Penulis : Kadek Marsyani, Anastasia Tiara, Agnes Sarinah Purba (TIM OWA XIII Cinta Laut)
Pada tanggal 18–21 Juli 2024, tim observasi wahana alam (OWA) Departemen Cinta Laut DP XLV Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Padjadjaran yang beranggotakan 11 orang melaksanakan kegiatan penelitian yang berlokasi di Pantai Sayang Heulang kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Adapun topik penelitian yang diambil yaitu interaksi komunitas makrozoobenthos terhadap lamun dan makroalga pada wilayah zona intertidal. Zona intertidal adalah daerah pesisir yang terletak diantara garis pasang tinggi dan garis pasang rendah. Zona ini merupakan habitat bagi berbagai organisme flora dan fauna seperti padang lamun, makroalga, dan berbagai macam makrozoobentos yang membentuk kesatuan ekosistem pesisir pantai (Steele (Ed.) & Gibson, 2001).
Makrozoobentos adalah organisme hewan yang berukuran lebih dari 1 mm. Makrozoobenthos bersifat sesil atau hidup menetap, ada juga yang merayap serta menggali lubang di substrat dasar perairan. Makrozoobentos memiliki peran ekologis yang penting seperti menetralisir lingkungan perairan dengan cara mengubah limbah organik menjadi makanan untuk makrozoobentos itu sendiri sehingga lingkungan perairan menjadi stabil kembali (Ananta & Harahap, 2022). Pada penelitian ini, terdapat 3 kelompok makrozoobentos yang dijadikan sebagai objek penelitian yaitu kelompok gastropoda, echinodermata, dan crustacea. Makrozoobenthos dapat berasosiasi dan ditemukan di sekitar ekosistem lamun dan makroalga pada zona intertidal.
Lamun merupakan salah satu tumbuhan yang hidup di perairan dangkal yang memiliki banyak manfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya. Selain lamun, alga merupakan tumbuhan tingkat rendah yang tidak memiliki struktur kompleks seperti tanaman darat. Alga dapat ditemukan pada habitat air tawar, laut, maupun habitat darat yang lembab. Lamun dapat memberikan tempat tinggal, sumber makanan, tempat berlindung, dan tempat bereproduksi bagi makrozoobentos (Wijana dkk., 2019).Kegiatan penelitian dilaksanakan selama 4 hari, dimana pada hari pertama kegiatan diawali dengan melakukan survey lapangan untuk menentukan titik lokasi pengambilan sampel. Dipilih dua titik lokasi sebagai stasiun pengambilan data yakni Stasiun-1 berupa wilayah penginapan yang berlokasi dekat dengan Cagar Alam Santolo, dan stasiun-2 diambil dekat dengan pintu masuk Pantai Sayang Heulang. Pada stasiun-1 berlokasi dekat dengan muara sungai, sehingga memiliki akses muara air yang lebih luas. Stasiun-2 memiliki arus ombak yang lebih panjang, di lokasi tersebut dapat dijumpai aktivitas yang lebih kompleks karena lokasinya yang dekat dengan pintu masuk Pantai Sayang Heulang. Pantai Sayang Heulang menawarkan kondisi lingkungan yang beragam, mulai dari substrat berbatu hingga berpasir dengan aneka ragam habitat seperti makroalga dan lamun bagi hewan laut seperti makrozoobentos pada zona intertidal.
Pada hari kedua, dilakukan pengambilan data pada stasiun-1 di wilayah penginapan yang berlokasi dekat dengan Cagar Alam Santolo. Pengambilan data makrozoobenthos dilakukan dengan menggunakan metode jelajah dan metode adaptive random sampling yang terdiri dari dua tahapan yaitu pengambilan dan identifikasi sampel awal serta pengambilan sampel tambahan dan penyesuaian. Pengambilan dan identifikasi sampel awal dilakukan untuk menentukan lokasi dengan kepadatan spesies yang tinggi. Pengambilan sampel tambahan dan penyesuaian dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih detail. Data diambil dari 10 plot untuk masing-masing stasiun, pengamatan dilakukan menggunakan kuadrat dengan ukuran 1m x 1m yang dibagi menjadi 25 subplot berukuran 20 cm x 25 cm, sehingga 1 subplot menggambarkan tutupan sebesar 4% (Suryani, dkk. 2024). Tutupan lamun dan alga juga dihitung, serta dilakukan sampling kualitas dan parameter air meliputi parameter fisika, kimia seperti pH, DO, salinitas suhu, kedalaman, dan kecerahan lokasi. Setelah pengambilan data, dilakukan pula identifikasi spesies yang ditemukan. Spesies diidentifikasi dengan mencocokan karakteristik morfologi hewan dengan acuan dari karakter spesies yang telah terverifikasi.
Pada hari ke-3, tim OWA DCL melakukan pengambilan data pada stasiun 2, dekat dengan pintu masuk Pantai Sayang Heulang. Metode pengambilan data sama seperti pengambilan data pada stasiun-1, spesies makrozoobentos yang ditemukan dihitung pada plot transek, beberapa spesies yang berbeda jenis akan diambil dengan menggunakan ziplock atau jar untuk selanjutnya diidentifikasi. Tim OWA DCL dibagi menjadi 3 kelompok pengamatan, dimana masing-masing kelompok menggunakan satu transek dan melakukan teknik jelajah untuk menghitung dan melakukan pengambilan data makrozoobenthos dan tutupan lamun serta alga.
