
Penulis: Arivia Mutiara Syahira (2023)
Disunting oleh: Arivia Mutiara Syahira (2023)
Déjà vu adalah pengalaman aneh ketika seseorang merasa sangat familiar dengan suatu situasi padahal sadar bahwa hal tersebut baru pertama kali terjadi. Studi neurosains terbaru menunjukkan bahwa fenomena ini sangat umum dialami manusia, terutama dewasa muda yang sehat, sementara bentuk déjà vu yang berkaitan dengan epilepsi jauh lebih jarang namun penting secara klinis. Pada dasarnya, déjà vu muncul karena ketidaksesuaian antara dua sistem memori utama: familiarity dan recollection. Rasa familiaritas biasanya muncul ketika otak mendeteksi pola atau kesamaan dengan pengalaman masa lalu, sedangkan recollection menyertakan detail spesifik dari memori tersebut.
Dalam kasus déjà vu, sistem familiaritas memberi sinyal kuat “pernah mengalami ini sebelumnya”, tetapi sistem recollection tidak menemukan memori apa pun yang cocok. Ketidakseimbangan inilah yang menciptakan sensasi aneh seolah-olah kita pernah berada dalam situasi tersebut, meski kita tahu itu tidak mungkin. Dari sisi biologis, penelitian menunjukkan bahwa area medial temporal lobe (MTL) yang termasuk hippocampus, entorhinal cortex, perirhinal cortex, dan parahippocampal gyrus, memiliki peran penting dalam terciptanya fenomena ini. Pada pasien epilepsi, stimulasi listrik pada wilayah-wilayah ini dapat memicu sensasi déjà vu, dan pola aktivitas otak selama episode menunjukkan keterlibatan sirkuit memori MTL.
Pada individu sehat, déjà vu kemungkinan muncul dari aktivitas singkat dan tidak berbahaya pada jalur yang sama, khususnya area yang terlibat dalam proses familiaritas seperti perirhinal dan parahippocampal cortex. Beberapa studi neuroimaging bahkan menemukan bahwa orang yang sering mengalami déjà vu memiliki pola konektivitas tertentu atau kerentanan sub-bagian hippocampus yang lebih sensitif, walaupun temuan ini belum konsisten sepenuhnya. Penelitian terbaru juga menekankan pentingnya membedakan déjà vu non-patologis dari déjà vu pada epilepsi, karena meskipun pengalaman subjektifnya bisa mirip, mekanisme sarafnya berbeda. Déjà vu pada epilepsi biasanya lebih emosional, sering disertai rasa takut, berlangsung lebih lama, dan terjadi bersamaan dengan aktivitas epileptiform, sehingga dapat menjadi petunjuk diagnostik penting.
Melalui pemahaman fenomena ini, ilmuwan memperoleh wawasan berharga tentang cara kerja memori manusia—khususnya bagaimana otak membedakan pengalaman baru dan lama, bagaimana sinyal familiaritas bisa salah, serta bagaimana gangguan kecil pada jaringan memori dapat memunculkan sensasi subjektif yang terasa ‘mistis’. Secara keseluruhan, déjà vu bukanlah fenomena supranatural, melainkan hasil interaksi kompleks sistem memori yang sesekali mengirim sinyal yang keliru. Dengan berkembangnya teknik neuroimaging dan penelitian eksperimental, déjà vu yang dulu dianggap misterius kini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui kombinasi pendekatan kognitif dan neurologis.
Referensi
Hadžić, A., & Andersson, S., et al. (2024). Non-ictal, interictal and ictal déjà vu: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Neurology, 15, Article 1406889. https://doi.org/10.3389/fneur.2024.1406889
O’Connor, A. R., & Moulin, C. J. A. (2013). Déjà vu experiences in healthy subjects are unrelated to laboratory tests of recollection and familiarity for word stimuli. Frontiers in Psychology, 4, 881. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2013.00881
Pešlová, E., Mareček, R., Shaw, D. J., Kašpárek, T., Pail, M., & Brázdil, M. (2018). Hippocampal involvement in nonpathological déjà vu: Subfield vulnerability rather than temporal lobe epilepsy equivalent. Brain and Behavior, 8(7), e00996. https://doi.org/10.1002/brb3.996
Illman, N. A., Butler, C. R., Souchay, C., & Moulin, C. J. A. (2012). Déjà experiences in temporal lobe epilepsy. Epilepsy Research and Treatment, 2012, Article ID 539567. https://doi.org/10.1155/2012/539567
Bartolomei, F., Barbeau, E. J., Nguyen, T., McGonigal, A., Régis, J., Chauvel, P., & Wendling, F. (2012). Rhinal–hippocampal interactions during déjà vu. Clinical Neurophysiology, 123(3), 489–495. https://doi.org/10.1016/j.clinph.2011.08.012
