Lompat ke konten

Kajian Rutin (KRN) Episode 2: The Potential of Blue Carbon in Reducing Greenhouse Gas Emissions

Emisi Gas Rumah Kaca 

Gas rumah kaca (GRK) adalah istilah yang digunakan untuk gas-gas yang memiliki efek rumah kaca, seperti klorofluorokarbon (CFC), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3) dan uap air (H2O). Beberapa gas tersebut memiliki efek rumah kaca lebih besar daripada gas lainnya. Sebagai contoh, metana memiliki efek 20-30 kali lebih besar dibanding dengan karbon dioksida, dan CFC diperkirakan memiliki efek rumah kaca 1000 kali lebih kuat dibanding dengan karbon dioksida (Suprihatin et al., 1998). Emisi gas rumah kaca merupakan gas yang menjaga suhu bumi saat dalam jumlah normal. Berlebihnya gas dapat menyebabkan terperangkapnya suhu dari radiasi sinar matahari

Dampak Emisi Gas Rumah Kaca

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas Karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer . Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini terjadi akibat kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara, dan bahan bakar organic lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan- tumbuhan dan laut untuk mengaborsinya. Bahan- bahan di permukaan bumi yang berperan aktif untuk mengabsorbsi hasil pembakaran tadi ialah tumbuh- tumbuhan, hutan, dan laut . Jadi bisa dimengerti bila hutan semakin gundul , maka panas di bumi akan semakin naik. Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Hanya saja sebagian sinar inframerah tersebut tertahan oleh awan, gas CO2, dan gas lainnya sehingga terpantul kembali ke permukaan bumi . Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lain di atmosfer maka semakin banyak pula gelombang panas yang dipantulkan bumi dan diserap atmosfer. Dengan perkataan lain semakin banyak jumlah gas rumah kaca yang berada di atmosfer , maka semakin banyak pula panas matahari yang terperangkap di permukaan bumi (Pratama, 2019). Akibatnya suhu permukaan bumi akan naik dan menyebabkan pemanasan global. Dampak pemanasan global akan mempengaruhi:

Kesehatan Manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria, persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperatur meningkat . Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, demam dengue (demam berdarah), demam kuning, dan encephalitis . Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari (Pratama, 2019).

Hewan dan Tumbuhan

Dalam pemanasan global , hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi , pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati . Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah (Pratama, 2019).

Tinggi Muka Laut

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai salah satu contohnya adalah akan menenggelamkan daerah-daerah pesisir (Pratama, 2019). 

Blue Carbon

Karbon Biru adalah karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dan laut. Ketika dilindungi atau dipulihkan, ekosistem karbon biru dapat mengimbangi emisi karbon dan memerangi perubahan iklim dengan menangkap dan menyimpan karbon. Ketika terdegradasi atau rusak, ekosistem ini melepaskan karbon yang tersimpan selama berabad-abad ke atmosfer dan lautan, menjadi sumber gas rumah kaca. Ekosistem pesisir bervegetasi seperti terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau, rawa-rawa garam memiliki peran yang sangat penting dalam menyerap karbon dioksida meskipun luas geografisnya relatif lebih kecil.  Produktivitas primer yang tinggi dari ekosistem laut ini menjadikannya sebagai penyerap alami karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya (McKee et al., 2007).

Potensi Blue Carbon

Indonesia memiliki garis pesisir kurang lebih 81.000 km dan lautan 5,8 juta km persegi. Ukuran tersebut menjadi potensi untuk melestarikan ekosistem pesisir yang dapat menjadi ekosistem blue carbon. potensi karbon biru di Indonesia mencapai 3.4 Giga Ton (GT) yaitu sekitar 17% dari karbon biru dunia. Terlepas dari potensi yang luar biasa ini, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam upaya melestarikan dan merestorasi ekosistem karbon biru. Menurut Muhammad Ilman, Ph.D., Director of Ocean Programs, The Nature Conservancy (TNC), salah satu tantangan terbesar adalah tidak adanya suatu tujuan terpadu yang diusung bersama oleh para pemangku kepentingan, sehingga tidak dapat mencapai keselarasan antara rencana tata ruang darat dan laut. Oleh karenanya, disarankan agar berbagai pihak terkait dapat mulai memberikan perhatian lebih untuk menciptakan berbagai sektor yang menjadi sumber pendapatan khususnya bagi masyarakat pesisir dan masyarakat luas pada umumnya, untuk menghentikan kerusakan dan degradasi lingkungan di kawasan ini, sehingga dapat menghindarkan dari lebih banyak hilangnya karbon biru (Alongi et al., 2015). 

Bagaimana Blue Carbon Dapat Membantu?

Blue carbon ini dinilai sangat efisien dalam menyimpan karbon organik dalam sedimen dan blue carbon ini dapat menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak dari vegetasi daratan. Berikut merupakan fungsi dan peran blue carbon terhadap lingkungan. 

