
Penulis: Muhamad Hilmy Al Hafidz (2024)
Disunting oleh: Farra Aurelia R. (2023)
Globalisasi, tekanan terhadap sumber daya alam, degradasi lingkungan dan perubahan iklim menuntut ilmu biologi bergerak lebih jauh ke arah solusi instan yang berbasis rekayasa sehingga lahirlah bio-engineering, yaitu cabang ilmu yang mengintegrasikan biologi, rekayasa, dan teknologi sebagai salah satu fondasi penting untuk keberlanjutan. Bio-engineering dapat meliputi bidang turunannya seperti bidang pangan, energi, konservasi ekosistem, dan ekonomi sirkular. Di era modern, dengan bantuan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), bioengineering semakin layak dalam menjawab permasalahan dan solusi yang memerlukan prinsip layaknya insinyur dan biologi.
Salah satu tren terbesar dalam bioengineering modern adalah integrasinya dengan kecerdasan buatan dan pemodelan komputasional. Artikel Shayista et al. (2025) menunjukkan bahwa AI memungkinkan optimasi jalur metabolik organisme, prediksi dampak ekologis sejak tahap desain, serta perencanaan sistem biologis yang ramah lingkungan sejak awal (benign-by- design). Salah satu sektor yang dapat memanfaatkan ilmu bio-engineering adalah sektor pertanian untuk menjawab beberapa permasalahan dalam kebutuhan pangan yang meningkat, lahan terbatas, dan dampak lingkungan tinggi terutama akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Bio-engineering menawarkan alternatif melalui penggunaan mikroorganisme dan bioteknologi mikroba.
Pada artikel Ortiz et al. (2025) menunjukkan bahwa bakteri dari genus Bacillus dapat direkayasa untuk menjadi biopestisida, biofertilizer, dan agen promotif pertumbuhan tanaman yang membantu produksi tanaman lebih ramah lingkungan tanpa ketergantungan pada bahan kimia berbahaya. Selain itu, dalam penelitian Pandra et al. (2025) mengulas bagaimana bio-engineering, melalui mikroorganisme, rekayasa mikrobiome tanah, biochar, dan teknologi presisi dapat memperbaiki kesuburan tanah dan efisiensi penggunaan nutrisi, sekaligus mengurangi dampak negatif pupuk kimia. Beberapa upaya berikut penting bagi ketahanan pangan jangka panjang, konservasi sumber daya tanah, dan keberlanjutan agrikultur, terutama
bagi negara dengan populasi besar dan tantangan agrikultur seperti Indonesia.
Bioengineering juga digunakan untuk konservasi lingkungan, rehabilitasi tanah dan
lanskap, serta mitigasi risiko alam melalui solusi berbasis alam (nature-based solutions). Tanaman seperti Pigeonpea, Sesame, dan Cowpea digunakan untuk mengontrol erosi tanah di wilayah tropis yang curah hujannya tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa metode ecology bio-engineering mampu mengurangi kehilangan tanah secara drastis dan meningkatkan infiltrasi air, bahkan lebih efektif dibanding metode konnvensional. Selain itu, penggunaan vegetasi ini dapat menahan erosi dan mendukung recharge akuifer dan mengurangi sedimentasi ke badan air (Batista et al., 2024).
Bio-engineering telah berkembang dari menjadi elemen kunci dalam mewujudkan biologi berkelanjutan. Berdasarkan bukti riset yang ditinjau, bio-engineering dapat mendukung pertanian ramah lingkungan, konservasi ekosistem, produksi pangan efisien, dan restorasi lingkungan, sekaligus mengintegrasikan teknologi modern seperti AI dan digital agriculture.
