Lompat ke konten

Fenomena Contagious Yawning: Mengapa Menguap Bisa Menular?

Penulis: Meiva Mayyasah Huda (2025)
Disunting oleh: Meiva Mayyasah Huda (2025)

Menguap merupakan perilaku alami yang dialami hampir semua manusia, bahkan juga ditemukan pada berbagai spesies hewan. Umumnya, seseorang menguap ketika merasa lelah, mengantuk, atau bosan. Namun, terdapat fenomena yang lebih unik, yaitu seseorang ikut menguap hanya karena melihat, mendengar, atau bahkan membaca tentang orang lain yang sedang menguap. Fenomena ini dikenal sebagai contagious yawning atau menguap yang menular. Hingga saat ini, penyebab pasti dari fenomena tersebut masih menjadi topik penelitian karena melibatkan mekanisme biologis dan neurologis yang kompleks (Guggisberg et al., 2010).

Salah satu teori yang banyak dibahas adalah keterlibatan sistem saraf yang berhubungan dengan proses imitasi dan interaksi sosial. Ketika seseorang melihat orang lain menguap, beberapa area otak yang berkaitan dengan pengamatan gerakan dan respons sosial ikut teraktivasi sehingga memicu dorongan untuk menguap. Penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa fenomena ini kemungkinan melibatkan jaringan otak yang berkaitan dengan mirror neuron system, meskipun peran sistem tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan (Arnott et al., 2009; Guggisberg et al., 2010).

Fenomena menguap yang menular juga sering dikaitkan dengan empati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seseorang lebih mudah tertular menguap dari anggota keluarga, teman dekat, atau orang yang dikenalnya dibandingkan dari orang asing. Namun, hubungan antara contagious yawning dan empati belum dapat disimpulkan secara pasti karena hasil penelitian masih menunjukkan temuan yang beragam. Oleh karena itu, para peneliti berpendapat bahwa selain empati, perhatian terhadap orang lain, kedekatan sosial, dan perkembangan kognitif juga berperan dalam memengaruhi munculnya respons tersebut (Norscia & Palagi, 2011; Massen & Gallup, 2017).

Selain pada manusia, contagious yawning juga telah diamati pada beberapa spesies hewan, seperti simpanse, anjing, dan serigala. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku ini kemungkinan memiliki fungsi biologis yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Salah satu hipotesis menyatakan bahwa menguap yang menular membantu menyelaraskan tingkat kewaspadaan anggota kelompok sehingga mereka lebih siap menghadapi perubahan kondisi lingkungan. Meskipun demikian, hipotesis tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat dibuktikan secara lebih meyakinkan.

Fenomena contagious yawning menunjukkan bahwa perilaku sederhana seperti menguap ternyata menyimpan mekanisme biologis yang jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan. Hingga kini, para ilmuwan masih terus meneliti hubungan antara aktivitas otak, perhatian, empati, dan interaksi sosial dalam menjelaskan mengapa seseorang dapat ikut menguap hanya karena melihat orang lain melakukannya. Penelitian mengenai fenomena ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai cara kerja otak manusia serta perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi

Arnott, S. R., Singhal, A., & Goodale, M. A. (2009). An investigation of auditory contagious yawning. Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience, 9(3), 335–342.

Guggisberg, A. G., Mathis, J., Schnider, A., & Hess, C. W. (2010). Why do we yawn? Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 34(8), 1267–1276.

Massen, J. J. M., & Gallup, A. C. (2017). Why contagious yawning does not (yet) equate to empathy. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 80, 573–585.

Norscia, I., & Palagi, E. (2011). Yawn contagion and empathy in Homo sapiensPLoS ONE, 6(12), e28472.