Ekosistem Pesisir

Hutan bakau, rawa-rawa, dan dalam beberapa kasus, lamun, membangun cadangan karbon organik yang besar di zona pesisir karena tumbuh di tanah endapan. Penyimpanan karbon di tanah habitat angiospermae (tumbuhan tingkat tinggi) laut dapat mencapai 1.000 tC ha-1, jauh lebih tinggi daripada kebanyakan ekosistem terestrial (IPCC, 2019). Meningkatnya kadar CO2 di atmosfer menyebabkan pengasaman laut, tetapi peningkatan jumlah CO2 dalam air laut dapat merangsang fotosintesis yang membantu menghilangkan karbon dari air laut (Wada et al., 2021). Oleh karena itu, manfaat lain dari melestarikan habitat Karbon Biru yang terendam adalah dapat memperbaiki pengasaman laut secara lokal (Su et al., 2020).  Laporan SROCC menjelaskan bahwa manfaat mitigasi maksimum dari restorasi bakau, lamun, dan rawa asin kemungkinan tidak akan mencapai lebih dari 2% dari total emisi CO2 saat ini, tetapi peningkatan perlindungan dan pengelolaan habitat kritis ini akan memiliki banyak manfaat. Hal ini termasuk memberikan perlindungan terhadap badai, meningkatkan kualitas air, memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati dan perikanan, serta mengurangi emisi karbon dari ekosistem tersebut (Windham-Myers et al., 2018).

Ekosistem Laut Dalam

Karbon organik terlarut adalah ~70% dari total karbon organik di lautan, dan sebagian besar ditemukan di kedalaman >1.000 m di mana karbon ini tetap berada di luar kontak dengan atmosfer selama ribuan tahun. Zooplankton dan ikan mesopelagis biasanya bermigrasi dalam jarak yang jauh setiap hari untuk mengoptimalkan makanan mereka sendiri dan untuk menghindari pemangsa dan ini memainkan peran utama dalam mengangkut karbon dari perairan permukaa. Ikan yang hidup di perairan yang lebih dalam kemudian memindahkan karbon ke dalam penyimpanan jangka panjang di bawah kedalaman 1.000 meter di mana sebagian besar karbon tersebut tetap terserap dari atmosfer selama ribuan tahun. Hal ini telah mendorong usulan untuk menumbuhkan dan menyimpan makroalga di perairan dalam serta membangun kembali stok vertebrata laut. Ada juga minat dalam melestarikan proses yang mengangkut karbon ke perairan dalam, misalnya, migrasi vertikal krill mesopelagis atau kalsifikasi yang menyediakan pemberat. Seperti halnya di perairan dangkal, karbon dapat diserap melalui penguburan pasif dalam sedimen atau melalui bioturbasi aktif). Cadangan karbon di 1 m teratas sedimen dasar laut lebih dari dua kali lipat cadangan karbon di tanah darat (Hilmi et al., 2021). 

Apa yang dapat kita lakukan?

  1. Melestarikan ekosistem pesisir juga ekosistem terestrial untuk menunjang penyerapan karbon
  2. Mendukung program blue carbon yang dilakukan oleh NGO atau pemerintah
  3. Mengajak dan mengurangi aktivitas yang dapat menyumbang gas rumah kaca berlebih
  4. Semua pihak harus bekerjasama baik masyarakat, mahasiswa/peneliti dan pemerintah/NGO

“ Mengembalikan kadar gas rumah kaca ke normal dan mencegah perubahan iklim bukan suatu hal yang mustahil.”

DAFTAR PUSTAKA

Alongi, D. M., Murdiyarso, D., Fourqurean, J. W., Kauffman, J. B., Hutahaean, A., Crooks, S., Lovelock, C. E., Howard, J., Herr, D., Fortes, M., Pidgeon, E., & Wagey, T. (2015). Indonesia’s blue carbon: a globally significant and vulnerable sink for seagrass and mangrove carbon. Wetlands Ecology and Management, 24(1), 3–13. https://doi.org/10.1007/s11273-015-9446-y

Hilmi, N., Chami, R., Sutherland, M. D., Hall-Spencer, J. M., Lebleu, L., Benitez, M. B., & Levin, L. A. (2021). The Role of Blue Carbon in Climate Change Mitigation and Carbon Stock Conservation. Frontiers in Climate, 3. https://doi.org/10.3389/fclim.2021.710546

McKee, K. L., Cahoon, D. R., & Feller, I. C. (2007). Caribbean mangroves adjust to rising sea level through biotic controls on change in soil elevation. Global Ecology and Biogeography, 16(5), 545–556. https://doi.org/10.1111/j.1466-8238.2007.00317.x

Pratama, R. (2019). Efek Rumah Kaca Terhadap Bumi. Buletin Utama Teknik, 14(2), 120–126.

Suprihatin, Nastiti Siswi Indrasti, & Muhammad Romli. (1998). Potensi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Pengomposan Sampah. Journal of Agroindustrial Technology, 18(1), 53–59.

Wada, S., Agostini, S., Harvey, B. P., Omori, Y., & Hall-Spencer, J. M. (2021). Ocean acidification increases phytobenthic carbon fixation and export in a warm-temperate system. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 250, 107113. https://doi.org/10.1016/j.ecss.2020.107113

Windham‐Myers, L., Crooks, S., & Troxler, T. G. (2018). A Blue Carbon Primer: The State of Coastal Wetland Carbon Science, Practice, and Policy. In CRC Press eBooks (1st ed.). CRC Press. https://doi.org/10.1201/9780429435362