Lompat ke konten

Keanekaragaman Herpetofauna di Ekosistem Sungai Taman Buru Masigit Kareumbi

Penulis: Tim OWA XIII Herpetologi

Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK) merupakan salah satu kawasan konservasi di Jawa Barat dan satu-satunya Taman Buru Nasional yang berada di Pulau Jawa. Kawasan ini berada di wilayah yang merupakan bagian dari Jawa Barat yang sebagian besar masih berupa hutan hujan pegunungan tropis yang dihuni berbagai jenis flora dan fauna, termasuk herpetofauna. Wilayah ini memiliki berbagai sumber air yang berpotensi sebagai habitat herpetofauna. Saat ini, keberadaan herpetofauna pada Taman Buru Masigit Kareumbi masih belum banyak tereksplorasi, khususnya di ekosistem sungai (Syamsiah et al.,2019). 

Sebagai kawasan konservasi, perlu dilakukan pengamatan serta pendataan mengenai keberadaan herpetofauna di ekosistem sungai Taman Buru Masigit Kareumbi. Apabila populasi dan distribusi herpetofauna berubah seiring dengan berjalannya pendataan, maka dapat dipastikan bahwa terjadi penurunan kualitas dan kuantitas habitat satwa liar. 

Dengan demikian, Team Herpetologi OWA melakukan pengambilan data lapangan di kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK), Kecamatan Cicalengka selama 7 hari pada tanggal 23-29 Juli 2024. Kegiatan penelitian dimulai dengan survei pendahuluan yang dilakukan guna mengetahui keadaan habitat serta dapat menentukan lokasi mana yang berpotensi ditemukannya Herpetofauna.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Visual Encounter Survey (VES) yang dimodifikasi dengan metode line transect disekitar sungai. Metode Visual Encounter Survey (VES) merupakan metode pengambilan data sistematik dengan tujuan untuk menentukan keanekaragaman jenis pada suatu lokasi (Rofiq et al., 2021). Jalur transek yang digunakan berjumlah dua, mencakup penyusuran Sungai Cimulu dan bantarannya dengan masing-masing sepanjang 250 meter.

 Transek satu dan dua memiliki beberapa perbedaan karakteristik yaitu transek satu terletak pada daerah dengan vegetasi yang cenderung terbuka, dekat dengan lokasi manusia beraktivitas, dan memiliki jalur yang lebih landai. Sementara Transek dua pada daerah dengan vegetasi yang cenderung tertutup, jarang digunakan sebagai tempat manusia beraktivitas, dan jalur yang lebih terjal. Ketiga hal ini dapat mempengaruhi keberadaan herpetofauna dan kemudahannya untuk masuk dalam jangkauan pandang pengamat.

Jumlah amfibi dan reptil yang ditemukan di Taman Buru Masigit Kareumbi sebanyak 12 jenis. Dari jumlah tersebut, 8 jenis amfibi berasal dari 4 famili yang berbeda, yaitu famili Megophryidae (1 jenis), Ranidae (3 jenis), Dicroglossidae (3 jenis), dan Rhacophoridae (1 jenis). Sedangkan sebanyak 4 jenis reptil berasal dari 3 famili yaitu Agamidae (2 jenis), Gekkonidae (1 jenis), dan Colubridae (1 jenis). Jumlah seluruh individu yang ditemukan di kedua transek sebanyak 117, pada transek satu ditemukan sebanyak 98 individu dan pada transek dua ditemukan sebanyak 19 individu. Dari hasil yang diperoleh ditemukan lebih banyak individu yang ditemukan pada transek satu dibandingkan dengan transek dua. 

Perbedaan komposisi jenis dapat terjadi dikarenakan pada transek satu terletak pada daerah dengan vegetasi yang cenderung terbuka dan landai sehingga hal tersebut lebih ideal bagi herpetofauna khususnya yang berjenis reptil karena akses sinar matahari pagi untuk berjemur lebih mudah masuk, daerah yang terbuka dan lebih terang juga membuat herpetofauna jauh lebih terlihat dan mudah ditangkap. Sedangkan pada transek dua terletak pada daerah dengan vegetasi yang lebih tertutup dan jalur yang lebih terjal dibandingkan dengan transek satu, hal tersebut kurang ideal untuk herpetofauna berjenis reptil sebagai tempat berjemur di pagi hari, lokasinya yang jauh dari badan air secara vertikal maupun horizontal membuat kemungkinan menemukan herpetofauna berjenis amfibi lebih rendah.

 Selain data yang diperoleh di dalam transek, selama penelitian ini ditemukan keberadaan herpetofauna lain di luar transek. Reptilia yang ditemukan adalah Bronchocela jubata, Calamaria lumbricoidea, Eutropis multifasciata, Oligodon purpurascens, Sibynophis geminatus, Gongylosoma baliodeirum dan Amfibi yang ditemukan adalah Rhacophorus reinwardtii yang memiliki status IUCN Near Threatened. Berdasarkan data tersebut, membuktikan bahwa masih banyak herpetofauna yang dapat ditemukan di Taman Buru Masigit Kareumbi di luar Transek pengamatan, sehingga diharapkan penelitian selanjutnya akan lebih banyak menemukan spesies herpetofauna di kawasan tersebut. 

Melalui penelitian ini, kami berharap dapat menjadi acuan serta motivasi untuk terus menjaga lingkungan serta melakukan konservasi terhadap hewan-hewan reptil, amfibi dan lainnya. Kami juga berharap lingkungan Taman Buru Masigit Kareumbi (TMBK) terus terjaga agar dapat menjadi habitat yang nyaman bagi seluruh flora dan fauna yang terdapat didalamnya. Penelitian ini juga dapat digunakan untuk tujuan edukasi dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai basis data untuk penelitian lanjutan.

Daftar Pustaka

Gunawan, D. A., Wijayanti, Q. F. C., Tama., F. E., Arif, I. M., dan Rahmajati., R. R. D. 2024. Keanekaragaman Jenis Herpetofauna di Kawasan Gunung Tilu,  Kuningan, Jawa Barat. BIOSFER: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 9(1): 21-25.

Hanifuddin, A. S., Aini, K., Suwartiningsih, N. (2022). Morphometric Variations of Chalcorana chalconota (Schlegel, 1837) in Four Populations in Jatimulyo Kulon Progo. Journal of Biotechnology and Natural Science, 2(2) : 70-76

Riyanto A. 2011. Herpetofaunal community structure and habitat associations in Gunung Ciremai National Park, West Java, Indonesia. Biodiversitas 12 (1): 3844.

Riyanto, A., Sulaeman, T. N., Rachman, N., Chaidir, D. M., Trilaksono, W., Farajallah, A. (2019). Short Communication: Herpetofauna diversity, potential ecotourism in Mount Galunggung, West Java, Indonesia. Biodiversitas, 20 (4): 1173-1179. 

Rofiq, M. A., Usman, U., & Wahyuni, I. 2021. Keanekaragaman Amfibi (Ordo Anura) Berdasarkan Tipe Habitat Di Taman Wisata Alam Pulau Sangiang. In Seminar Nasional Biologi, 9: 202-213.