikroplastik hadir di hampir semua habitat laut, mulai dari permukaan laut, kolom air, sedimen dasar, sampai jaringan organisme laut. Mikroplastik berpotensi mengganggu fungsi ekosistem dan menurunkan biodiversitas laut melalui secara langsung maupun tidak langsung (Marchala et al., 2024). Organisme laut dapat terpapar mikroplastik, terutama melalui ingestsi (memakan partikel yang salah tafsir sebagai makanan) dan keterjeratan (entanglement) pada organisme
yang lebih besar. Filter-feeder seperti kerang, remis, dan zooplankton sangat rentan karena cara makan mereka yang menyaring partikel dari air; sedangkan organisme bentik dapat memakan partikel yang terakumulasi di sedimen (Smith et al., 2018).

Studi eksperimental dan lapangan menunjukkan efek yang bervariasi antar taksa. Pada tingkat individu ditemukan penurunan laju pertumbuhan, gangguan reproduksi (misalnya penurunan fertilitas, perubahan perkembangan larva), stres oksidatif, dan perubahan perilaku (menurunnya kemampuan mencari makanan atau menghindari predator). Dampak-dampak ini, ketika terjadi secara meluas, berpotensi mengubah struktur komunitas: spesies yang sensitif dapat menurun populasinya, sedangkan spesies tolerant atau oportunistik bisa meningkat sehingga mengakibatkan penurunan keanekaragaman alfa dan perubahan fungsi ekosistem. Bukti pada ekosistem sensitif seperti terumbu karang dan mangrove menunjukkan potensi gangguan pada fase larva, perekat larva (settlement), dan kesehatan simbiosis (coral–zooxanthellae) (Pantos, 2022).

Mikroplastik dapat berpindah antartrofik (trophic transfer) dari plankton ke ikan kecil lalu ke predator puncak mengakibatkan bioakumulasi partikel dan senyawa kimia yang melekat padanya. Dampak ekologis dapat muncul dalam bentuk penurunan produktivitas perikanan, perubahan komposisi komunitas ikan, dan berkurangnya layanan ekosistem penting seperti penyerapan karbon di ekosistem pesisir. Selain itu, masyarakat manusia yang bergantung pada hasil laut berisiko mengalami eksposur mikroplastik melalui konsumsi makanan laut, yang juga menimbulkan kekhawatiran kesehatan publik dan ekonomi perikanan (Sunny et al., 2025). Mengurangi tekanan mikroplastik pada biodiversitas laut memerlukan pendekatan, mulai dari mengurangi produksi plastik sekali pakai, memperbaiki pengelolaan limbah dan sistem pembuangan. Lalu, pemulihan habitat dengan melindungi dan merehabilitasi ekosistem pesisir yang dapat menyerap dan menahan partikel. Terakhir, monitoring berbasis bioindikator menggunakan organisme sentinel seperti kerang untuk memantau tren (Sunny et al., 2025).

Referensi
Marcharla, E. (2024). Microplastics in Marine Ecosystems: A Comprehensive Review of Biological and Ecological Implications and its mitigation approach using nanotechnology for the sustainable environment. Environmental Research, 256(119181), 119181–119181. https://doi.org/10.1016/j.envres.2024.119181.

Pantos O. (2022). Microplastics: impacts on corals and other reef organisms. Emerging topics in life sciences, 6(1), 81–93. https://doi.org/10.1042/ETLS20210236.

Smith, M., Love, D. C., Rochman, C. M., & Neff, R. A. (2018). Microplastics in Seafood and the Implications for Human Health. Current environmental health reports, 5(3), 375–386. https://doi.org/10.1007/s40572-018-0206-z.

Sunny, A. R., Sazzad, S. A., Islam, M. A., Mithun, M. H., Hussain, M., Raposo, A., & Bhuiyan, M. K. A. (2025). Microplastics in Aquatic Ecosystems: A Global Review of Distribution, Ecotoxicological Impacts, and Human Health Risks. Water, 17(12), 1741. https://doi.org/10.3390/w17121741.