Pada hari ke-4 Tim Observasi Wahana Alam (OWA) Departemen Cinta Laut DP XLIV Himbio Universitas Padjadjaran meninggalkan pantai sayang Heulang setelah menyelesaikan proses pengambilan sampel makrozoobentos, sampel lamun dan alga, serta data parameter kualitas air. Data yang telah diambil berupa sampel air dan sampel makrozoobentos akan diolah di laboratorium ekologi perairan Universitas Padjadjaran. Data jenis dan jumlah makrozoobentos, serta kerapatan dan jenis habitatnya akan diolah menggunakan berbagai metode analisis seperti indeks diversitas Gini-Simpson, indeks diversitas Shannon-Wiener (dikenal juga sebagai Shannon entropy), kelimpahan, kemerataan, dan kesamaan, yang dihitung menggunakan aplikasi software microsoft excel.
Berdasarkan pengamatan pada dua stasiun penelitian ditemukan 38 spesies Gastropoda dengan dominasi spesies Tarebia granifera sebesar 741 individu , diperoleh 22 spesies crustacea dengan dominasi spesies Clibanarius virescens sejumlah 204 individu, serta ditemukan 8 spesies echinodermata yang didominasi oleh spesies Ophiocoma scolopendrina sejumlah 218 individu.
Hasil pengukuran parameter kualitas air diperoleh data pH pada stasiun 1 dengan pH 7, dan stasiun 2 dengan pH 6.9, hasil DO (Dissolve oxygen) pada stasiun-1 sebesar 8.4 mg/L, dan pada stasiun-2 9.4 mg/L. Persentase salinitas pada stasiun-1 dan stasiun-2 sebesar 39.7%. Hasil pengukuran kedalaman pada stasiun-1 sebesar 0-82 cm, pada stasiun-2 sebesar 2-33 cm, dengan kecerahan 100% pada dua stasiun, dan suhu air pada stasiun-1 sebesar 29oC serta pada stasiun-2 yaitu 27.1 oC.
Spesies gastropoda banyak ditemukan pada area dengan substrat pasir dan bebatuan, mereka banyak ditemukan di sekitar daerah pasang surut yang cenderung lembab. Gastropoda cenderung bersembunyi di celah-celah batu yang menempel pada pasir. Lokasi tersebut memberikan perlindungan dari sinar matahari, serta menjaga kelembaban yang diperlukan bagi kelangsungan hidup mereka. Secara umum, Crustacea dapat ditemukan pada daerah karang yang surut air. Hal ini menunjukkan kondisi lingkungan yang sudah tidak terdapat arus air sehingga Crustacea dapat muncul ke permukaan karang. Spesies Echinodermata banyak ditemukan pada area terumbu karang atau lamun. Beberapa Echinodermata juga sering ditemukan pada substrat pasir, bebatuan, dan lumpur. Echinodermata cenderung bersembunyi di celah-celah karang saat air pantai sedang surut.
Penelitian menunjukkan adanya interaksi yang erat antara komunitas makrozoobentos, khususnya Gastropoda, Echinodermata, dan Crustacea, dengan lamun dan makroalga yang berfungsi sebagai habitat di zona intertidal Pantai Sayang Heulang. Komunitas ini memanfaatkan lamun dan makroalga sebagai tempat tinggal, sumber makanan, serta tempat perlindungan dari predator. Ditemukan variasi keanekaragaman spesies makrozoobentos di area penelitian. Setiap kelompok makrozoobentos (Gastropoda, Echinodermata, dan Crustacea) menunjukkan preferensi habitat tertentu yang berkaitan dengan jenis lamun dan makroalga yang mendominasi. Ekosistem lamun dan makroalga tidak hanya penting sebagai habitat makrozoobentos, tetapi juga berfungsi sebagai penstabil sedimen dan penyedia nutrisi. Hal ini memperlihatkan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem lamun dan makroalga demi keberlanjutan komunitas makrozoobentos. Faktor-faktor lingkungan seperti pasang surut, suhu air, serta ketersediaan nutrisi sangat mempengaruhi distribusi dan komposisi komunitas makrozoobentos di zona intertidal.
Hasil dari pengamatan interaksi komunitas makrozoobentos terhadap lamun dan makroalga pada wilayah zona intertidal Pantai Sayang Heulang diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah dan masyarakat luas, mengenai keanekaragaman struktur komunitas makrozoobenthos pada pantai sayang Heulang serta dapat dijadikan dasar pertimbangan, pengelolaan, pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya padang lamun, makroalga dan makrozoobentos pada pantai Sayang Heulang, Jawa Barat.
Referensi :
Ananta, S., & Harahap, A. 2022. Distribusi dan Keanekaragaman Makrozoobentos. BIOEDUSAINS: Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains, 5(1), 286-294.
Suryani, S. A. M. P., Ambaranatha, I. W. M., & Darmadi, N. M. (2024). Community structure of bivalve on seagrass ecosystems in the West Bali National Park area. Depik, 13(1), 78-84.
Steele, John H. (Ed.) & Gibson, R. N. (2001). Encyclopedia of Ocean Sciences: Intertidal Fishes. New York: Academic Press.
Wijana, I. M. S., Ernawati, N. M., & Pratiwi, M. A. (2019). Keanekaragaman lamun dan makrozoobentos sebagai indikator kondisi Perairan Pantai Sindhu, Sanur, Bali. Jurnal Ecotrophic, 13(2), 238-247.
