
Penulis: Lovely Tiara (2024)
Disunting oleh: Arivia Mutiara Syahira (2023)
Gurita (Octopus) dikenal sebagai salah satu invertebrata paling cerdas, dan hal ini didukung
oleh struktur sistem saraf serta kemampuan perilakunya yang sangat kompleks. Berdasarkan
sumber yang kamu berikan, kecerdasan gurita terutama berasal dari sistem saraf yang besar,
terdistribusi, dan sangat fleksibel. Gurita memiliki sekitar 300–500 juta neuron, dengan
sebagian besar justru berada pada lengan, bukan di otak pusat (Zullo & Hochner, 2011). Setiap
lengan memiliki jaringan saraf lokal yang mampu melakukan kontrol motorik secara semi-otonom,
memungkinkan gurita melakukan gerakan yang sangat halus, fleksibel, dan responsif terhadap
lingkungan. Distribusi neuron ini menciptakan bentuk kecerdasan yang tidak hanya bergantung
pada otak, tetapi juga pada tubuh secara keseluruhan (Gutfreund, 2018).
Selain sistem saraf yang unik, gurita memiliki sistem sensorik yang kaya. Sumber Octopus
Consciousness: The Role of Perceptual Richness menjelaskan bahwa gurita memiliki kombinasi
kemampuan visual, kimia, taktil, dan proprioseptif yang membuatnya mampu memproses
informasi lingkungan secara mendalam. Mata gurita memiliki resolusi tinggi, sementara alat isap
pada lengan mengandung reseptor kimia yang peka terhadap rangsangan kimiawi dan mekanis
(Gutfreund, 2018). Sensorik yang beragam ini berperan penting dalam navigasi, pencarian mangsa,
serta pengambilan keputusan.
Kemampuan problem solving gurita didukung oleh struktur kognitif yang fleksibel. Dalam
penelitian Pull or Push? Octopuses Solve a Puzzle Problem, tujuh individu Octopus vulgaris
berhasil menyelesaikan puzzle berupa wadah berbentuk L yang harus ditarik melalui lubang
sempit untuk mendapatkan makanan. Meskipun tingkat kesulitan meningkat pada tiap tahap—
mulai dari perubahan orientasi objek hingga penggunaan penghalang buram—semua gurita
mampu beradaptasi dan mencapai tingkat keberhasilan tinggi setelah mempelajari pola gerakan
yang tepat (Richter et al., 2016). Penelitian ini menunjukkan bahwa gurita tidak hanya
mengandalkan trial-and-error, tetapi juga mengembangkan strategi yang dapat disesuaikan.
Beberapa individu menunjukkan gaya pemecahan masalah yang berbeda, menandakan
adanya variasi perilaku dan bentuk “kepribadian” antar individu. Selain itu, keberhasilan gurita
dalam mempelajari tugas baru membuktikan bahwa mereka memiliki memori jangka pendek dan
panjang yang baik serta kemampuan untuk menggeneralisasi pola baru. Secara keseluruhan,
kecerdasan gurita merupakan hasil gabungan antara sistem saraf terdesentralisasi, kemampuan
sensorik yang kaya, dan fleksibilitas perilaku. Gurita mampu mengubah strategi ketika
menghadapi tantangan baru, menyesuaikan aksi motorik dengan cepat, dan memanfaatkan
berbagai modalitas sensorik dalam memecahkan masalah. Dengan demikian, gurita adalah contoh
penting mengenai bagaimana kecerdasan dapat berevolusi dalam bentuk yang sangat berbeda dari
vertebrata, namun tetap menghasilkan kemampuan kognitif tingkat tinggi.
Referensi
Richter, J. N., Hochner, B., & Kuba, M. J. (2016). Pull or Push? Octopuses Solve a Puzzle
Problem. PLOS ONE, 11(3).
Gutfreund, Y. (2018). Octopus Consciousness: The Role of Perceptual Richness. MDPI.
Zullo, L., & Hochner, B. (2011). Octopuses: Biological Facts and Technical Solutions. IEEE